Keraguan pada rasionalitas bukan barang baru. Dalam sejarah ide-ide, sudah biasa ada momen untuk mengkritik keyakinan bahwa rasionalitas pada dirinya bisa secara memadai memahami dan mengatasi permasalahan dunia, terkhusus tentang manusia. Kritik ini bukan sembarangan dan bisa dirujuk akarnya pada pengalaman pertumbuhan kepribadian setiap orang.
Seorang balita mengenali dunia di luar dirinya tidak dengan menggunakan nalarnya secara penuh -sebab jelaslah itu masih dalam tahap perkembangan. Ia belum mempelajari suatu obyek dengan mengkategorisasikan dan mengabstraksikannya menjadi suatu konsep dan nama. Inilah pentingnya “obyek-transisional”: seperti kanak-kanak yang menggigit selimut, memeluk boneka, menyentuh, menetek, dan mencicipi apa saja, bahkan kalau itu berbahaya bagi kesehatannya. Ia selalu mulai dari impuls-impuls dari tubuhnya, lantas dari ketertarikan emosional. Apabila suatu barang yang ia sentuh, tidak berbahaya, tetapi justru terasa nyaman, secara sentimentil ia akan percaya dan membawanya kemana pun ia pergi.
Impuls terberi sejak ia dilahirkan; emosi dan sentimen “dipelajari” melalui serangkaian pengalaman. Pengenalan mula-mula atas obyek terjadi hanya atas dasar suka dan tidak suka; nyaman atau ancaman. Persis impuls, emosi, dan sentimen paling dahulu berkembang, setelah melalui serangkaian proses evolusi yang memakan waktu ribuan tahun, karena sangat penting bagi spesies ini untuk bertahan hidup.
Nalar tentu saja penting, tetapi bukan perangkat penting bagi manusia untuk bisa bertahan hidup secara individual. Ancaman-ancaman dunia tidak memberikan waktu yang cukup bagi “rasa ingin tahu dan berpikir kritis nan njelimet”. Namun bersamaan dengan impuls tubuh, emosi, dan sentimen, nalar berkontribusi bagi manusia secara khusus untuk membuat jejaring hidup dalam suatu komunitas. Seni, bahasa, agama, sejarah kolektif, sains, adalah hasil nalar yang ditopang oleh kemampuan-kemampuan lainnya. Saya melukis dengan nalar; mengabstraksikan anatomi dan landskap, memperhitungkan kombinasi warna, tetapi juga dengan emosi dan preferensi sentimental pada obyek tertentu yang menarik.
Dalam hidup berkelompok, suatu komunitas saling berbagi aliran sentimentil, maka munculah rasa memiliki terhadap entitas yang diimajinasikan bersama. Lihat saja fanatisme suporter bola atau kebanggaan sampai mempertaruhkan nyawa demi bangsa dan negara. Imajinasi itu memang kemudian diwariskan melalui narasi-narasi yang disusun dengan nalar, tanpa mengenyahkan sama-sekali rasa sayang, rasa kebanggan, dan berbagai ungkapan emosional-sentimentil lainnya.
Segala-galanya yang dikembalikan pada rasionalitas sebagai primadona adalah sebentuk juga “cara berpikir deterministik”. Pertimbangan manusia tidak bekerja seperti pikiran yang merasa cukup diri seperti Cogito dari Descartes, yang kemudian dikritik oleh kaum romantis dan fenomenologi. Kita berpikir dengan tubuh yang di dalamnya ada dorongan-dorongan kuat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. Adalah mustahil seseorang bisa melokalisir rasionalitas dari gejolak emosi dan aliran sentimen. Atau mungkin kita perlu kembali pada wacana mitis Platon: konsep antropologis yang ia ajukan, secara khusus dalam mitos Kereta Kuda Bersayap, bukan bermaksud mengglorifikasi nalar, melainkan menunjukkan pentingnya keseimbangan antara nalar, hasrat badaniah, emosi, dan sentimen.
Adalah bukan hal baru karena akarnya dari dunia Yunani. Serasional apapun para filsuf Yunani, mereka tetap mengakui adanya hal-hal yang begitu mempengaruhi mereka dan di luar kemampuan nalar: entah itu nasib bintang-bintang, permainan dewa-dewa, atau pertarungan dorongan-dorongan di dalam jiwa-tubuh mereka. Konsep individu yang paling matang masuk dunia Barat melalui konsep interioritas Agustinus, tidak membuat para pemikir berani menghapus adanya daya-daya non-rasional yang begitu kuat, olehnya rasionalitas bahkan tidak jarang kalah. Itulah hasrat badaniah, seperti paling nampak dari “rasa jijik khas Agustinus” pada seks.
Cara berpikir non-deterministik -tidak terpaku pada satu dimensi antropologis- ekuivalen dengan kenyataan dunia, bahwa ada hal-hal yang di luar kendali rasionalitas. Mengakui ada faktor-faktor deterministik yang kita terima begitu saja dan membatasi diri kita untuk tidak bisa menjadi roh murni semacam malaikat bukanlah berpikir secara deterministik. Itu adalah cara memikirkan antropologi yang subtil dan berhati-hati pada kontingensi kenyataan. Orang boleh menyebutnya, takdir, fortuna, kutukan, dosa, duri dalam daging, faktisitas, gen, dst. Singkatnya, kita punya keterbatasan yang tak bisa dihindari.
Apakah sentimen dan identitas buruk? Bisa iya, bisa tidak. Pada 1998, massa “gelap mata”, dengan emosi tak terkendali, membabi buta melakukan penjarahan, penganiayaan, bahkan pembunuhan terhadap etnis Tionghoa. Di mana rasionalitas pada saat itu? Atau, suporter Arema dan Persebaya, Persib dan Persija, yang sudah sering bertempur, bisa bernyanyi kompak “Indonesia Raya” saat melawan tim Malaysia. Secara tidak sadar, para suporter ditarik untuk untuk ikut masuk dalam aliran sentimen di Stadion Sepak Bola: suatu rasa kebangsaan (rasa, bukan konsep!) menemukan musuh bersama. Apakah alasan rasional yang pertama-tama menarik mereka? Bukan. Mereka merasa sama sebagai bagian dari “masyarakat Indonesia”, suatu konstruksi kolektif-imajinatif yang sebenarnya tidak bisa dibuktikan eksistensinya secara obyektif. Sentimentil, dan bukan rasional belaka bukan?
Aspek emosi dan sentimental, serta imajinasi inilah yang juga menjadi kekhasan dari studi post-kolonialis. Suatu resistensi terhadap narasi besar kolonialisme dan humanisme Barat yang menjunjung tinggi rasionalitas dioperasikan melalui suatu produk bahasa, karya seni dan sastra yang mengamplifikasi rasa kebanggaan dan sentimentalitas pada lokalitas. Apa yang dikenal dengan produk-produk Hybrid dari masyarakat-masyarakat terjajah adalah strategi politik yang membuat retakan pada suatu pemisahan tegas antara kerapian rasionalitas (kolonialis) dan eksotika dari ungkapan emosi-sentimental-gairah (masyarakat terjajah).
Apakah dengan dengan demikian rasionalitas tidak penting? Tentu penting, tetapi tidak lagi seperti cogito yang mendengkur dalam pikirannya sendiri, juga bukan seperti roh absolut yang melayang-layang menghakimi gairah-gairah kebudayaan. Ia penting sejauh bergantung juga pada impuls, emosi, dan sentimen. Politik kita di Indonesia, dalam arti ini, adalah orkestrasi dan seni mengelola kemungkinan dari berbagai daya produktif dan merusak dari nalar, impuls, emosi, dan sentimen. Kalau seni perlawanan pada kekuasaan politik yang korup hanya mengandalkan rasionalitas, akan ada yang luput: bahwa manusia bukanlah nalarnya saja. Politik yang paling mutakhir ditemukan dalam spesies yang bernama manusi, bukan?