BAB PERTAMA: INDIVIDUALISME SEBAGAI METODE
Dario Antiseri
“Hanya individu yang berpikir; hanya individu yang bernalar; hanya individu yang bertindak” (Ludwig von Mises)
Sang pembela kebebasan menolak ide yang mengancam kebebasan, yang meyakini bahwa di atas individu ada suatu entitas lain yang mandiri dan tidak bergantung dari individu-individu seperti negara, partai politik, atau kelas sosial. Menjadikan konsep-konsep kolektif tersebut substansi dan menjadikannya semacam kenyataan merupakan suatu godaan yang gampang untuk dipercaya. Terhadap godaan yang mengancam kebebasan itulah para wakil dari tradisi individualisme yang terkemuka mengambil posisi untuk melawan.
Carl Menger (1840-1921): “Kolektifitas sebagaimana adanya bukanlah suatu subyek raksasa, yang memiliki kebutuhan-kebutuhan, bekerja, sibuk dan bersaing; apa yang disebut “ekonomi sosial” dengan demikian bukanlah aktifitas ekonomi dari suatu masyarakat, dalam arti yang sebenarnya dari kata itu. Ekonomi sosial bukanlah suatu fenomen yang analogis dengan ekonomi dari setiap individu, yang sistem keuangan juga termasuk di dalamnya, juga bukanlah sesuatu yang saling bertentangan atau berdampingan dengan ekonomi dari setiap individu.” Dalam bentuk gejalanya yang paling umum, ekonomi sosial merupakan suatu keragaman yang sama sekali khas dari ekonomi-ekonomi dari setiap individu.
Max Weber (1864-1920): “Jika pada akhirnya saya telah menjadi sosiolog […] terutama dengan menempatkan titik akhirnya pada tindakan-tindakan yang didasarkan atas konsep-konsep kolektif, yang momoknya selalu mengintai. Dalam istilah lainnya, sosiologi tidak bisa berproses selain dari tindakan-tindakan dari seorang individu tunggal, dari beberapa individu, atau dari sejumlah besar individu-individu. Dan inilah motif dari suatu ekonomi sosial harus menerapkan metode-metode yang secara ketat “individualistik”.
Georg Simmel (1858-1918): “Bahwa tentu saja tidak ada selain individu-individu, bahwa produk-produk manusia memiliki realitas di luar dari manusia hanya jika berasal dari alam material, dan bahwa ciptaan-ciptaan yang kita bicarakan, sekalipun bersifat spiritual, tidak hidup selain di dalam intelek-intelek dari setiap pribadi. Jika hanya ada individu-individu, lantas bagaimana menjelaskan karakteristik dari [entitas/entitas] di atas individu-individu dari fenomen-fenomen kolektif, obyektifitas dan otonomi dari bentuk-bentuk sosial? Tidak akan ada selain suatu metode untuk memecahkan persoalan otonomi ini. Demi suatu pemahaman yang tepat, harus diyakini bahwa tidak ada selain individu-individu.”
Ludwig von Mises (1881-1973): “Rangkaian sejarah ditentukan oleh tindakan-tindakan individu dan oleh akibat-akibat dari tindakan-tindakan ini. Hanya individu yang berpikir; hanya individu yang menalar; hanya individu yang bertindak; sehingga sebagai konsekuensinya, demi tujuan-tujuan dari ilmu pengetahuan, kita harus bertolak dari tindakan individu karena kita memiliki pengetahuan secara langsung hanya dari tindakan tersebut. Suatu masyarakat yang akan beroperasi atau akan mengejawantahkan dirinya terlepas dari tindakan setiap individu adalah suatu ide yang absurd.”
Friederich A. von Hayek (1899-1992): “Siapa yang menolak untuk berangkat dari konsep tentang subyek yang dengannya tindakan-tindakan dari setiap individu ditetapkan, secara teratur jatuh […] persis pada kesalahan pada apa yang ia tolak sendiri; berakhir dengan memperlakukan agregat-agregat tertentu yang sekedar abstraksi dan generalisasi populer sebagai entitas riil.”
Karl. R Popper (1902-1994): “Berbicara tentang masyarakat sangatlah menyesatkan. Tentu saja seseorang dapat menggunakan sebuah konsep seperti masyarakat atau tatanan sosial; tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa itu hanyalah suatu konsep untuk membantu [suatu penjelasan). Apa yang ada sesungguhnya adalah manusia, entah baik, entah jahat -kita berharap bahwa jenis yang terakhir tidak terlalu banyak – bagaimanapun juga manusia, sebagian dogmatis, sebagian kritis, sebagaian pemalas, sebagian rajin, atau lainnya. Inilah yang sungguh-sungguh nyata. Ada manusia yang menciptakan, menyampaikan dan merubah ide-ide berdasarkan tindakan-tindakannya dengan menghasilkan konsekuensi-konsekuensi yang disengaja dan tidak disengaja. Manusialah yang bereksistensi, tetapi masyarakat tidak. Sebaliknya orang-orang mempercayai eksistensi suatu masyarakat dan sebagai akibatnya, menyalahkan segala sesuatu pada masyarakat atau pada tatanan sosial.” Inilah yang dikatakan Popper, “salah satu kesalahan terburuk adalah percaya bahwa sesuatu yang abstrak itu konkrit. Ini merupakan ideologi yang buruk.”
Dan berikutnya, pemikiran dari dua tokoh Katolik dan dari seorang sekularis: Frédéric Bastiat dan Romo Projo Luigi Sturzo, serta Norberto Bobbio.
Frédéric Bastiat: “Kita mengalami kesulitan untuk memahami apa yang digambarkan dengan kata “Negara”. Kita percaya bahwa dalam mempersonifikasikan negara terus-menerus terdapat mistifikasi yang paling aneh dan paling memalukan.”
Luigi Sturzo: “Posisi saya jelas: membantah ‘para sosiolog’ semacam Durkheim, yang menjadikan masyarakat suatu entitas pada dirinya, juga membantah ‘para institusionalis’ semacam Haurion, yang menjadikan institusi suatu entitas pada dirinya, juga melawan para organisatoris di sepanjang zaman, yang membuat organ-organ sosial menjadi entitas-entitas pada dirinya. Saya berpendapat bahwa masyarakat secara konkrit adalah koeksistensi dari para individu yang secara sadar saling bekerja sama demi suatu tujuan bersama, dan bahwa baik masyarakat, demikian juga institusi-institusi, maupun organ-organ di dalamnya bukanlah suatu quid tertium (realitas ketiga), suatu hipostasis yang hidup, suatu kenyataan yang terpisah dari kenyataan para individu yang terasosiasi dan beroperasi pada suatu tujuan bersama […] Siapa yang bertindak dan siapa yang menderita adalah para individu yang berasosiasi.”
Norberto Bobbio: “Singkirkanlah suatu konsepsi individualistis dari masyarakat. Engkau tidak akan mampu lagi menjustifikasi demokrasi sebagai suatu bentuk pemerintahan.”
(Dario Antiseri, Principi Liberi, Rubbettiono editore, Soveria Mannelli, 2003, p. 9-12)