-GAYA HERAKLEITOS MEMBAHASAKAN POLITIK KOTA DENGAN METAFOR-METAFOR ALAM-
Orang-orang yang baru sadar telah tertipu begitu lama oleh junjungannya membatin sesal, «Selama ini kita tertidur». Ada orang-orang dari abad ke-21 yang juga bisa disebut “tertidur”. Contohnya, orang-orang beragama yang melihat lagi kesia-siaan perang. Mereka tahu permukaan air laut yang semakin meninggi akan merendam pemukiman pesisir pantai. Tetapi mereka malah sibuk dengan apalogetika dan meracau “Bidat! Heretik! Sesat! Terkutuk!” Cuek dan bebal dengan ancaman di depan. Malah asyik sendiri dengan kesibukan-kesibukan yang seolah-olah amat penting, padahal tidak. Karena itu, tidur menggambarkan kondisi “belum sadar” atau “tidak mau sadar”.
Lawan dari metafor “tidur” adalah “terjaga”. Seperti misalnya, ada satu tembang Jawa menasehati: «Ojo Turu Sore Kaki. Ana Dewa Nganglang Jagad. Nyangking Bokor Kencanane. Isine Donga Tetulak. Sandang Kelawan Pangan. Yaiku bagianipun. Wong melek sabar nrimo». (Jangan Tidur Terlalu Sore. Ada Dewa sedang melanglang buana. Membawa wadah kencananya. Isinya doa penolak mara bahaya. Diperuntukkan bagi orang yang terjaga dan tabah). “Terjaga” dipandang sebagai keutamaan mawas diri. Ia seperti doa untuk menjaga diri dari ketidaksadaran dan dari kesembronoan kata-kata tanpa pertimbangan matang: biang kerok dari marabahaya di masa mendatang. Karena itu “terjaga” disebut penolak. Ia tidak seperti obat yang diminum setelah penyakit datang. Ia lebih seperti olahraga untuk memperkuat ketahanan diri.
Metafor “terjaga” ini tidak hanya populer di tanah Jawa. Dalam tradisi hidup membiara Kristiani dikenal antifon pengantar kepada Kidung Simeon. Bunyinya: «Berkatilah kami ya Tuhan, bila kami berjaga. Lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus, dan beristirahat dalam damai». Seruan doa antifon ini terkesan ambigu. Sang pendoa minta perlindungan dalam tidurnya, tetapi pada saat yang sama minta agar dibuat tetap berjaga. Mau tidur atau mau tetap terjaga? Namun sejenak kemudian kita bisa memahami. Antifon ini menaruh “sikap berjaga-jaga” di tempat yang lebih tinggi daripada “tertidur lelap”. Setiap saat, dia ingin selalu berjaga sekalipun tengah tidur. Awas di setiap momen.
Permohonan doa ini tercermin juga dalam jadwal harian para Rahib. Mereka tidur lebih awal, paling lambat jam 9 malam, tetapi bangun pagi-pagi benar, jam 4 pagi, saat kebanyakan penduduk kota masih tidur. Mereka ingin meniru Yesus yang terjaga dan pergi berdoa pagi-pagi buta. Jadi Doa bukan hanya aktivitas sembahyang pada Yang Ilahi, tetapi suatu pemecah dan penyingkir rasa ngantuk, agar sesudah doa mereka bisa memulai kegiatan harian di “kota kecil”, biara mereka. Doa membuat mereka menjadi “penjaga kota” di pagi-pagi buta, saat banyak penduduk di luar tembok biara tertidur lelap. Doa adalah bentuk partisipasi aktif mereka dalam stabilitas loci untuk menjaga kota tetap hidup dan terjaga.
Dalam banyak kebudayaan dan masyarakat kuno, kita juga bisa menemukan keutamaan berjaga-jaga. Sebelum orang-orang Yunani Klasik menyebut secara terang dan permanen suatu cara berpikir yang kemudian disebut filsafat, mereka terlebih dahulu menggunakan metafor “akal yang terjaga”. Ini seperti pelita batin yang membuat terjaga dari tidur malam. Kekuatan yang selalu memanggil untuk kembali mengagumi hidup dengan sadar.
Kita mengenal Herakleitos, salah seorang filsuf pra-sokratik yang gemar menggunakan metafor-metafor seperti “gelap”, “malam”, “siang hari”, dan tentu saja “tidur”, “terjaga”. Tentang dia, kita kerap mengenalnya dengan fragmen-fragmen bergaya orakel. Maknanya kabur dan mengundang multi tafsir. Pemikirannya kerap menyinggung konsep Logos: suatu prinsip yang mengartikulasikan dan membentuk tatanan kosmos. Prinsip ini tanpa henti mengatasi suatu lapisan yang sempit dan mampat menuju ruang lingkup yang semakin luas, tinggi dan mencakup segalanya. Anda bingung? Saya juga bingung. Memang benar, obskuritas dan enigmatik adalah ciri-ciri fragmennya.
Soalnya adalah kisah hidup Herakleitos dan tafsiran atas fragmen-fragmennya tergantung dari orang yang menyinggungnya. Jadi, akan mengurangi kekayaaan orakel Heraklitos, apabila kita merujuk hanya pada satu tafsir.
Catatan-catatan tua mengatakan Herakleitos berasal dari keturunan keluarga kerajaan. Diogenes Laertius meringkas tabiatnya, “seperti biasanya ia angkuh dan sombong”. Namun tabiat itu dilatarbelakangi oleh perselisihannya dengan warga kota, yang menjadi biang kerok dari hukuman pengasingan terhadap sahabatnya, Ermodorus, sesudah kegagalan gerakan revolusi kaum pendukung demokrasi. Ia kecewa dengan keadaan politik di Efesus, yang diatur oleh sebuah perundang-undangan yang buruk. Kemarahan itu ia ungkapkan dengan menarik diri dari hiruk-pikuk politik polis. Ia menolak untuk terlibat dalam penyusunan hukum kota. Akhirnya ia memutuskan untuk menyepi di kuil Artemide.
Menurut legenda, dalam keheningan yang tetap terjaga di kuil itu, Heraklitos menyusun karya besarnya, yang tersusun dari tiga bagian: tentang segala sesuatu (kosmos), tentang politik dan tentang teologi (hal-hal abadi dan ilahi). Kebanyakan orang beranggapan bahwa Heraklitos hanyalah seorang filsuf alam, yang banyak berbicara tentang alam (perì phuseos). Komentar Aristoteles menyumbang besar dalam membentuk anggapan umum ini. Namun apakah ini satu-satunya tradisi penafsiran atas pikiran Heraklitos? Tentu tidak.
Ada tradisi klasik lain dari seorang Stoik bernama Diodotus. Menurutnya, buku Heraklitos sebenarnya tidak berkaitan hanya soal alam, melainkan lebih berbicara soal politik (perì politeías). Pendapat ini ada masuk akalnya. Bayangkan saja, saat itu belum ada peralatan modern untuk mengamati konstelasi kosmos. Herakleitos praktis mengandalkan keterbatasan indera penglihatan. Dari pengamatan itu, ia melakukan spekulasi tentang alam. Kalau pikirannya tentang alam adalah cerminan (speculum) dari kenyataan konkrit yang ia hadapi, lalu apa yang ia cerminkan sebenarnya? Tidak lain adalah tragedi politik di kota tempat ia tinggal.
Menurut Donatella de Cesare, Herakleitos memproyeksikan konteks polis ke dalam kenyataan (alam), dengan maksud untuk menyelidiki hukum macam apa yang mengatur suatu kota. Sekalipun berbicara tentang kosmos, ia tidak berbicara semata-mata sebagai seorang penyelidik alam. Terutama ia secara tersembunyi menampilkan diri sebagai penafsir polemik. Sebab kehidupan politik kota memang dipenuhi dengan pertentangan-pertentangan. Karena itu, diperlukan seorang “bapak”, “penjaga kota yang displin”, yang mampu mengelola polemik. Ia lihai menghubungkan hal-hal yang tampak tercerai berai dan beragam menjadi palíntropos harmoníe (harmoni yang bertentangan).
«Kota», kata de Cesare, «memberikan paradigma hermeneutis tentang dunia». Ketika berbicara tentang Logos yang mengatur pertentangan-pertentangan dalam kosmos, Herakleitos sedang membuat cermin tentang bagaimana seharusnya kota dibangun. Politik seharusnya memahami kesatuan dalam perbedaan-perbedaannya. Paradoks “kesatuan” ini yang justru adalah sumbangan besar Heraklitos, perintis dari cara berpikir dialektika. Hegel pun mengakui jasanya: «Akhirnya di sini kita memijak bumi: tidak ada perkataan Heraklitos yang luput dari pemikiranku tentang Logika».
De Cesare menggambarkan dengan apik cara Herakleitos berdialektika melalui bahasa-bahasa alam: “Kesepakatan dari pertentangan-pertentangan bukanlah kesatuan di angan-angan, tetapi suatu peralihan tiba-tiba, ketika “yang satu” tanpa henti berubah menjadi “yang lain”: hidup dan mati, siang dan malam, terjaga dan bermimpi, musim panas dan musim dingin, damai dan perang”.
Fragmen-fragmen tentang pergantian aliran air sungai atau tentang api yang berubah-ubah seturut aroma udara yang bercampur dengannya adalah bahasa alam yang Herakleitos gunakan untuk membahasakan realitas sosial. Mengalir seperti sungai bukan berarti pasrah tanpa upaya, tetapi tabah menerima berbagai pertentangan yang niscaya dalam kehidupan bersama. Berkobar-kobar seperti api bukan berarti marah-marah pada ketidakcocokan tetapi berupaya tanpa henti mengelola pertentangan-pertentangan.
Karena itu, harmoni dikatakan menyembunyikan dirinya dalam Lógos, yang mengatur kosmos dan mengelola perubahan-perubahan. Ia menyatukan bukan dengan mengendapkan perbedaan tetapi justru dengan perpindahan yang bijak dari satu posisi ke posisi lain. Bukankah harmoni macam ini yang dapat ditemukan dalam kota yang sehat, ketika berbagai perbedaan pendapat antar warga dikelola agar setiap posisi yang satu bisa memahami posisi yang berlawanan.
Harmoni yang tidak semu ini terjaga selama orang-orang mendengarkan Lógos. Namun justru di sini Heraklitos mengajukan pertanyaan: Siapa yang ingin mendengarkan Lógos?
Jawaban kebalikannya: Mereka yang tuli, melamun, terkantuk-kantuk, yang termakan impian-impian dan opini-opini golongan, serta jauh dari kebijaksanaan akan enggan mendengarkan Lógos. Ciri-ciri ini adalah gambaran bagi orang-orang yang terkungkung pada dirinya sendiri, mengejar popularitas dengan omongan yang ndakik-ndakik, terpenjara dalam urusan-urusan pribadinya, dan megap-megap dengan kepicikan pikirannya. Mereka ini mirip orang yang tertidur.
Boleh juga dikatakan mereka ini idiótes (bodoh). Kata Yunani ini secara etimologi diturunkan dari dari ídios, yang merujuk pada kepemilikan pribadi. Kata ini berlawanan dari hal-hal umum atau milik bersama (koinón). Tidak mengherankan dalam hidup sosial, orang yang paling ngeyel biasanya justru bodoh. Cara menutupi kebodohan adalah dengan pasang muka seram dan memperkeras kepala. Ia berargumentasi bukan untuk mencari kesepakatan yang lebih benar, tetapi hanya supaya opininya diakui benar. Tidak ada pengakuan pada kebenaran pihak lain karena memang ia berpura-pura mengakui perbedaan.
Menarik di sini, sebagai kontras dari idiótes, Heraklitos menggunakan istilah khas orang Ionia: xunón. Kata ini bentukan dari xùn (dengan) dan noûs (akal budi): menggunakan akal budi. Artinya, menurut de Cesare: «Bukan hanya pemahaman akal budi yang bersifat umum, tetapi terutama di atas pemahaman itu, kesepakatan umum dibangun. Pemahaman ini bukanlah intuisi langsung, melainkan pengetahuan yang mengatur kosmos. ia terartikulasikan dan terhimpun di dalam Lógos. Kebodohan adalah dia yang enggan mendengarkan, yang terus mengisolasi diri di malam hari, dan mangkir untuk berpartisipasi pada siang hari dengan orang lain, pada dunia bersama». Seperti itu kira-kira bisa dipahami kata-kata Heraklitos berikut: «Dunia yang satu dan bersama adalah bagi mereka yang terbangun, sementara dalam mimpi setiap orang mengungkung dirinya dalam dunia yang diperuntukkan untuk diri sendiri».
Memang betul perpindahan hari dan malam menandai waktu yang satu dan sama. Namun keduanya menjadi satu karena terpisah dan berbeda satu sama lain. Siang bukan malam, demikian juga sebaliknya. Orang benar-benar hidup kalau dia menggunakan harinya dengan baik. Jika ingin kembali hidup, seseorang harus bangun dari kematian mimpi malam hari. Ia harus beranjak dari “gelap” menuju “terang”. “Terjaga” sekali lagi adalah metafor dari kebijaksanaan yang disampaikan Lógos. Dan Lógos mempertemukan pertentangan pada terang siang hari, saat satu dua orang berkumpul, berbincang, dan bertukar pikiran atas nama harmoni kota.
Filsafat pernah menyandang nama “sikap berjaga-jaga” karena memainkan peran “membangunkan” manusia dari rasa nyaman dan asyik dengan pikiran sendiri. Ia memanggil kembali orang yang asyik tidur dengan mimpi-mimpi di malam gelap untuk terbangun mengagumi hari yang baru di kota. FIlsafat mengajak saya bersiap-siap untuk berani menghadapi perbedaan-perbedaan dengan orang lain. Mengatakan «kita masuk sekaligus tidak masuk ke dalam sungai, menjadi kita sekaligus bukan kita» berarti kesediaan melihat perspektif orang lain. Memasuki “sungai diskursus” berarti siap merelakan pendapat sendiri kalau memang keliru dan mengakui pendapat orang lain kalau memang benar. Namun, ia juga tetap bertahan kalau memang pendapat orang lain itu menyesatkan. Anak-anak terang siang hari tidak pengecut dengan berpura-pura setuju atau berakting “rendah hati” demi harmoni palsu.
Jika berfilsafat selalu membutuhkan rekan wicara, maka sebenarnya tidak ada namanya “kebijaksanaan privat” (idía phrónesis). Ingin kelihatan pintar sendiri bukanlah kebijaksanaan sejati, melainkan suatu oksimoron: secara internal mengandung hal-hal yang berlawanan. Ingin mencapai kebenaran bersama, tapi ngotot dengan opini sendiri. Merindukan gambaran yang utuh, tapi sibuk dengan khayalannya sendiri. Ingin hidup bijak tetapi tinggal dalam ilusi mimpinya sendiri. Ia tidak akan beranjak sejengkalpun kepada jalan yang mempertemukannya dengan orang lain.
Kebijaksanaan privat adalah milik dari “orang-orang mati suri”. Mereka ini kontras dengan apa yang dikatakan Herakleitos: «Jangan bertindak dan berbicara seolah-olah sedang tertidur!». Sebab jika kebalikannya yang terjadi, hidupnya hanya asyik bermimpi dan bermimpi. Menganggap malam hari adalah siang. Menganggap mimpi adalah bangun.
Apalagi nama lain dari bermimpi terus dan tidak bangun-bangun kalau bukan mati? Salah satu fragmen Herakleitos yang tercatat dalam tulisan Klemens Alexandria menyinggung “kebiasaan malas bangun” ini: «Di malam hari, manusia menyalakan pelita untuk dirinya, ketika tak lagi melihat; sekalipun masih hidup, ia menyentuh kematian dalam mimpinya, seolah terjaga tapi sebenarnya tertidur». Memang orang yang sama sedang tertidur. Tetapi ia sudah menjadi lain dengan menjadi tukang bagi dunianya sendiri.
Terus-terusan “tertidur” sama dengan meninggalkan hidup bersama (koinón) untuk saling berbagi dunia dalam keseharian kota. Dia yang hanyut dalam dunia miliknya sendiri sebenarnya sedang tergeletak layaknya orang-orang mati di pekuburan umum. Jiwanya sedang turun ke dunia Hades yang ada di bawah kota. Warga kota yang “tertidur” berhenti menjadi bagian kota karena mereka apatis dan apolitis. Menurut de Cesare, suatu kota yang dihuni “orang-orang mati” adalah seperti kota di malam hari. Tidak ada pertentangan. Tidak ada tukar pikiran dan pekerjaan. Tidak ada kesepakatan. Setiap orang nyaman dengan mimpinya sendiri. Sebenarnya di situ tidak ada kesatuan lagi. Namun ia kemudian tambahkan, setidaknya ada dua yang masih berjaga-berjaga: Tuhan bijaksana yang terjaga di atas tembok untuk menjaga kota. Lalu ia menunjuk wakilnya, yakni filsuf yang menjaga batinnya agar tetap terjaga dari kebodohan privat (idiozia privata).
Karena itu, filsuf pertama-tama bukanlah profesi macam dosen dan tukang seminar. Lagipula kita bisa menemukan, orang-orang yang belajar filsafat, banyak menulis tentang filsafat macam kacang rebus, tetapi tertutup dengan dirinya sendiri: sekedar pansos. Tafsirannya dia anggap paling benar dan orang lain dianggap tak tahu apa-apa. Ketika kritik datang, ia cepat gusar. Atau model lainnya, ia berperan “merendahkan diri” dan tiba-tiba membuat candaan ketika orang lain mempertanyakan pikirannya, agar kekeliruannya tidak terbongkar. Filsuf tidur di siang bolong.
Siapapun bisa menjadi filsuf asalkan mau membawa pikirannya ke tengah-tengah perbedaan pendapat dengan orang lain. Ia mendengarkan Lógos yang hadir dalam pendapat orang lain; dan memilah dalam pikirannya mana yang Lógos dan mana yang sekedar opini bodoh. Ia menyadari idenya sekedar mimpi bodoh selama belum diuji oleh orang lain. Ia tidak akan dengan mudah memasarkan pikirannya yang belum matang. Ini bahaya karena bisa mengajak orang lain tertidur dalam kesesatannya. Bagaimana kalau ia sendiri tidak sadar bahwa pikirannya masih mentah? Hendaknya ia rajin menguji pikirannya dengan orang lain agar bisa ikut serta dalam membangun kehidupan sosial dengan lebih baik; agar Lógos hadir mengorkestrasi perbedaan-perbedaan menjadi harmoni politik. Mereka inilah penjaga kota.
Menurut De Cesare, jauh sebelum ada istilah “penjaga kota” dari Platon, Herakleitos sudah membuat istilah sampingannya, yakni “malam gelap politik”. Ini adalah situasi ketika kota lebih banyak diisi oleh warga yang “tidur berjalan” (nuktipóloi). Alih-alih mendorong dirinya untuk terlibat dalam hari kebersamaan di kota, ia diam-diam sibuk mencari keuntungan sendiri. Kata-katanya bukanlah Lógos, tetapi sekedar pemanis untuk menutupi motif privat yang tersembunyi. Penuntun dirinya adalah hasrat memenuhi isi kantong kendati harus mengorbankan sesama warga kota.
Dan kota hanya bertahan karena koinón (kesepakatan bersama) yang dihimpun dalam Lógos. Sebab dari Lógos yang mengelola perbedaan-perbedaan, akan lahir nomos (hukum) yang menjadi fondasi kota. Jadi, semakin suatu hukum dihasilkan dari kesepakatan bersama, semakin mudah ia ditaati. Semakin otoritatif dan semakin bermutu kualitasnya. Karena itu, Lógos adalah perkataan untuk membangun kota. Ia politis karena hadir demi menjaga kehidupan sosial yang semakin baik. Lógos membuat filsafat memiliki panggilan politis, seperti dikatakan Herakleitos: «Adalah penting bagi mereka yang berbicara menggunakan akal budinya, mendasarkan pikirannya pada apa yang umum bagi semua, seperti kota yang dibangun di atas hukum, bahkan dengan ketegasan».
Tanpa kesatuan Lógos, tidak ada pólis. Kalau warganya tidak mau bangun dari urusan pribadinya serta kelompoknya, lalu turut serta membangun kepentingan publik di kota menurut hukum-hukum yang disepakati, maka kota tidak akan lama lagi runtuh. Tidak mungkin tugas membangun kota diserahkan pada pemimpin saja, apalagi kalau pemimpin itu ternyata juga sedang “tidur” dengan mimpi-mimpi pribadinya. Terlalu beresiko. Sudah pemimpinnya tidur, warganya sibuk berapologetika membela kelompoknya sendiri. Membela mimpinya sendiri dan terus dalam mimpi. Begitu terbangun, ternyata kota sudah hancur. Lalu ia mencari penghiburan dalam ilusi: «Kota yang hancur ini memang fana. Yang kekal adalah kota di atas sana». Sementara itu, orang-orang mati tergeletak bertumpukan di hadapannya. Ia anggap kematian sia-sia itu pintu menuju keabadian. Omong kosong orang tidur di siang bolong.
Bdk. Donatella Di Cesare, “Eraclito, la veglia e il comunismo originario” in Sulla vocazione politica della filosofia, Bollati Boringhieri, Torino, 2018.