BAB KEDUA: FALIBILISME EPISTEMOLOGIS
Dario Antiseri
«Tidak ada otoritas dari pihak manusia di dalam forum para pencari kebenaran; dan siapapun yang mencoba untuk menjadi seorang hakim akan diolok-olok oleh para dewa». Sama seperti yang disampaikan oleh Karl Popper, Albert Enstein juga menyampaikan suatu pesan epistemologis: «Seluruh pengetahuan kita tetap dapat salah, konjektural […] Sains dapat salah karena dilakukan oleh manusia». Lagipula: menghindari kesalahan – seru Popper – adalah suatu impian yang mengada-ada; karena ketika kita berhadapan dengan persoalan-persoalan yang rumit, mudahlah kita untuk membuat kesalahan; yang terpenting adalah – dan ini lebih manusiawi – mengenali kesalahan-kesalahan kita. Kesalahan yang dikenali dan dienyahkan merupakan sinyal merah yang redup tetapi memungkinkan kita untuk keluar dari gua ketidaktahuan kita.
Penelitian saintifik – dimana pun dipraktekkan – selalu berhubungan dengan solusi dari persoalan-persoalan. Lantas untuk menyelesaikan persoalan kita memerlukan ide-ide (idee). Tentu saja, terdapat ide-ide baru dan bisa banyak ; akan tetapi ada sedikit ide-ide yang baru dan baik untuk menyelesaikan persoalan. Jalan satu-satunya untuk menyeleksi ide-ide yang baik di antara ide-ide baru (dan tua) yang diajukan untuk menjelaskan “fakta-fakta yang mengejutkan” – jalan ini ditempuh dengan pengujian teori-teori yang ada berdasarkan konsekuensi-konsekuensi yang “teramati”. Sebuah teori tergantung pada isinya; isi dari suatu teori adalah konsekuensi-konsekuensinya; oleh karena itu, dari sebuah hipotesis atau teori yang diajukan, kita akan mengenali konsekuensi-konsekuensi logisnya, dan menguji sejauh mana konsekuensi-konsekuensi ini sesuai atau tidak dengan “fakta-fakta” mengenai hal-hal yang dijelaskan dan diprediksi dari waktu ke waktu. Jika suatu teori terkonfirmasi, maka itu diterima sampai dibuktikan kebalikannya; sebaliknya, jika beberapa konsekuensinya bertabrakan denga napa yang pada saat itu dianggap sebagai “fakta-fakta”, teori tersebut ditolak – karena telah ditunjukkan keliru, terfalsifikasi. Sebagaimana selalu dikatakan: contra factum non valet argumentum (argumen melawan fakta tidak sah) – dengan tetap menyadari bahwa fakta-fakta tidaklah sakral, sejauh suatu fakta di dalam sains selalu merupakan proposisi, suatu hipotesis yang diinterpretasikan dari beberapa potong atau aspek dari realitas. Dan tak perlu dikatakan lagi bahwa setiap pengujian sejati tentang suatu teori dilakukan dalam suatu upaya untuk memfalsifikasinya. Di dalam sains, sebagaimana di dalam kehidupan, pembuktian ditemukan di tempat seseorang mengambil resiko: di sana seseorang beresiko untuk berbuat kesalahan. Akibatnya, ada suatu logika asimetris antara penegasan dan pembatalan dari sebuah teori: bermilyar-milyar penegasan tidak memberikan kepastian suatu teori, sedangkan hanya satu fakta yang bertentangan secara logis meruntuhkannya. Oleh karena kita tidak bisa menunjukkan kepastian mutlak dari suatu teori, juga kalau pun lebih terkonsolidasi dengan baik, dari situ kita beranjak untuk menelaah retakan-retakannya, untuk mengamati kekeliruannya – dan sebelum kita menemukan suatu kesalahan dalam suatu teori, jauh sebelumnya keseluruhan dari komunitas perlu menyadari kemendesakan untuk menginventarisasi dan menguji suatu teori yang lebih baik dari teori sebelumnya, yakni suatu teori dengan kemampuan untuk menjelaskan dan memprediksi lebih baik.
Robert Oppenheimer menyatakan: «Fisika melangkah lebih jauh karena tidak melakukan kesalahan yang sama dua kali». Ditambah lagi Popper mengatakan: «Saya berpikir bahwa kesadaran untuk bersikap kritis terhadap ide-ide itu sendiri merupakan satu-satunya perbedaan yang benar-benar jelas di antara metode Einstein dan metode amoeba [suatu metode yang menolak falsifikasi dengan menghindari sebisa mungkin permasalahan yang rumit agar hipotesisnya tetap dapat dibenarkan]». Einstein, persis seperti amoeba, bisa keliru; tetapi, berbeda dengan amoeba, Einstein selalu tergelitik untuk menemukan kekeliruan di dalam teorinya; ia ingin menemukan itu, pergi berburu untuk menangkap itu, demi menyingkirkan kekeliruan itu sedini mungkin. Metode amoeba binasa bersama dengan teorinya yang keliru; Einstein membiarkan teorinya saja yang mati. Dengan demikian, metode khas dari semua penelitian saintifik adalah menghadapi persoalan; mengajukan beberapa ide yang benar-benar matang; menguji seserius mungkin solusi-solusi yang diajukan; membuang teori-teori yang tidak mendukung kritik; menerima dari waktu ke waktu teori yang lebih baik dari lainnya karena tahan terhadap pengujian-pengujian – akan tetapi tanpa memberangus kepungan [kritik] terhadapnya. Fisikawan John Archibald Wheeler pernah menegaskan bahwa «seluruh persoalan kita terletak pada melakukan kesalahan-kesalahan sedini mungkin». Pengetahuan manusia bertumbuh di atas kesalahan-kesalahan sebagai suatu harta karun yang berharga. Seperti Alfred North Whitehead katakan: «Kepanikan terhadap kesalahan adalah kematian dari kemajuan». Lagipula sebagaimana diserukan Oscar Wilde, «Pengalaman adalah sebutan yang kita berikan pada kesalahan-kesalahan yang kita perbuat». Akhirnya, John Stuart Mill mengatakan: «Keyakinan kita yang paling berharga tidak memiliki jaminan lain untuk bersandar selain ajakan yang tegas ke seluruh dunia untuk menunjukkan keyakinan-keyakinan tersebut tidak berdasar».
Dengan tepat dikatakan, Fallibilisme epistemologis – yakni kesadaran bahwa pengetahuan-pengetahuan kita selalu dapat dibatalkan – inilah suatu pengandaian mendasar dari pemikiran libertarian. Tidak seorang pun bisa mengklaim dirinya memiliki suatu kebenaran rasional dan mutlak untuk dipaksakan pada orang lain. Secara rasional kita hanya bisa bekerja sama – melalui kritik terhadap teori-teori saat itu dan jawaban-jawaban alternatif terhadapnya – demi mencapai teori-teori yang lebih baik. Mereka yang berperilaku sebagai libertarian, tulis Popper, bersedia mengakui bahwa: «Saya bisa salah dan anda bisa benar, tetapi melalui suatu upaya bersama kita bisa mendekatkan diri pada kebenaran». Dan tepatlah yang dikatakan Luigi Einaudi: «Keunggulan dari pemerintahan-pemerintahan yang bebas dalam kaitannya dengan pemerintahan-pemerintahan tirani terletak persis pada kenyataan ini, yakni dalam rezim kebebasan, diskusi dan tindakan berproses melalui metode yang memungkinkan percobaan-percobaan dan belajar dari kesalahan-kesalahan. Trial and error merupakan lambang keunggulan dari metode-metode kebebasan terhadap metode-metode tirani. Sang Tiran tidak memiliki keraguan dan menjalankan hukum berdasarkan kemauannya; sekalipun kemauan tersebut mambawa bangsanya kepada kehancuran». Seorang dokter yang tidak rasional mempertahankan hasil diagnosisnya sekalipun beresiko membuat pasiennya meninggal; sedangkan dokter yang rasional, demi menyelamatkan pasiennya, membinasakan – yang disebut sebagai falsifikasi—, dan menyingkirkan diagnosis-diagnosis secara bertahap dari satu diagnosis ke diagnosis yang lain sampai bisa menemukan suatu diagnosis yang tepat.
Jika saya tahu bahwa saya bisa keliru dan jika anda menyadari potensi anda untuk dapat keliru dan jika kita memang benar-benar peduli untuk menyelesaikan persoalan-persoalan, maka saya akan menunggu dengan cemas tanggapan-tanggapan alternatif dan kritik-kritik dari anda; dan kamu akan berterima kasih atas tanggapan-tanggapan alternatif saya terhadap usulan-usulanmu dan atas kritik-kritikmu. Singkatnya: kita akan berdiskusi, dan diskusi adalah jiwa dari demokrasi.
(Dario Antiseri, Principi Liberi, Rubbettiono editore, Soveria Mannelli, 2003, pp. 15-19)