Kampanye kita selama beberapa bulan terakhir dipenuhi dengan perbincangan soal etika demokrasi. Setiap pendukung ketiga paslon saling mengklaim paling taat pada etika dan mempunyai seribu alasan atas klaim itu. Pendukung 01 dan 03 sepakat mengkritik keputusan MK dan pengerahan alat-alat kekuasaan untuk mendukung paslon 02 sebagai bentuk pelanggengan dinasti yang membawa demokrasi pada titik nol. Sedangkan pihak paslon 02 menganggap 03 berlaku tidak etis karena mengkritik kebijakan pemerintah yang mereka juga masih ambil bagian di dalamnya. Sementara pihak 01 dianggap tidak etis karena ingkar dengan janjinya kepada sosok yang sering mendukung karir politiknya sejauh ini. Belum lagi kalau kita membahas jejak digital sebelum penetapan Gibran sebagai cawapres dari 02, saat ketiga kubu sama-sama membuka kemungkinan untuk meminang anak sulung presiden tersebut.
Tanpa bermaksud menyepelekan nilai dari etika demokrasi, setiap omon-omon etis dari ketiga kubu dengan sendirinya kehilangan daya otoritatifnya di masa kampanye. Ndasmu etik ini sebenarnya mengena pada ketiga kubu koalisi. Tidak pernah para politikus begitu rajin mempersoalkan etika demokrasi seperti kalau situasinya di luar kontestasi. Etika terlihat seperti omon-omon belaka atau kosmetik untuk menutupi bopeng manuver-manuver partai politik. Setiap orang yang menyerukan etika sekaligus mati-matian memenangkan paslon yang dia dukung adalah partisan. Sebaliknya, etika itu benar-benar murni kalau diserukan secara konsisten baik di dalam maupun di luar masa kampanye. Dalam masa kampanye, barangkali para golput yang menyerukan etika adalah yang paling kurang partisan.
Etika yang menjadi ideal bagi praktek politik hari ini sekedar alat untuk mendegradasi kubu lawan. Semakin sukses membuat kubu lawan sebagai tak-bermoral, semakin besar kemungkinan untuk memperoleh simpati pemilih, dan semakin besar ia mengerek suara. Etika meresapi politik entah sebagai alat, entah sebagai nilai tergantung pada orang yang menggunakannya.
Selain memperalat etika, persepsi massa bisa dikondisikan dengan menggunakan agama. Dalam setiap agama kita akan menemukan kerinduan manusia yang tidak bisa dipuaskan dengan etika dan hal-hal inderawi. Itu adalah keinginan untuk menjadi abadi. Jadi, keabadian yang tidak berubah-ubah dan menjadi dasar dari segala sesuatu adalah konsep inti dari agama. Kita boleh menyebutnya prinsip metafisika atau keyakinan teologis.
Sama seperti etika, teologi bisa dijadikan alat untuk menyustifikasi dukungan pada paslon tertentu. Kalau publik bisa diyakinkan bahwa restu ilahi turun pada paslon tertentu, paslon bersangkutan akan mengeruk sentimen positif dari massa. Kuncinya adalah mengetahui cara kerja agama, yakni apa yang ilahi dan tidak terlihat bekerja dan memanifestasikan dirinya pada apa yang insani dan kelihatan. Cara kerja ini yang membuat suatu institusi atau seorang karismatik bisa diyakini merepresentasikan yang-ilahi.
Memilih Khofifah menjadi tim sukses paslon 02 adalah tindakan men-teologisasi-kan politik. Hal serupa juga berlaku pada tim sukses kedua paslon lainnya: Kunjungan paslon ke institusi keagamaan seperti KWI, PGI, NU, Muhammadiyah, dan para pemuka agama lain. Tidak penting ada dukungan terbuka dari institusi keagamaan atau tidak. Yang penting adalah bisa mempengaruhi sentimen umat. Teologisasi politik adalah cara untuk menundukkan metafisika menjadi hamba politik.
Masih kurang satu lagi, yakni estetisasi politik. Untuk mengerek suara, tim sukses ketiga paslon sama-sama menggandeng para pekerja seni dan para influencer. Seni sebagai hasil karya manusia mempunyai daya pengaruh yang tidak main-main untuk mengaduk-aduk emosi dan menciptakan sentimen bersama sebagai fans club. Melibatkan Slank, sama seperti melibatkan Dewa 19 dan Rhoma Irama, adalah tindakan memanfaatkan teknik artistik untuk memperbesar kolam suara. Kalau ada kubu yang melibatkan sedikit saja para pekerja seni, itu hanya karena kekurangan logistik. Selama dana kampanye cukup, bukan hanya band papan atas yang diajak, bahkan para pengamen pun akan dilibatkan.
Sekarang kita bisa mengatakan, bahwa dalam kehidupan nyata, metafisika, etika, dan teknik (dalam hal ini seni) tidak dapat dipisahkan. Anda hanya akan dapat memisahkan ketiganya dalam pikiran. Bahkan kalau pemisahan ketiganya dipandang sebagai wujud politik yang ideal dan rasional, fakta berkata bahwa kenyataan sehari-hari sering tidak berjalan seturut cita-cita kita. Dunia dalam otak bukanlah dunia dalam hubungan konkrit antar manusia. Metafisika kawin-mawin dengan etika dan seni agar kekuasaan mendapatkan yustifikasi dan pengikutnya. Ini terjadi dalam semua sistem pemerintahan, baik demokrasi, totalitarian, maupun dinasti.
Persoalannya adalah kita, masyarakat, sering tidak sadar dikuasai oleh institusi politik melalui segitiga-kerangka-dunia di atas. Tampaknya pemecahannya tidak pertama-tama dengan memisahkan ketiganya. Kalau memang pemisahan itu efektif, sudah sejak Aristoteles memisahkan ketiganya, toh sejarah manusia tetap mengawinkannya. Bagi saya, pemecahan yang barangkali lebih efektif adalah selalu menyadari hubungan cinta segitiga di antara metafisika, etika, dan teknik. Dengan menyadarinya, kita mengetahui bagaimana kekuasaan beroperasi. Dengan mengetahui sistem operasinya, kita tahu bahwa ketiganya telah menjadi sarana untuk mewujudkan motif paling primordial, yakni berkuasa.
Dengan mengetahui cara kekuasaan memanfaatkannya, kita tidak akan lagi terlalu menganggap serius citra-citra teologis, etis, dan estetis yang mengena pada paslon pilihan. Sekurang-kurangnya kita masih akan menyisakan satu ruang untuk menyimpan daftar kekurangan setiap paslon. Kalau paslon kita menang, kita tidak akan bersikap manja, pasif, dan bergantung total padanya. Kalau dia kalah, kita tidak akan ngamuk-ngamuk dan mengutuki sembarangan orang. Tidak keliru juga menjadi partisan asalkan tanpa menganggap kelompoknya paling etis. Kesadaran macam ini lebih sehat bagi mental kita.
Tidak ada ceritanya memakan garam, terasa manis di lidah. Demikian juga, politik praktis yang sejak dahulu beroperasi secara pragmatis tidak akan merealisasikan politik ideal secara sempurna. Kita bukan tuhan yang bisa memunculkan nabi dari kumpulan manusia pendosa. Kita adalah manusia yang terpaksa realistis sambil membubuhi hidup dengan ide-ide sempurna agar tidak hilang asa. Kalau ada di hadapan kita politik yang mengklaim dirinya sempurna, justru itulah yang harus kita curigai. Jangan-jangan itu adalah anak hasil threesome antara agama, omon-omon etis, dan seni. Seharusnya pilihan pada paslon tidak menjadi totalitas yang menguasai keseharian kita.
Bukan berarti lalu kita tidak perlu mewujudkan etika politik. Soalnya adalah perhatian kita padanya mengikuti jadwal pemilu; setiap lima tahunan. Dalam keseharian kita jarang mengukur dan mengkritik perilaku junjungan kita dengan etika. Tetapi begitu musim kampanye, kita kaget, bahkan ada yang setiap hari marah-marah di media sosial, terhadap perilaku politikus dan partai-partai. Kita menganggap diri sungguh-sungguh etis dengan mendukung paslon tertentu, tetapi sebenarnya hanya jadi seperti «penonton bokep threesome». Perasaan dan emosi diaduk-aduk, diajak bertempur, sedangkan elitnya berkompromi. Pasif dan tidak benar-benar aktif. Jadi kita ini rakyat merdeka atau massa yang dimanipulasi ?