«Ada dua dosa utama manusia yang menjadi sumber semua dosa lainnya: Ketidaksabaran dan acuh tak acuh. Lantaran ketidaksabaran, mereka terusir dari Firdaus. Karena acuh tak acuh, mereka tidak pulang kembali. Namun bisa jadi hanya ada satu dosa utama: Ketidaksabaran. Karena ketidaksabaran, mereka terusir. Lantaran ketidaksabaran, mereka tak pulang kembali». (Franz Kafka, Aforisme 3)
Dosa asal. Sejenis noda di dalam jiwa manusia sejak lahir ke atas dunia, bukan karena kesalahan sendiri, tetapi karena pemberontakan manusia pertama: Adam dan Hawa. Dosa ini diwariskan melalui persetubuhan nenek moyang. Karenanya, disebut juga dosa warisan. Bukan hanya mewariskan noda, dosa asal juga mewariskan kecondongan pada kejahatan. Inilah tafsiran umum Kristianisme tentang kisah «kejatuhan Adam dan Hawa».
Ini adalah kisah, bukan sejarah. Kisah mitis. Orang-orang dulu menceritakannya turun-temurun untuk menggambarkan secara naratif pertanyaan besar manusia. Mengapa kita sering tergoda untuk menjahati orang lain? Dari mana asalnya, suatu noda, yang bukan sekedar rasa bersalah, di dalam batinku, sesudah kejahatan? Darimana manusia belajar membinasakan satu sama lain? Dari masyarakat. Dari Keluarga. Dari Nenek Moyang. Dari Leluhur. Dari siapa ujungnya (?). Disebut «kejatuhan», karena dari Adam dan Hawa, keburukan berasal. Lantaran keburukan adalah hasilnya, pemberontakan dikutuk.
Namun kisah mitis tidak pernah bermakna tunggal. Ada banyak tafsiran. Rabbi Yahudi Eliezer melihat ketidaktaatan Adam dan Hawa bukanlah kisah kejatuhan. Sebaliknya, ini adalah awal «kebangkitan» peradaban manusia. Erich Fromm memakai kaca mata Rabbi ini untuk menawarkan kemungkinan narasi lain: Ketidaktaatan adalah tanda kreatifitas manusia. Perlawanan terhadap «bapak-bapak despot» yang mau mengatur-atur segalanya. Pemberontakan pada otoritas penafsir tunggal. Keberanian untuk bergerak maju.
Jika tanpa ketidaktaatan, tidak ada pengusiran dari taman Firdaus. Tidak ada pengusiran, tidak ada perceraian dengan alam. Tanpa membedakan dirinya dengan alam, manusia tidak ada ubahnya dengan binatang. Mencerabut diri dari akar alamiah adalah putusan pertama untuk menciptakan alat-alat dan bahasa. Dengan terusir dari Firdaus, manusia dipaksa untuk membangun tamannya sendiri di atas padang gurun dan hutan belantara. Pemberontakan dan kreatifitas memungkinkannya melampaui, bahkan menguasai alam.
Kita bisa melihat «ketidaktaatan dan kreatifitas» dari banyak sisi. Salah satunya ini.
Kutukan dan manipulasi kekuasaan tidak bisa meredam ketidaktaatan secara permanen. Untuk sementara ia dibuat laten, dijadikan sekedar potensi. Namun potensi (potenza) adalah sekaligus kekuasaan (potente). Semakin ditekan dan ditahan, semakin besar daya dorong untuk meledak kembali. Mirip dengan menahan muntahan di dalam lambung. Kekuasaan bukan hanya milik institusi, birokrat, dan aparatus. Ia ada dalam setiap diskursus di antara orang-orang yang tak punya tahta. «Yang berkuasa diturunkan dari tahta, yang hina dina diangkat [oleh kreatifitasnya].
Kreatifitas (creatività) mirip tetapi tidak identik dengan penciptaan (creazione). Kreatifitas muncul hanya di antara jurang peralihan dari kekacaubalauan (anarchia) menuju penciptaan keteraturan (ordinamento). Begitu kuasa kekacauan ditata kembali menjadi keteraturan, kreatifitas lenyap. Keteraturan menjadi rutinitas sistem. Dalam rutinitas ini, tidak mungkin ditemukan kreatifitas, selain kekuasaan birokratis.
Birokrasi menurut etimologinya adalah «kuasa di sekitaran meja». Di atas meja, ada transaksi. Di setiap transaksi, ada kepentingan. Dan di antara kepentingan, mustahil tidak bergesekan. Cari muka sendiri dan membuang muka orang lain. Tawar-menawar dan tukar-menukar kekuasaan tampak di atas meja; tetapi polarisasi dilakukan sembunyi-bunyi di bawah meja. Keteraturan mencapai klimaks, untuk kemudian menurun kepada antiklimaks. Kekuasaan birokratis mengandung kontradiksi internal, membawanya kembali ke dalam kekacaubalauan.
Kekacaubalauan diatasi kembali oleh kreatifitas yang tidak mungkin berasal dari birokrasi. Dalam birokrasi, mereka sedang sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing setelah habis-habisan bertempur satu sama lain; setelah habis-habisan mencari muka sendiri dan meludahi muka lainnya. Dijilat dan menjilati.
Kreatifitas, seperti yang sudah-sudah, biasa muncul dari ketidaktaatan, dari diskursus di antara pikiran-pikiran yang tidak punya tahta. Hanya mereka yang terbiasa hidup dalam ketidakpastian dan dalam anarki, adalah yang imun terhadap kekacaubalauan. Kekuasaan mereka adalah potensi yang resisten terhadap aktualisasi rutinitas. Dalam kondisi «tanpa-bentuk» (anarchia), mereka selalu berkanjang pada kesadaran akan asal-usulnya (arché), yakni kreatifitas ketidaktaatan.
Namun ketidaktaatan yang kreatif tidaklah sama dengan ketidaksabaran. Sebaliknya ia memiliki kesabaran. Kesabaran mesianik. Mereka hanya sanggup menolak determinasi rutinitas dan kenyamanan birokratis sejauh bersabar. Sabar akan perlawanan balik; sabar akan resiko dipinggirkan; sabar distigmatisasi; sabar untuk tidak ambil bagian dalam previlese-previlese birokratis. Sebab, pembebasan dan penebusan tidak pernah muncul dari birokrasi, yang adalah antitesanya, tetapi selalu lahir «di luar tembok kota birokrasi». Kekuasaan yang ditopang oleh rutinitas birokrasi bukanlah bagian dari kesabaran mesianik.
Karena itu, ketidaktaatan Adam dan Hawa adalah dosa menurut pemilik dan penguasa Firdaus yang despot. Mereka distigmatisasi berdosa karena menolak menjadi bagian dari birokrasi. Mereka diusir karena tidak mau mengikuti rutinitas taman Firdaus. Sementara Tuan sibuk dengan klaim sepihaknya: Dia yang mencipta buah terlarang, dia yang membuat jerat, dan dia sendiri yang menghukum mereka yang terjerat. Birokratis: berputar-putar dalam mejanya sendiri.
Namun, ironisnya, begitu keduanya melakukan ketidaktaatan dengan makan buah pengetahuan baik dan buruk, kreatifitas mereka tidak bertahan lama. Tidak perlu menunggu lama, tanpa sadar, Adam dan Hawa mulai meniru pemilik Taman. Ujar lelaki untuk membela diri dari tuduhan: «Perempuan ini yang memberikan buah itu padaku». Perempuan berdalih: «Ular ini menggodaku untuk memetiknya».
Dan ular, si kecerdasan yang tidak sabar, yang ingin manusia menjadi seperti Tuhan birokrat, terdiam dan tidak membela diri. Dia tidak perlu membela, karena ia memang menggoda. Ular menyadari dirinya sebagai godaan manusia untuk menjadi tuan. Godaan untuk menjadi teratur-birokratis adalah ular yang ada dalam diri manusia.
«Sementara itu manusia mudah tergoda untuk meniru perilaku Sang Tuan: Berkelit, berdalih, menuduh, dan menstigmatisasi. Mereka terobsesi untuk menjadi Tuan Moralitas seperti pemilik Taman: membuat aturan, melaksanakan aturan, menghakimi menurut aturan, dan menjatuhkan putusan sesuai aturan. Mereka yang mengetahui mana yang baik dan mana yang benar, sekaligus mengotak-atik mana yang bisa dibuat benar atau jahat dan mana yang bisa dijadikan buruk atau baik. Demi tegaknya permainan birokratis, satu-satunya kesabaran yang harus dimiliki adalah acuh tak acuh pada korban jerat moralitas».
Dan kesabaran macam ini sebenarnya adalah ketidaksabaran: tidak sabar di luar rutinitas tata-aturan, tidak sabar tinggal di luar tembok birokratis, tidak sabar bertahan menjadi manusia, tidak sabar ingin menjadi Tuan despot. Lalu, kesabaran macam apa yang selalu menjadi potensi, menjadi kreatifitas, menjadi resistensi terhadap rutinitas birokratis? Mereka yang sabar untuk resisten pada birokrasi sampai mati, bahkan dengan resiko dibunuh sebagai pameran bagi banyak orang, adalah dia yang memiliki kesabaran kreatif. Mereka inilah «mesias».