BAB KETIGA: POLITEISME NILAI-NILAI
Dario Antiseri
«Sains hanya bisa memastikan apa adanya sesuatu tetapi bukan apa yang seharusnya ada, dan di luar cakupan keilmuannya pastilah ada telaah atas nilai dari setiap orang» (Albert Einstein)
Pertama-tama, beberapa refleksi tentang apa yang tidak dapat disimpulkan secara logis dari pernyatan-pernyataan preskriptif oleh pernyataan-pernyataan deskriptif mesti dipaparkan.
Henri Poincaré : «Tidak mungkin ada moral saintifik, tetapi juga tidak mungkin ada sains yang tak bermoral. Alasannya cukup sederhana, karena – bagaimana merumuskannya ? – murni berdasarkan gramatika. Jika premis-premis dari suatu silogisme seluruhnya dan keduanya bersifat indikatif, kesimpulannya juga akan indikatif. Agar kesimpulan bisa menjadi imperatif harus ada sekurang-kurangnya salah satu dari dua premis yang imperatif. Sekarang, prinsip-prinsip saintifik, postulat-postulat dari geometri tidak bisa selain bersifat indikatif, kebenaran-kebenaran dalam eksperimen seluruhnya bersifat indikatif dan berdasarkan cara kerja sains tidak bisa menjadi lain. Oleh karena itu, seorang ahli dialektika yang paling subtil sekali pun akan mampu melakukan, dengan prinsip-prinsip itu, semua akrobat yang ia yakini, dengan menggabungkan dan mengaitkan antara prinsip yang satu dengan yang lain ; sehingga semua hal yang anda hasilkan akan bersifat indikatif. Anda tidak akan pernah menghasilkan suatu proposisi yang akan mengatakan : Lakukanlah ini, jangan lakukan itu, yang sama halnya dengan mengatakan suatu proposisi mana yang sesuai dan yang bertentangan dengan nilai moral. Kesulitan inilah yang para moralis alami sejak dari dulu. Mereka berupaya membuktikan hukum-hukum moral ; dan mereka harus dimaklumi karena itulah yang menjadi tugas mereka ; Mereka ingin menyandarkan moral pada sesuatu apapun yang bisa jadi sandaran asalkan bukan dirinya sendiri ! […] Setiap moral dogmatis, setiap moral yang didemonstrasikan pastilah gagal sseolah-olah seperti suatu mesin yang memiliki semua transmisi dari gerakan tetapi kekurangan energi untuk menggerakkan. Motor penggerak moralitas, yang mampu menggerakkan semua perangkat penghubung dan roda gerigi, tidak bisa selain menjadi suatu sentimen».
Albert Einstein : «Sains […]hanya bisa memastikan sesuatu yang senyatanya ada tetapi bukan sesuatu yang seharusnya ada, dan di luar cakupan keilmuannya pastilah ada telaah atas nilai yang dihayati oleh setiap orang»
Max Weber : «Dokter berupaya dengan seluruh daya upaya untuk menyelamatkan hidup dari mereka yang sedang sekarat, bahkan apabila mereka meminta agar diakhiri saja hidupnya […]. Ilmu medis tidak mengajukan pertanyaan tentang bagaimana dan sejauh mana kehidupan memang layak untuk dihayati. Semua ilmu-ilmu alam memberikan suatu jawaban pada pertanyaan tersebut : Apa yang harus kita lakukan apabila kita ingin secara teknis mengendalikan hidup ? Namun apabila kita ingin dan harus mengendalikannya secara teknis, bahkan jika hidup, secara definitif, sungguh-sungguh memiliki sebuah makna, sains membiarkan seluruh makna itu ditangguhkan atau mengandaikannya demi tujuan-tujuan dari sains.»
Hans Kelsen : «Dalam Injil Yohanes bab 18 dikisahkan proses pengadilan Yesus. Dengan cara penjelasannya yang mudah dipahami suatu cerita yang sederhana merupakan suatu karya sastra yang luhur dan, tanpa disengaja, itu membawa kita pada symbol tragis tentang pertentangan antara absolutism dan relativisme. “Pada hari Paskah Yahudi saat Yesus, didakwa karena mengaku dirinya sebagai anak Allah dan raja orang-orang Yahudi, dibawa ke hadapan Pilatus, sebagai prefek pemerintahan Romawi. Kepada Yesus yang di mata pemerintahan Romawi hanyalah orang gila yang malang Pilatus secara ironis bertanya: ‘Jadi, apakah engkau raja orang Yahudi?’ Akan tetapi Yesus menganggap pertanyaan itu betul-betul serius, dan disemangati oleh kobaran misi ilahinya, ia berkata: ‘Engkau sendiri yang mengatakan bahwa akulah raja. Untuk itulah aku lahir dan karena itulah aku datang ke dunia: demi memberikan kesaksian tentang kebenaran. Siapa pun yang berasal dari kebenaran mendengarkan suaraku’. Lalu Pilatus bertanya: Apa itu kebenaran? Dan sebagai seorang relativis yang gemar meragukan banyak hal, jelaslah ia tidak tahu arti dari kebenaran mutlak yang diyakini oleh manusia itu [:Yesus], sehingga kemudian tanpa tedeng aling-aling Pilatus mengandalkan prosedur demokrasi dengan cara mempercayakan keputusan dalam penanganan kasus tersebut pada suara terbanyak. Seturut penceritaan Injil, Pilatus beranjak menemui orang-orang Yahudi, lantas berkata kepada mereka: ‘Aku tidak menemukan kesalahan apapun pada dirinya. Akan tetapi kalian memiliki kebiasaan pada masa paskah agar aku membebaskan bagi kalian seorang tahanan. Karena itu apakah kalian ingin aku membebaskan raja orang Yahudi ini? Maka berteriaklah mereka semua dengan berkata: ‘Bukan dia melainkan Barabas!’, yang menurut Injil adalah ‘seorang penjahat’. Bagi mereka yang percaya akan kesaksian tentang kebenaran mutlak dari anak Allah dan raja orang Yahudi tersebut, pengambilan suara itu tentu saja sebentuk suatu kebijakan melawan demokrasi. Terhadap kebijakan ini kita para ilmuwan dan politikus harus menerimanya, tetapi dengan satu syarat: demi memastikan sesuatu yang kita pandang benar dalam politik agar terlaksana, bahkan jika perlu, dengan darah dan dengan air mata, kita mesti memastikan kebenaran kita itu adalah sama dengan memastikan kebenaran dari anak Allah itu».
Karl R. Popper: «Tidaklah mungkin menyimpulkan suatu pernyataan yang mengatakan suatu norma atau suatu keputusan, yakni suatu tanggapan bagi suatu politik, dari suatu pernyataan yang mengatakan suatu fakta [saintifik]; dan ini sepadan dengan mengatakan bahwa tidaklah mungkin menghasilkan norma-norma atau pernyataan-pernyataan atau usulan-usulan dari fakta-fakta». «Jelaslah, tidak mungkin membuktikan kebenaran prinsip etika apa pun atau bahkan berargumentasi untuk mendukungnya dengan cara yang sama seperti ketika kita berargumen tentang suatu proposisi saintifik. Etika bukanlah sains».
Penelaahan-penelaahan sebelumnya merupakan konfirmasi yang sama-sama autoritatif dengan apa yang pernah dikatakan “hukum dari Hume”, yakni suatu tesis yang menyatakan bahwa secara logis tidaklah mungkin menyimpulkan pernyataan-pernyataan preskriptif dari proposisi-proposisi deskriptif. Dan inilah kutipan terkenal yang diambil dari buku ketiga Treatise of Human Nature dari Hume: «Dalam setiap sistem moral yang telah saya geluti, saya selalu memberi catatan bahwa sang pengarang memulainya dengan sedikit cara penalaran yang sudah biasa dilakukan, dan menetapkan eksistensi dari suatu kebaikan, atau memulainya dari observasi-observasi di seputaran urusan-urusan manusiawi; ketika tiba-tiba saja saya mendapati diri saya pada suatu penemuan bahwa, alih-alih menemukan proposisi-proposisi tersebut, yang dijalankan seperti biasanya berdasarkan aturan “adalah ini” dan “bukan ini”, saya malah hanya menemukan bahwa proposisi-proposisi itu berkaitan dengan “harus” dan “tidak boleh”. Perubahan ini tidak terlihat tetapi berasal dari suatu prinsip yang sangat penting. Oleh karena aturan “harus” dan “tidak boleh” ini mengungkapkan suatu hubungan atau afirmasi yang baru, maka harus dikatakan bahwa […] suatu penalaran dikemukakan untuk menerangkan apa yang tampaknya sama sekali tidak terbayangkan, yakni dari suatu cara penyimpulan yang di dalamnya suatu pernyataan baru diturunkan dari pernyataan lain, yang sama sekali tidak berkaitan.»
Kenyataannya, penalaran ini tidak dapat diterapkan, karena proposisi deskriptif hanya dapat disimpulkan dari proposisi deskriptif: Informasi tidak menghasilkan proposisi imperatif. Oleh karena itu, seseorang tidak bisa menyeberang dari “apa yang senyatanya ada” kepada “apa yang seharusnya ada”. Secara singkat, demikianlah bunyi dari hukum Hume, suatu pemisahan tegas antara klaim-klaim indikatif dan klaim-klaim preskriptif, antara fakta-fakta dan nilai-nilai. Jika hukum yang demikian absah, itu membatalkan, dalam wilayah etika, klaim-klaim mendasar dari para pengusung hukum kodrat.
Benedetto Croce mengisahkan bahwa, ketika masih seorang pelajar di Universitas Roma ia diberi kutipan-kutipan yang berbicara tentang hak-hak asasi manusia. Ia terngiang: «Sesudah mempelajarinya selama beberapa minggu saya akhirnya memberanikan diri menghadap seorang professor untuk mengatakan, dengan keraguan dan rasa malu-malu yang hebat, bahwa selama studi saya semakin dituntun untuk mengurangi bobot dari hak-hak tersebut menjadi semakin kecil, dan hanya tinggal satu yang tersisa di tangan saya, dan yang tingal satu-satunya itu, pada akhirnya, entah bagaimana, menghilang entah ke mana». Dan dengan cara inilah kebijaksanaan sejarah mendorong seorang imam dan sejarawan, Muratori, untuk berkata: «Pengalaman membuat kita paham bahwa nalar adalah suatu sebutan yang diungkapkan dengan berbagai macam cara; dan jika Anda bertanya pada dua advokat yang saling bertantangan dan dua hakim yang memiliki pendapat yang bertentangan, setiap dari mereka akan mempertahankan pendapatnya, dengan tetap berdiri pada nalar masing-masing». Namun, terlepas dari semua itu, jelaslah bahwa, sebagaimana ditegaskan oleh N. Bobbio, «Bahkan jika kesepakatan atas apa yang alamiah sudah maksimal, persetujuan bulat tentang apa yang adil dan yang tidak adil tidak secara niscaya berasal dari situ». Lagipula apabila kita melihat secara seksama pada keragaman (yang sudah ada di masa lalu dan sampai sekarang) tentang konsep-konsep mengenai baik dan jahat, terlebih lagi apabila kita mengalihkan pandangan kita pada sejarah peristiwa-peritiwa dan konflik-konflik antar manusia, sepatutnya kita harus mencamkan kata-kata Pascal bahwa «Perampasan, pembunuhan anak-anak atau nenek moyang, semuanya itu ditemukan di antara tindakan-tindakan yang dianggap berkeutamaan»; keadilan tunggal, yang memiliki suatu sungai sebagai pembatasnya! Kebenaran yang ada di wilayah orang-orang Pirenis, suatu kesalahan di tempat lain».
Sejarah tentang peristiwa-peristiwa kemanusiaan memberikan alasan bagi Max Weber ketika menegaskan bahwa «kontras di antara nilai-nilai yang berbeda, yang mengatur tatanan dunia tidak dapat didamaikan». Dan bersama dengan Mill, Weber menambahkan bahwa –selalu dalam wilayah nilai-nilai – «dengan berangkat dari pengalaman semata, seseorang sampai pada politeisme». Dalam kenyataan hidup, terdapat politeisme nilai-nilai karena dari perspektif logika nilai-nilai dan norma-norma etis merupakan usulan-susulan (tentang “hal-hal yang ideal dalam hidup”, tentang tindakan-tindakan “yang benar”, tentang hukum yang “adil”, tentang institusi-institusi “yang sah”, dsb.) dan bukanlah proposisi-proposisi indikatif. Etika tidak menuliskan apa yang senyatanya ada (de-scrivere: menulis seturut), melainkan menulis apa yang sudah ditetapkan/diandaikan sebelumnya (pre-scrivere: sudah terlebih dahulu menulis). Etika tidak menjelaskan dan tidak memprediksi, tetapi menilai. Hanya ada penjelasan saintifik dan penilaian etis. Tidak ada yang Namanya prediksi-prediksi etis (atau estetis). Etika tidak “mengetahui”. Etika bukanlah sains. Etika ada tanpa kebenaran (saintifik).
Jika benar (atau salah) merupakan suatu predikat dari proposisi-proposisi indikatif, dan jika kebenaran adalah suatu atribut dari pernyataan-pernyataan saintifik (dan dari pernyataan-pernyataan indikatif), sains ini – semua sains dan teori deskriptif apa pun, barangkali metafisika – tidak bisa secara logis menghasilkan etika. Lantas berdasarkan penalaran itu tidak bisa dilakukan karena dari proposisi-proposisi deskriptif tidaklah mengkin menyimpulkan pernyataan-pernyataan preskriptif. Sebagai konsekuensinya, dari keseluruhan bangunan sains tidaklah mungkin memeras suatu saripati moral. Semua tindakan berpikir yang dapat dikonseptualisasikan tidak menghasilkan nilai-nilai, juga tidak dapat membatalkannya. Karena itulah Max Weber mempertanyakan: «siapa yang hendak berupaya untuk “menyangkal secara saintifik etika kotbah di atas bukit”, seperti misalkan pada prinsip: “janganlah menolak kejahatan” atau “tentang memberikan sisi pipi yang lain untuk ditampar».
Sains mengetahui (selalu secara parsial dan secara konjektural); etika menilai. Etika tidak mengetahui; sains tidak menilai. Norma-norma (etis dan yuridis) tidak dapat diderivasikan dari pernyataan-pernyataan deskriptif. Karena itu sudah dalam posisi yang benar pada saat Wittgenstein di akhir dari karyanya Tractatus logico-philosophicus, menyatakan bahwa «kita mendengar bahwa jika juga semua pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan oleh sains mendapatkan jawabannya, persoalan-persoalan dari hidup kita juga tidak bakal tersentuh». Lagipula, Weber, dalam satu halaman dari Sains sebagai Profesi, bertanya-tanya apakah maksud dari sains sebagai “panggilan”. Dengan demikian, tulis Weber, «jawaban paling sederhana sudah diajukan oleh Tolstoi melalui kata-kata berikut: Sains itu absurd, karena tidak menanggapi satu-satunya pertanyaan yang penting bagi kita: Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita harus melakukannya?». Di balik pengaruh dari Kant itulah Weber dan Wittgenstein menegaskan tentang eksistensi pertanyaan-pertanyaan (yang teramat penting bagi kita) yang secara prinsipil tidak dapat dijawab oleh sains. Dan bersama mereka Husserl dalam karyanya “Krisis dari ilmu pengetahuan Eropa” setuju bahwa: «Di dalam penderitaan hidup kita […] sains ini tidak memiliki sesuatu apa pun untuk dikatakan. Secara mendasar sains mengecualikan masalah-masalah yang paling akut bagi manusia, yang di tengah masa-masa sengsara kita, merasa terkatung-katung pada nasib; pertanyaan-pertanyaan tentang kebermaknaan dan ketidakbermaknaan dari eksistensi manusia dalam kompleksitasnya.
Akan tetapi sekarang, jika etika bukanlah sains, jika etika bukanlah pengetahuan, jika etika tidak bisa membuat suatu pernyataan saintifik; di titik inilah, ketika persoalan-persoalan dipetakan, segera munculah pertanyaan: Apa yang bisa nalar lakukan dalam etika? Jadi tanpa pergi terlalu jauh, kita menegaskan bahwa nalar di dalam etika bisa melakukan banyak hal. Sebagai contoh, nalar dapat menganalisa dan menetapkan cara-cara yang lebih efektif dan kurang beresiko untuk mencapai tujuan-tujuan yang dipilih dan diinginkan. Etika bisa membantu kita melihat bahwa tujuan-tujuan tertentu tidak dapat direalisasikan pada suatu zaman atau secara prinsipil; juga bisa menunjukkan sejauh mana realisasi dari suatu nilai bisa membuat kita menginjak-injak suatu nilai lain yang juga diterima sebagai suatu hal yang baik (Seperti bisa terjadi pada kasus perbaikan neraca perdagangan dengan mengorbankan lapangan pekerjaan); bisa menyingkirkan ketidaksepakatan-ketidaksepakatan tindak-tanduk yang berasal dari perbedaan-perbedaan keyakinan; bisa mengarahkan untuk menganalisis tentang sejumlah besar altenatif-alternatif dalam penyelasaian masalah etis; bisa memungkinkan kita lebih bertanggung jawab dengan menempatkan diri kita pada akibat-akibat dari pilihan-pilihan kita yang, tentu saja, dirumuskan sebagai “pilihan-pilihan dengan mata terbuka”; bisa membuat kita memahami bahwa etika berdasarkan intensi (fiat iustitia, pereat mundus: terjadilah keadilan, [sekalipun] dunia runtuh) tidak cukup, karena etika semacam itu juga harus memperhitungkannya dengan etika yang menelaah akibat-akibat yang dihasilkan dan dengan etika tanggung jawab (fiat iustitia ne pereat mundus: terjadilah keadilan [bahkan kalau tidak] hancur dunia). Etika berdasarkan intensi “tidaklah memadai secara rasional” apabila tidak mempertimbangkan konsekuensi-konsekuensi tak terhindarkan yang tidak diinginkan dari tindakan-tindakan manusia, juga konsekuensi-konsekuensi tak diinginkan yang bisa menimbulkan akibat-akibat bukan hanya yang berbeda-beda tetapi lebih dari itu bertentangan dengan tujuan yang dimaksudkan dan dikehendaki. Dalam setiap kasus, bagaimana pun juga, soal-soal terpenting yang nalar bisa pikirkan dalam etika terletak dalam membuat kita melihat bahwa etika bukanlah sains dan bahwa nilai-nilai luhur bukanlah “teori-teori” melainkan lebih kepada tanggapan-tanggapan pada kehidupan, ideal-ideal kebajikan yang dilakukan: obyek dari pilihan-pilihan suara hati kita, tantangan-tantangan yang menguji keberanian atau kepengecutan kita. Kenyataannya adalah bahwa suatu norma dibangun, dalam keseluruhan argumentasinya, dengan mengandaikan sekurang-kurangnya norma lainnya; dan ini pun diterima karena diandaikan norma lainnya lagi. Jadi demikianlah seterusnya cara kerjanya, sehingga sampai pada, secara lebih logis, suatu norma (atau pada kumpulan dari norma-norma itu) yang membangun suatu sistem, tetapi norma-norma itu sendiri tidak didasarkan pada apa pun. Norma-norma itu membangun sistem dalam arti bahwa norma-norma lainnya diderivasikan secara logis dari norma-norma, tetapi [yang terakhir] tidak diderivasikan dari lainnya. Itulah norma-norma yang diandaikan, sudah diletakkan sebelumnya pada keseluruhan sistem: hal-hal etis yang diandaikan. Hal-hal etis itu tidak membangun dan menyangkal satu sama lain, tetapi diterima atau ditolak. Dapat dikatakan bahwa hukum Hume adalah dasar logis dari kebebasan suara hati. Nilai-nilai yang luhur adalah obyek pilihan-pilihan suara hati: itu bukanlah teori-teori yang dibuktikan juga bukan aksioma-aksioma “yang sudah jelas dengan sendirinya” dan “yang sudah terbangun dengan sendirinya”
(Dario Antiseri, Principi Liberi, Rubbettiono editore, Soveria Mannelli, 2003, pp. 23-32)