«Tetapi saya lebih mengusulkan kesimpulan dan premis-premis tentang kemungkinan. Sebab ketika hal-hal aktual diputuskan, hal-hal yang mungkin juga diterima, tetapi tidak sebaliknya» [Sed malo de possibili proponere conclusionis et praemissas. Illis quippe de actu concessis, istae de possibili concedentur; non e converso] (Scotus).
Masih percayakah kalian suatu cara menghayati hidup seperti makan daging Wagyu A5, dengan harganya sampai kisaran 4-5 juta/kg, yang dipotong-potong, dipisahkan satu bagian dari bagian lain, dan dimakan dengan penuh kebanggaan karena menandakan suatu kelas elit dari kuliner? Hidup sehari-hari kita nyatanya bukanlah seperti potongan-potongan bagian yang saling terpisah. Hidup setiap orang juga tidak lebih mahal atau lebih murah dari hidup orang lain, seperti barang dagangan, yang ditentukan berdasarkan nilai tukar dan atau nilai lebih. Singkatnya, setiap orang atau setiap komunitas menjalankan kehidupan sosial dan politik tanpa bisa melepaskan diri dari pemahamannya tentang alam dan ekonomi.
Ketika berbicara tentang separasi tegas suatu kehidupan, kita boleh mengingat ideal-ideal Aristoteles, yang membagi pengetahuan menjadi tiga: Teoritis (Metafisika, fisika, dan matematika), praksis (etika), dan teknis (seni, pertukangan, dsb). Matanya jeli untuk memprediksi bahaya mencampuradukkan antara hal-hal yang berubah-ubah (tindakan manusia yang kontingen) dengan hal-hal yang niscaya (ilah-ilah, gerak alam). Kalau kita di abad ke-21 ini masih mendengar sekumpulan orang yang teriak-teriak revolusi dengan mengatasnamakan tuhan, kita sudah menemukan contoh konkrit dari bahayanya “cocokologi pengetahuan”.
Akan tetapi, benarkah ideal-ideal tersebut sejalan dengan kehidupan nyata umat manusia? Sayangnya, tidak. Liberalisme lahir dengan keyakinan metafisik bahwa setiap individu punya hak asasi yang terberi (dari bapak presiden yang ada di Surga). Komunisme adalah utopia sekuler dari eskatologi mesianisme yang mencitakan-citakan suatu revolusi total dunia yang kacau balau kepada suatu masyarakat ideal di masa depan. Fasisme membagi, mirip jenis-jenis daging di The Meat Guy Steak House, hirarki jenis-jenis manusia berdasarkan biologi yang dipaksakawinkan dengan sosiologi. Alih-alih membuat pemisahan tegas di antara tiga aspek pengetahuan manusia, justru ditemukan bahwa antar aspek saling mengkontaminasi dan memengaruhi.
Sekarang bukan lagi sekedar angan-angan, hubungan saling kontaminasi itu dipahami, juga dengan paksaan, dari satu ideologi adikuasa. Berakhirnya perang dingin di penghujung abad ke-20, yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet, menghantarkan kapitalisme ke atas panggung sebagai pemenang. Sejak itu praktis seakan-akan tidak ada lagi cara alternatif untuk menghayati hidup selain berdasarkan “etika tukar-menukar barang dagangan”. Individu manusia yang lebih unggul dari binatang-binatang lain berhak mengoperasikan dunia seturut kata hatinya. Pada gilirannya setiap individu diarahkan untuk terus beroperasi dan dinilai daya gunanya berdasarkan alat-alat yang ia hasilkan. Etika telah menjadi teknik untuk mewujudkan ajaran agama kapitalis: «Lakukan seturut kata hatimu, dan “pasar yang mahaesa” akan menyempurnakan sisanya!».
Namun, sebelum melangkah lebih jauh lagi, pertanyaan ini perlu dicermati secara lebih serius lagi, «Sungguhkah tidak ada alternatif yang bisa kita temukan, mulai dari kehidupan sosial sampai saat kita berak, selain menghayati kapitalisme?» Di antara aturan-aturan yang kepada setiap individu dituntut untuk mengaktualisasikannya, adakah kemungkinan-kemungkinan hidup yang belum teraktualisasi dan bisa dijadikan alternatif? Misalnya saja, ketika demi mengatasi krisis pangan di masa yang akan datang kebijakan politik memutuskan suatu aturan dalam skala besar suatu proyek food estate, selalu ada kemungkinan ditemukan suatu kemungkinan lain untuk mengatasi persoalan tersebut melalui ketahanan pangan dalam ruang lingkup lokal (?).
Kembali pada Aristoteles yang juga memisahkan dalam ranah mental antara kemungkinan dan aktualitas, sehingga keduanya bukanlah subtansi terpisah; juga bukan dua realitas terpisah, melainkan kesatuan utuh dalam suatu realitas. Akan tetapi, marilah kita kembangkan cara berpikir tersebut : Jika suatu kemungkinan tidak dipilih, pilihan itu tentu tidak menjadi aktual, dan jika satu kemungkinan dipilih untuk diaktualisasikan, bukan berarti pada saat yang sama kemungkinan yang lain tidak bisa dipilih. Kita membatalkan satu pilihan dengan menemukan kemungkinan lain yang bertentangan dengan pilihan itu. Dan karena itu kita boleh memodifikasi kata-kata populer «hidup ini adalah kesempatan», menjadi «hidup ini adalah kemungkinan».
Pencarian hidup alternatif bukan pertama-tama ditempuh dengan mempraktekkan secara konkrit pemisahan tegas antara “yang politis, “yang etis”, dan “yang teknis” – karena kenyataannya, sekarang kita hidup dalam “restoran kapitalis” yang menyusun potongan-potongan hidup kita menjadi satu hidangan utuh –, melainkan mencari kemungkinan yang sama sekali lain dari aktualisasi kapitalisme. Atau, dengan tetap dalam “restoran kapitalisme”, tapi ini teramat minimalis, kita bisa menemukan cara menghidangkan hidup kita secara lain sama sekali. Pencarian forma vitae (bentuk hidup) dengan cara-cara penghayatan yang baru dan resisten terhadap pemaksaan satu bentuk kehidupan belaka bukanlah utopia. Kita bisa menemukan komunitas-komunitas lokal yang menghayati hidup alternatif. Sampai di sini, saya ingin beranjak lebih jauh untuk melihat salah satu contoh bentuk kehidupan (bersambung…).