MEMBACA FILM PARASITE (2019)
Pada mulanya, kerja adalah untuk kebaikan bersama. Kerja itu membentuk kemanusiaan kita. Tanpanya tidak ada dunia yang layak huni bagi setiap manusia. Marx (1976 [1844]: 76-78) menjunjung tinggi kerja sejati sebagai praksis membangun masyarakat yang adil untuk semua. Masyarakat tanpa kelas adalah causa finalis dari metafisika kerja; kesetaraan adalah etikanya; dan teknik adalah wujud konkretnya.
Namun modus produksi kapitalis menciptakan dunia yang layak huni bagi segelintir orang. Borjuasi yang memiliki alat-alat produksi dan sumber-sumber material menghuni rumah-rumah mewah, menduduki dunia basis. Sementara mayoritas manusia yang sekadar menggunakan alat dan mengkonsumsi sumber material seadanya menghuni rumah-rumah kumuh, menduduki dunia suprastuktur. Harapan dan doa adalah pengungsian dan jeritan dari homo laborans.
Marx kecewa dengan dunianya dan melawan. Sampai ajalnya, mesiananisme materialis tak kunjung datang: masyarakat tanpa kelas. Alih-alih dunia yang layak huni, manusia menghuni dunia dengan kelas-kelas bertingkat.
Film Parasites (2019) bisa dipahami dalam nuansa kekecewaan Marx. Rumah Park Dong-ik berada di ketinggian, dikelilingi pagar perkasa dan pepohonan rimbun yang mengitari taman luas. Alam dan teknik arsitektur Naamgong berpadu membentuk dunia layak huni. Kontras dengan itu, rumah bawah tanah Kim Ki-taek adalah produk dari paradoks arsitektur modern: suatu hunian yang dibangun dengan rancangan yang tidak layak huni. Teknik yang tercerabut dari alam, didekorasi dengan lorong sempit, beton, dan gorong-gorong mampet yang segera mengundang banjir begitu hujan deras tiba. Kim sempat merasakan harapan keluarganya menyata sesaat, “Sangat berkelas. Di luar hujan dan kita minum wiski.” Jadi, dunia bukan lagi tunggal. Ia telah terbelah menjadi dunia layak huni bagi sedikit orang dan tak layak huni bagi banyak orang (Agamben, 9 Juni 2019).
Masyarakat pasar modern bukan hanya membuat pembelahan ekologis sebagaimana kontras hunian antara keluarga Park dan Kim. Ia juga mendirikan batas-batas sosialitas manusia sampai ke level harian. Foucault (1978-1983: 6) menyebutnya bio-politik. Modus produksi kapitalis tidak meresapi struktur-struktur besar kehidupan sosial belaka. Ia meresapi detil-detil mikro-fisika. Tubuh dan aroma setiap manusia dibelah dan disusun dalam kelas-kelas sosial. “Bau apa ini, bahkan di mobil pun tercium. Seperti lobak basi, bukan seperti rebusan kain,” keluh Park Dong-ik pada istrinya di atas sofa empuk. Dan Kim Ki-taek – di bawah sofa, di atas ubin keras – mencium bajunya dan tidak merasa berbau. Tidak satu pun dari keluarga ini yang sadar, bahwa tubuh mereka telah terbelah.
Hujan deras malam itu menampilkan tiga irisan keluarga yang tragis. Dalam rumah privat yang tidak terganggu oleh keluhan orang-orang kebanjiran, Park Dong-ik tidur nyenyak seusai bercinta dengan istrinya Yeon-kyo. Sedangkan keluarga Kim Ki-taek kehilangan privasinya, tidur terhampar bersama para pengungsi banjir. Tidak ada harum percintaan di pengungsian, selain bau “kereta bawah tanah” dari kelas pekerja menggumpal pekat. Di ruang bawah tanah, Moon-Gwang, mantan pembantu keluarga Kim, sekarat gegar otak dan suaminya, Geun-se, terikat dengan luka berdarah. Dua pasangan ini kalah dalam konflik antar sesama keluarga pekerja.
Seharusnya hanya ada satu keluarga bangsa manusia. Namun semua sudah teriris-iris. Ada keluarga yang oikos (rumah tangga)-nya aman dari ganggungan publik karena politik menjamin privasinya. Ada keluarga yang ditelantarkan politik, dan dalam kondisi darurat bencana, polis menormalisasi “yang publik” (GOR) menjadi seolah-olah “yang privat” (barak pengungsian). Tapi ada juga keluarga yang oikos-nya dirobohkan dua kali: pertama, oleh politik yang menelantarkan dan kedua, oleh kompetisi antar rumah tangga.
Konflik tidak terjadi hanya antar kelas, tetapi juga intra-kelas. Film Parasite tidak cukup dibaca dengan lensa konflik antar kelas. Kita perlu melihat klasifikasi keluarga berdasarkan dua motif kompetisi: untuk berebut akumulasi modal dan untuk sekadar bertahan hidup.
Seperti judul filmnya, parasit bersifat menumpang dan menghisap inangnya demi hidup, bahkan kalau perlu membunuh. Siapa yang menjadi parasit, dia yang jahat secara moral. Siapa yang terbunuh, dia bukan antagonis. Namun film ini berkelit dari oposisi biner. Tidak ada satu keluarga yang tertuduh sebagai parasit karena semuanya saling menghisap dan terbunuh.
Untuk mengatur urusan rumah tangga, keluarga Park memperkerjakan keluarga lain dengan menetapkan batasan-batasan kelas. Tetapi diam-diam Park dan istrinya melanggar batasan. Kekaguman pada vulgaritas kaum pekerja tersingkap saat mereka membayangkan seks sakaw di dalam mobil. Keluarga Kim dan Moon-gwang tampak tunduk pada batasan kelas, tetapi di panggung belakang mereka melanggarnya. Batasan yang kabur antara “selera rendahan yang vulgar” dan “selera tinggi yang sopan” ini membongkar klaim kelas-kelas sosial sebagai sesuatu yang alamiah (Agamben 1994 [1970]: 32-37. Itu dikontruksi tetapi determinatif.
Tiada kejahatan murni macam iblis di sini. Setiap keluarga berperilaku nyaris spontan, seperti bakat yang dibentuk kebiasaan. Dan kebiasaan dibentuk kekuasaan yang lebih besar daripada kesadaran individual. Hidup macam apa kelak sudah direncanakan oleh suatu sistem determinatif. Dialog Kim dengan anak sulungnya di pengungsian membongkar “kuasa jahat impersonal” dari suatu sistem kehidupan tunggal: “Kau tahu rencana apa yang tidak gagal? Tidak ada rencana. Kenapa? Hidup tidak bisa direncanakan. Lihat sekelilingmu […] tidak perlu ada rencana. Tanpa rencana semua tak akan salah”. Kim seperti berada di ujung senjakala kepastian: tidak ada moral objektif kecuali moralitas kelas.
Adam Kotsko (2018: 14-16) mengajukan tesis menarik. Ia memahami sistem neo-liberalisme-kapitalisme sebagai suatu bentuk teologi politik yang (sebagaimana lumrahnya) hendak melegitimasi, memberikan penjelasan metafisik dan etik bagi pembentukan suatu suatu wawasan dunia total. Dengan mengkritik teori Marxis klasik yang menganggap ideologi liberal hanyalah efek turunan dari modus produksi kapitalis, ia berpendapat bahwa hari ini liberalisme telah menjadi satu sistem kehidupan total. Setiap kelas-kelas keluarga dalam Parasite hanyalah pemain-pemain dalam pertandingan meritokrasi kompetitif yang dirancang oleh “iblis impersonal” neo-liberalisme.
Stiegler (2010: 176-180) juga melihat kapitalisme saat ini sebagai sistem kehidupan total. Seperti tokoh-tokoh dalam Parasite, manusia mengalami pelupaan untuk menjawab pertanyan “hidup macam apa yang layak dijalani, dunia macam apa yang layak huni bagi kita”. Di bawah sistem kapitalisme akhir, manusia telah kehilangan pengetahuan untuk berpikir (savoir penser), untuk hidup (savoir vivre), dan untuk berkarya (savoir faire). Sebab kemampuan manusiawi kita telah diambil oleh oleh mekanisasi teknologi dan pasar iklan.
Pelupaan dan kehilangan tersebut belum terjadi dalam kapitalisme klasik ketika produktivitas hanya mengeksploitasi para pekerja. Kapitalisme akhir turut mengeksploitasi konsumen (2010: 171-175). Artinya tiada lagi perbedaan konsumen dan pekerja. Setiap orang dituntut produktif agar mendapat upah untuk mengkonsumsi, berulang seterusnya sampai ajal.
Di akhir film, Ki Woo menuju perbukitan yang lebih tinggi dari rumah bekas majikannya dan menyadari, ayahnya tinggal di gudang bawah tanah yang tak disadari tuan rumah. Ia bertekad untuk mengeluarkan ayahnya. Bukan dengan rencana revolusioner, yakni membunuh penghuninya, melainkan dengan menjadi pemenang dan kaya dalam meritokrasi kapitalisme. Namun itu seakan angan-angan rentan di hadapan kompetisi tidak adil. Ki Woo, seperti Marxisme, berhasil membongkar modus sistem kapitalisme, tetapi belum dapat meruntuhkannya. Ia terseret permainan “kejahatan impersonal”.***
Sumber Bacaan:
Agamben, Abitare e costruire, in Rubrica di Giorgio Agamben, 9 luglio 2019, https://www.quodlibet.it/giorgio-agamben-abitare-e-costruire (24.04.2026).
Agamben, L’uomo senza contenuto (1970), Quodlibetal, Macerata 1994.
Arendt, Hannah, The Human Condition, 2nd edition, Chicago,University of Chicago Press, 2018.
Kotsko, Adam, Neoliberalism’s Demons: on the Political Theology of Late Capital, Stanford University Press, California, 2018.
Marx K., Ökonomisch-philosophische Manuskripte (1844), Erstes Manuskript, hg. Von Barbara Zehnpfenning, Meiner, Hamburg 2005; trad. it. Manoscritti economico-filosofici, a cura di N. Bobbio Einaudi, Torino 1976.
Stiegler, Bernard, Ce qui fait que la vie d’être vécue, Flammarion, 2010.