[1]
“Saya memiliki ketidakpercayaan akan masa depan, sehingga saya hanya mengerjakan proyek masa lalu.”. Kalimat dari Flaiano ini -seorang penulis yang leluconnya perlu ditanggapi serius- mengandung suatu kebenaran yang layak untuk direfleksikan. Kenyataannya pada hari ini, masa depan, seperti halnya suatu krisis, merupakan perangkat paling efektif dari kekuasaan. Entah masa depan dianggap sebagai momok yang mengancam (pemiskinan dan bencana ekologis) atau sebagai suatu masa mendatang yang cerah (seperti kemajuan yang memuakkan). Dua anggapan ini seringkali dipakai untuk menghembuskan ide bahwa kita harus mengarahkan tindakan dan pemikiran kita hanya pada masa depan. Jadi kita harus mengesampingkan masa lalu, yang tidak bisa diubah, dan karena itu, tidaklah berguna – atau paling tidak dirawat di museum -. Lantas terhadap masa kini kita hanya tertarik sejauh berguna untuk mempersiapkan masa depan. Tidak ada yang lebih keliru dari pernyataan ini: Satu-satunya hal yang kita miliki dan bisa ketahui dengan kepastian adalah masa lalu, sedangkan masa kini menurut definisinya sukar untuk dipahami, lalu masa depan, yang belum ada, dapat diraih dengan gampang oleh penipu manapun.
Baik dalam ruang privat maupun dalam ruang publik, waspadalah terhadap siapapun yang menawarkan kepadamu suatu masa depan: ia sedang berusaha menjebak dan menipumu. Ivan Illich menulis demikian, “Saya tidak akan pernah membiarkan bayang-bayang masa depan bertumpu di atas konsep-konsep yang membuat saya berupaya memikirkan hal-hal yang sekarang dan sudah terjadi”. Benjamin juga telah mengamati bahwa dalam ingatan (sesuatu yang berbeda dari arsip tak bergerak, yakni memori), kita sebenarnya bertindak berdasarkan masa lalu, dan dalam arti tertentu memungkinkan masa lalu hadir kembali. Karena itu, saran Flaiano untuk memproyeksikan masa lalu memiliki alasan. Hanya penyelidikan arkeologis atas masa lalu yang dapat memungkinkan kita untuk mengakses masa kini. Sementara itu, suatu tatapan yang hanya terarah pada masa depan justru mengalihkan kita dari masa lalu, dan juga dari masa sekarang.
[2]
Bayangkan anda masuk ke dalam apotek dan meminta sebuah obat yang sangat dibutuhkan. Apa yang bisa anda perbuat jika apoteker memberitahu bahwa obat tersebut sudah diproduksi tiga bulan lalu, sehingga tidak tersedia lagi? Persis inilah yang terjadi ketika memasuki toko buku saat ini. Pasar buku sudah menjadi sesuatu yang absurd. Di dalamnya, sistem sirkulasinya mengharuskan buku disimpan di toko buku sependek mungkin (seringkali tidak lebih dari sebulan). Konsekuensinya, penerbit sendiri memprogramkan buku-buku yang harus habis penjualannya (kalau ada) dalam jangka waktu yang pendek dan enggan membuat suatu katalog yang bisa bertahan lama.
Karena itu, sebagai orang yang menganggap diri pembaca yang tekun, saya selalu merasa terganggu ketika memasuki toko buku (tentu saja ada pengecualian pada toko buku tertentu). Di sana rak-raknya hanya dipenuhi buku-buku baru dan saya semakin jarang menemukan obat (baca: buku) yang sangat dibutuhkan. Jika penjual buku dan penerbit tidak memberontak melawan sistem ini, yang sebagian besar diatur oleh para distributor besar, maka tidak akan mengherankan jika toko-toko buku akan lenyap. Hal ini terlanjur terjadi sehingga bahkan kita akan terlambat menyesalinya.
[3]
Nicola Chiaromonte pernah menulis bahwa pertanyaan esensial dalam merenungkan kehidupan kita bukanlah tentang apa yang sudah kita punyai dan apa yang tidak, tetapi apa yang tersisa dari hidup. Apa yang tersisa dari sebuah kehidupan? Namun juga dan bahkan lebih dahulu adalah pertanyaan: Apa yang tersisa dari dunia kita, apa yang tersisa dari manusia, dari puisi, dari seni, dari agama, dari politik, ketika hari ini kita terlanjur terbiasa mengaitkan segala sesuatu dengan urgensi-urgensi yang segera berlalu sampai kita tidak bisa mengenalinya lagi?
Terhadap seorang wartawan yang bertanya, “Menurut Anda, apa yang tersisa dari Jerman, tempat Anda lahir dan dibesarkan?”, Hannah Arendt menjawab, “tersisa bahasa”. Lantas apa artinya bahasa sebagai yang tersisa, suatu bahasa yang bertahan hidup di dunia yang ia ekspresikan? Dan apa yang masih tersisa ketika hanya bahasa yang tersisa? Sebuah bahasa yang tampaknya tidak memiliki apapun lagi untuk dikatakan dan, sekalipun demikian, terus-menerus bertahan dan berjuang sehingga dari situ kita tidak saling tercerai-berai?
Saya ingin menjawabnya: Yang tersisa adalah puisi. Apa arti sebenarnya dari puisi jika bukan apa yang tersisa dari bahasa, sesudah tahap demi tahap fungsi normal dari bahasa untuk berkomunikasi dan memberikan informasi dinonaktifkan? Saya ingat Ingeborg Bachmann pernah satu kali bercerita kepadaku. Ia pernah tidak sanggup pergi ke tukang daging untuk meminta: “Beri saya satu kilo”. Saya pikir, dia tidak memaksudkan bahasa puisi sebagai bahasa yang paling murni dan berada di luar bahasa yang digunakan di toko daging atau untuk keperluan sehari-hari lainnya. Saya lebih yakin bahwa bahasa puisi adalah “yang-tidak-bisa-dihancurkan” (l’indistruttibile). Puisi bertahan dan melawan setiap manipulasi dan setiap pembusukan. Ini adalah suatu bahasa yang tersisa bahkan sesudah kita menggunakan bahasa melalui SMS dan Twitter. Puisi adalah bahasa yang bisa dihancurkan sampai tak berhingga, tetapi tetap bertahan, mirip seperti tulisan seseorang, bahwa manusia adalah “yang-tidak-dapat-dihancurkan” karena bisa dihancurkan tanpa batas.
Bahasa yang tersisa ini adalah bahasa puisi (dan saya juga yakin termasuk bahasa filsafat). Bahasa-bahasa ini berkaitan dengan apa yang tidak dituturkan dalam bahasa (dire), tetapi memanggil (chiamare). Bahasa ini memanggil dengan nama. Puisi dan pemikiran melintasi bahasa menuju nama. Nama adalah suatu unsur bahasa yang tidak berdiskursus dan tidak memberikan informasi. Ia juga tidak mengatakan tentang sesuatu dengan sesuatu, tetapi menamai dan memanggil.
Sebuah teks singkat yang Italo Calvino tulis teruntuk teman-temannya sebagai “wasiat spiritualnya” ditutup dengan serangkaian kalimat yang terpotong-potong dan terengah-engah: “Tema tentang memori – memori yang terhapuskan – merawat dan kehilangan apa yang sudah terhapus – apa yang sudah tidak dimiliki – apa yang sudah terlambat untuk dimiliki – apa yang kita bawa di belakang – apa yang bukan termasuk kita…”. Saya yakin bahwa bahasa puisi adalah bahasa yang tersisa dan memanggil. Puisi memanggil persis karena terlupakan.
Anda tahu, baik dalam kehidupan individual maupun dalam kehidupan kolektif, begitu banyak kumpulan benda yang hilang. Begitu banyak penghamburan peristiwa-peristiwa sepele dan kecil yang kita lupakan. Saking begitu banyaknya sampai tidak ada arsip dan memori yang mampu menampungnya. Apa yang tersisa, sebagai bagian dari bahasa dan kehidupan yang kita selamatkan dari kehancurannya, hanya bermakna jika secara intim terhubung dengan “yang-hilang”; jika “yang-tersisa” berdiri untuk menopang “yang-hilang”; jika “yang-tersisa” memanggil “yang-hilang” dengan nama dan menjawabnya dengan namanya. Bahasa puisi, bahasa yang tersisa ini, kita sayangi dan berharga bagi kita, karena ia memanggil apa yang terlupakan. Sebab apa yang terlupakan adalah kepunyaan Tuhan.
Diterjemahkan dari Rubrik Giorgio Agamben, Che cosa resta?, dalam Quodlibet, 13 Juni 2017, https://www.quodlibet.it/giorgio-agamben-che-cosa-resta (26.06.2024)