Catatan Awal: Tiga Teddy yang kita bahas hari ini memang nyata. Namun kita hendak membahasnya sebagai suatu paradigma. Paradigma berarti model, pola, atau watak berpikir. Dengan ketiga model ini kita akan membaca kenyataan politik harian kita. Dengan memahami Teddy1-Teddy 2-Teddy 3, kita mau memergoki cara negara ini mengelola warganya.
1) TEDDY PERTAMA ADALAH TEDDY BEAR
Boneka Teddy Bear didefinisikan untuk menghormati sikap mawas diri Theodore Roosevelt, yang memiliki panggilan akrab Teddy. Suatu waktu ketika berburu, Roosevelt menolak menembak seekor beruang liar yang sudah ditangkap dan diikat asistennya karena dianggap tidak etis dan tidak sportif. Clifford Berryman lantas mem-figurasikan beruang liar itu dalam kartun politik di Washington Post menjadi sosok beruang yang lucu dan mungil. Kartun ini menginspirasi Morris Michtom dan istrinya, penguasaha toko permen di Brooklyn, untuk membuat boneka beruang kecil, imut, dan lucu. Namanya Teddy Bear. Kelak boneka ini menjadi mainan yang populer lintas bangsa dan negara.
Boneka dan mainan sejenisnya adalah objek transisional (Donald Winnicott). Objek ini diperlukan sebagai medium bagi anak-anak untuk belajar mengenal dunia luar selain orang tuanya. Ia secara bertahap membantu anak untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua dan mulai mengenal pergaulan dengan teman sepermainan.
Teddy bear adalah paradigma bagi bantalan kekuasaan. Anak bisa memukul Teddy Bear saat marah; memeluknya saat mengantuk; menciumnya saat senang, dsb. Objek transisional menjadi “bantalan” bagi anak untuk memahami dan menguasai dunianya.
Pwmerintahan yang infantil biasa menjadikan warganya sebagai boneka dan bantalan kekuasaan. Diperlukan dan dibujuk rayu saat musim kontestasi, dibiarkan hidup mengais nafkah tanpa pengaman sosial seusai pemilu. Dipeluk sebentar, dibanting-banting setelahnya. Teddy Bear adalah paradigma bagi “negara pabrik” yang menjadikan warganya bantalan kekuasaan.
2) TEDDY KEDUA ADALAH POLISI TEDDY
Ia kekar mendekati gemuk dan berkepala botak. Sebagai apparatus, ia adalah alat negara untuk melindungi warganya. Salah satunya menjaga warga dari daya rusak narkoba. Tetapi kontras: Pak Teddy berbaju coklat ini memanfaatkan narkoba temuannya untuk berbisnis. Institusi kepolisian dijadikan alat untuk berbisnis. Sejumlah jendral berbisnis, bukan hanya narkoba. Mereka bersaing dengan warga sipil biasa dalam mengelola sumber-sumber ekonomi.
Kita warga sipil bekerja dengan tangan kosong, dan saingan anda memiliki pentungan dan bedil, maka usaha kita akan gulung tikar. Pentungan dan bedil bukan sekadar senjata, tetapi hidup kita, yang berada di genggaman mereka. Senjata berlaku sebagai senjata hanya bagi polisi berpangkat rendah. Itu pun tidak dipakai bukan untuk melindungi warga, tetapi untuk menggebuk rakyat. Jendral-jendral dari “Partai Coklat” ini tidak sendirian sebagai aparatus “negara bisnis”. Ada saingannya, yakni “Partai Hijau”, yang tidak kalah brutalnya dalam berbisnis. Presiden membentuk 20 brigade dan 100 batalyon infanteri teritorial pembangunan untuk mengokupasi ruang kemerdekaan warga sipil. Dengan bedil, negara mengatur apa yang kita makan; apa yang kita tanam; apa yang kita baca; perilaku dan omongan macam apa sebagai warga negara yang normal.
Normalisasi bagi negara adalah eksklusi bagi warga. Dua “partai” ini gontok-gontokan untuk mencari perhatian panglima tertinggi, tetapi satu garis komando dalam menggasak warganya. Polisi Teddy adalah paradigma dari militerisasi kehidupan warga. Aparatus menjadi alat negara untuk mengokupasi kemerdekaan sipil.
3) TEDDY KETIGA BERTAHTA DI ETALASE ISTANA
Teddy yang ini adalah satu-satunya. Senyumnya manis, tetapi dismissive: cenderung meremehkan kritik warga. Ia merupakan produk yang tersayang dan teristimewa dari “negara Pabrik” (Toni Negri). Berawal dari pengawal presiden, Istana mendandaninya menjadi pengawal kebijakan negara dalam mengelola warganya. Kritik-kritik anda tidak akan sampai ke telinga presiden karena Teddy Istana adalah telinga presiden. Tidak perlu menghabiskan waktu mendengar pidato molor presiden, karena mulut presiden identik dengannya. Omongannya tidak mewakili amanat penderitaan rakyat. Inti masalahnya bukan soal rumor tentangnya belakangan ini, melainkan dari omongan Teddy Istana yang hemat tapi kontroversial. Respon yang ia lontarkan (ingat: inflasi pengamat) di publik lebih menampilkan “perilaku politik” daripada “tindakan politik” (Arendt).
Perilaku bersifat spontan tanpa basis intelektual dan kapasitas yang jelas. Dan inilah paradigma komunikasi Istana: buta penderitaan riil masyarakat, sibuk membicarakan pikirannya sendiri. Lebih masalah lagi adalah posisinya yang kabur. Ia militer tapi berperan besar di panggung politik sipil. Politik adalah kekuasaan leigitim yang lahir dari persetujuan bersama. Kekerasan adalah kekuatan memaksa yang muncul ketika legitimasi kekuasaan melemah (Arendt). Kecurigaan publik pada Teddy sebenarnya adalah kejengahan warga pada paradigma “negara tembok besi,” yang tidak dilindungi oleh legitimasi warga tetapi oleh kekerasan yang tuli dan bisu.
4) PENUTUP
Sampai di sini, kita bisa ringkas triganda Teddy ini. a) Teddy Bear adalah paradigma “negara pabrik” yang menjadikan warganya sebagai bantalan kekuasaan; b) Polisi Teddy adalah paradigma “negara bisnis” yang melakukan militerisasi publik melalui aparatus bersenjata; dan c) Teddy Istana adalah paradigma “negara besi” yang semakin buta dan tuli, di senjakala kekuasaan.
Legitimasi publik rasional atas negara ini mulai tergerus sebelum akhirnya runtuh. Namun sebelum memasuki momentum itu, militerisasi, represi, dan kekerasan akan semakin menguat. Bukan aktivis saja, tetapi warga sipil biasa yang tidak tahu menahu akan dihujani pasal makar dalam pengadilan sesat.
Kita, rakyat, mesti menolak dijadikan “objek transisional” negara; dijadikan boneka dan bantalan kekuasaan, yang dipeluk-peluk saat musim kontestasi, lalu dibanting-banting saat protes dan mengkritik.
Rakyat bukanlah “bantalan negara” yang menjadi perantara antara krisis legitimasi dan kehendak negara untuk melestarikan kekuasaan. Sebaliknya kita bisa menjadi semacam “Teddy Roosevelt” yang sadar dan berbalik mengambil alih kekuasaan yang sakaw. Rakyat adalah subjek atas dasar kolektivitas yang saling silih asuh dalam berkarya, dalam bertindak, dan dalam berpengetahuan.
Dan karena itu, kita saling mengingatkan agar tidak semakin banyak warga yang dijadikan boneka yang imut dan mungil bagi negara. Ingatan itu terus bertumbuh dan bermekaran, menjadi memoria passionis, salah satunya melalui Aksi Kamisan. ***