Seratus tahun sudah berlalu sejak W. Benjamin menulis sebuah esai yang pantas kita kenang. Esai ini mengecam kesengsaraan intelektual [1] yang para pelajar di Berlin alami. Dan persis setengah abad berlalu sejak penyebaran sebuah pamflet anonim di Universitas Strasburg. Pamflet ini menyuarakan lagi tema yang pernah dikemukakan Benjamin dengan judul Perihal kesengsaraan dalam lingkungan pelajar, dipandang dari aspek ekonomi, politik, psikologi, seksual dan secara khusus intelektual. Sejak saat itu, diagnosis tentang persoalan itu mulai tidak mendapatkan perhatian seharusnya. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, bahkan kesengsaraan para pelajar meningkat tak terkendali -baik secara ekonomi maupun intelektual. Bagi para pengamat yang teliti, kemorosotan kualitas ini semakin terlihat jelas. Walaupun memang ada upaya untuk menyembunyikannya melalui penyebaran suatu terminologi ad hoc, yang bermain di antara jargon bisnis dan nomenklatur laboratorium saintifik.
Istilah “studi” (studio) dianggap kurang prestisius. Karena itu, istilah tersebut diganti dengan istilah “riset/penelitian” (ricerca). Penggantian ini mengindikasikan adanya manipulasi terminologi tersebut. Perubahan istilah ini terjadi begitu masif sehingga kita mungkin bisa bertanya-tanya. Apakah jika istilah studi benar-benar lenyap dari dokumen-dokumen akademik, akankah berakhir juga sebutan “Universitas berbagai jenis studi” (Università degli studi) [2]
Di sini kami akan berupaya menunjukkan bahwa studi bukan sekedar suatu paradigma kognitif yang lebih unggul daripada riset. Status epistemologisnya bahkan tidak terlalu kontradiktif dengan rumpun ilmu-ilmu humaniora dibandingkan dengan status epistemologis dari pengajaran (didattica) dan riset (ricerca). Justru dalam istilah “penelitian”, terlihat kelemahan pengalihan konsep yang sembrono dari wilayah ilmu-ilmu alam kepada wilayah ilmu-ilmu humaniora.
Sebab satu istilah yang sama (penelitian) sebenarnya mengacu pada dua rumpun ilmu dengan perspektif, struktur dan metodologi yang sama sekali berbeda. Riset dalam ilmu-ilmu alam menyiratkan terutama penggunaan perangkat yang begitu rumit dan mahal, yang bahkan tidak mungkin diupayakan secara mandiri oleh seorang peneliti. Riset juga menyiratkan suatu arah, prosedur, dan program investigasi yang muncul dari perpaduan antara kebutuhan obyektif (mis: penyebaran tumor, proses pengembangan teknologi baru, atau kebutuhan militer) dan kepentingan-kepentingan dalam industri kimia, komputer atau perang. Tidak satupun dari perpaduan itu yang bisa sepadan dengan ilmu-ilmu humaniora.
Di sini, “para peneliti” dalam ilmu-ilmu humaniora [3] (yang lebih tepat disebut para sarjana) hanya memerlukan perpustakaan dan ruang arsip. Akses terhadap dua perangkat ini pada umumnya mudah dan cuma-cuma (karena itu, biaya tambahan bagi akses tersebut merendahkan). Dalam arti ini, keluhan karena kekurangan dana penelitian (yang memang jarang diberikan) tidak berdasar. Dana-dana tersebut sesungguhnya lebih dimaksudkan bukan untuk penelitian dalam arti sebenarnya, tetapi untuk berpartisipasi dalam suatu konferensi atau seminar. Pada dasarnya, studi dalam ilmu humaniora tidak sepadan dengan ilmu-ilmu alam.
Dalam ilmu-ilmu alam, fokusnya terletak dalam menyampaikan penemuan-penemuan baru yang paling urgen baik dalam teori maupun terutama dalam verifikasi eksperimennya. Urgensi ini tidak ditemukan dalam wilayah ilmu-ilmu humaniora. Seperti misalnya penafsiran tentang satu bagian dari teks Plotinos atau Leopardi tidak berkaitan dengan urgensi tertentu apapun.
Dari perbedaan struktur ini dapat ditarik kesimpulan. Dalam ilmu-ilmu alam, penelitian yang paling maju umumnya dilakukan oleh sekelompok ilmuwan yang bekerja secara bersama-sama. Dalam ilmu-ilmu humaniora hasil penelaahan yang paling inovatif biasanya dicapai oleh para sarjana yang soliter. Mereka menghabiskan waktu di dalam perpustakaan dan tidak berminat berpartisipasi pada pertemuan-pertemuan.
Menurut substansi keberagaman dari dua rumpun ini boleh direkomendasikan penggunaan istilah riset pada ilmu-ilmu alam. Seharusnya demikian juga dianjurkan untuk menggunakan kembali istilah studi pada ilmu-ilmu humaniora, yang memang telah mencirikannya selama berabad-abad. Istilah riset (ricerca), secara etimologis berarti «berputar-putar», tanpa pernah menemukan obyeknya. Terminologi ini berbeda dengan studi (studio), yang secara etimologis berarti kadar ekstrim dari suatu hasrat (studium) untuk mempelajari obyek yang sudah jelas.
Dalam ilmu-ilmu humaniora, riset hanyalah sebuah fase sementara dari studi, yang akan berhenti ketika obyeknya sudah teridentifikasi. Studi, sebaliknya, merupakan suatu kondisi permanen. Bahkan boleh dirumuskan bahwa studi merupakan suatu hasrat pengetahuan dalam intensitasnya yang maksimal sehingga menjadi suatu cara hidup (una forma di vita), yakni Kehidupan sebagai pembelajar. Karena itu, para peneliti ilmu humaniora lebih baik disebut sarjana. Studi adalah sebuah paradigma kognitif yang secara hirarkis lebih tinggi daripada riset. Konsep ini berkebalikan dengan gambaran yang selama ini tersirat dalam terminologi akademis, di mana gelar sarjana dianggap lebih rendah daripada peneliti. Konsep ini bermaksud mengatakan bahwa suatu riset tidak akan mencapai tujuannya jika tidak digelorakan oleh suatu hasrat. Ketika tujuan tercapai, seorang pembelajar tidak bisa tidak hidup bersama dengan persoalan yang digeluti dalam ketekunan studi. Bahkan studi tersebut mengubah dirinya.
Bisa jadi ada keberatan dengan pandangan yang menyatakan bahwa sementara riset selalu bertujuan untuk kegunaan praktis, studi tidaklah demikian. Sejauh studi merepresentasikan suatu kondisi permanen dan semacam suatu cara hidup, sulit baginya untuk menghasilkan kegunaan langsung. Di sini kita perlu membalikkan anggapan umum, bahwa semua aktivitas manusia harus didefinisikan menurut kegunaannya. Berdasarkan definisi ini, hal-hal yang paling sia-sia hari ini ditentukan menurut paradigma utilitaris. Menurut paradigma ini setiap aktifitas yang berguna dikodifikasikan ulang sebagai kebutuhan-kebutuhan praktis manusia dan dimaksudkan hanya demi kesenangan semata. Di sini menjadi jelas, bahwa dalam suatu masyarakat yang didominasi oleh ukuran kegunaan, persis hal-hal yang tak berguna menjadi suatu warisan yang mesti dirawat. Studi termasuk dalam kategori ini.
Memang bagi banyak orang, menjadi pelajar adalah satu-satunya kesempatan untuk menemukan pengalaman yang kini semakin langka. Pengalaman itu adalah kehidupan yang terlepas dari tujuan-tujuan utilitaris. Karena itu transformasi fakultas-fakultas humaniora menjadi sekolah-sekolah untuk memenuhi lapangan pekerjaan adalah suatu penipuan dan malapetaka. Dikatakan suatu penipuan karena tidak ada dan mustahil ada suatu pekerjaan yang sesuai dengan studi. Bahkan studi untuk memenuhi pekerjaan semakin marak diajarkan. Kondisi ini adalah malapetaka karena mencerabut dari para pelajar suatu prinsip hidup yang membentuk kekhasan hidup mereka. Pencerabutan ini terjadi dengan cara menceraikan secara total antara hidup dan pemikiran yang seharusnya menyatu dalam studi. Bahkan penceraian ini sudah terjadi sebelum mereka terserap ke dalam pasar kerja.
Diterjemahkan dari Rubrik Giorgio Agamben, Studenti, dalam Quodlibet, 15 Mei 2017, https://www.quodlibet.it/giorgio-agamben-studenti (24.06.2024).
*Catatan:
[1] Saya menerjemahkan la miseria spirituale dengan kesengsaraan intelektual. Penting dicatat bahwa dalam cara berpikir Barat, spiritus bukan hanya mengacu pada hal-hal yang berbau keagamaan. Terutama «roh» mengacu pada kemampuan dasar manusia untuk berpikir dan berkehendak. Kata intelektual lebih tepat untuk mengungkapkan kekayaan arti dari «roh», karena lebih luas daripada sekedar rutinitas aktivitas akademis.
[2] Di kota-kota penting Italia kita masih bisa mendapati sebutan untuk universitas dengan formulasi lengkap: Università degli studi (di Milano, di Bologna, di Roma, dsb). Sebagian besar universitas yang menyandang sebutan itu tergolong institusi tua yang masih berupaya memegang teguh tradisi klasik universitas.
[3] Dalam bahasa Italia ada dua istilah yang saling berdekatan: lo studente (pelajar) dan lo studioso (cendekiawan, sarjana). Istilah kedua ini jangan dipahami sebagai suatu fase sesudah pelajar lulus dari suatu institusi pendidikan. Cendekiawan atau sarjana lebih merujuk pada suatu kebiasaan untuk belajar terus-menerus sehingga menjadi habitus, menjadi bagian dari kehidupan, atau menjadi forma vitae seorang pelajar. Karena itu, dalam istilah lo studioso «pembelajar» dan «cendekiawan» adalah dua makna yang bisa saling dipertukarkan.