Di manakah kita sering mendengar ajakan untuk menjadi diri sendiri? Saat embun pagi mulai bermunculan dan nasehat-nasehat bijak mulai disuarakan di radio dan televisi atau di Podcast dan Spotify? Atau barangkali dari sebagain kecil atau sebagain besar sederetan buku-buku yang dipajang di rak? Motivasi untuk «menjadi diri sendiri» tidak lebih mudah menghalau jerawat di wajah. Kelihatannya saja sederhana, tetapi bahkan hampir mustahil dilakukan. Saya katakan «hampir» karena barangkali tidak lama lagi akan ada manusia yang bisa hidup seperti anjing.
Sampai hari ini anjing memang lebih otentik dari manusia. Ia adalah definisi paripurna dari «menjadi diri sendiri». Ia kencing di mana pun tanpa peduli kelaminnya kelihatan dan kawin di tempat terbuka asalkan puas. Kalau mau menyalak, menggonggong saja. Kalau sudah benci, gigit saja. Benar-benar contoh yang baik bagi orang-orang yang serius ingin menjadi diri sendiri. Tetapi, siapa yang bisa menjadi seperti itu tanpa merusak terlebih dahulu kerja otaknya? Selama manusia menyadari ia masih punya akal sehat, masih mengidentifikasikan dirinya dalam norma kebudayaan tertentu, dan masih butuh mata pencaharian, obsesi «menjadi diri sendiri» adalah omong kosong. Cobalah jujur tentang segala hal dan pada semua orang, maka tidak lama lagi anda akan dianggap tidak asyik dan menjengkelkan. Namun memang, biar sudah tipu sana-sini, dengan dipoles sopan santun, manusia masih bersikeras untuk mendaku «saya memilih jadi diri sendiri!». Ujungnya adalah menipu diri sendiri agar masih merasa otentik.
Ini bukan ajakan untuk menjadi oportunis. Walaupun sedikit banyak setiap orang punya sifat oportunisnya masing-masing. Setidaknya kalau masih ingin bekerja sama secara efektif dalam suatu komunitas sosial, sedikit menipu demi menjaga perasaan orang lain tetap diperlukan. Memuji dan menghormati atasan, biarpun dalam hati memper-anjingkan, bagaimana pun tidak jarang diperlukan. Kita semua ingin diperhatikan, dipuji, diapresiasi, dan dihormati. Karenanya, dalam batin, kita ingin kelihatan elegan biar dibuat-buat. Atau kalau antar dua insan yang dimabuk asmara benar-benar menjadi diri sendiri, kesepakatan tidak akan tercapai. Masing-masing akan mempertahankan egonya atas nama «jadi diri sendiri», tanpa ada yang mau mengalah terlebih dahulu. Juga betapa naif kalau senyuman antar politikus dan para pemimpin negara di rapat-rapat penting dianggap bagaikan mentari yang bersinar dengan tulus. Tidak. Senyuman mereka tidak jauh berbeda dengan keramahan para penawar jasa asuransi.
Bahkan sampai pada soal yang paling religius, tidak ada seorang pun yang mau mengumbar dosa-dosanya di hadapan umum secara membabi buta. Pengakuan dosa adalah mekanisme moderat antara «jujur» dan «malu». Kalau benar-benar konsisten ingin menjadi diri sendiri, maka rasa malu pada kesalahan yang sudah dilakukan tidak diperlukan. Bahkan dalam masyarakat yang mempraktekkan hukuman publik seperti cambuk, tidak akan ada satu pun dari yang tervonis tertawa terbahak-bahak saat dipermalukan. Dan cara hukuman publik macam itu tidak menarik minat banyak komunitas sosial. Singkatnya, selama mempunyai rasa malu, manusia tidak akan pernah bisa menjadi diri sendiri dalam arti paling serius.
Seseorang layak bersyukur pada apa pun kalau masih bisa «berpura-pura menjadi diri sendiri». Ia belum menjadi seperti anjing. Namun, ada satu kemampuan lain yang membuat seseorang berbeda dari «anjing yang mampu menjadi diri sendiri», yakni: «mengenali diri sendiri (secara sadar, sekalipun tidak selalu)». Ini juga tidak gampang tetapi tidak lebih mustahil daripada «ilusi menjadi diri sendiri».
Ajakan untuk «mengenali diri sendiri» bukanlah seruan kaleng-kaleng yang baru muncul di zaman «hujan iklan dan produk kecantikan». Ia sudah ada sejak awal tradisi kebijaksanaan. Ia berbeda dari ajakan yang pertama, terutama karena tidak ada motif yang perlu disembunyikan dan obsesi untuk memamerkan. Suatu tindakan yang dilakukan secara personal dan batiniah tidak bergantung pada efektifitas penampilan di hadapan orang lain. Sebaliknya, obsesi menjadi diri sendiri tidak jarang dipicu oleh «kondisi tidak betah diombang-ambingkan opini orang lain» atau oleh «motif tersembunyi ingin dikagumi dan dianggap otentik». Tidak mengherankan, industri kecantikan dan mode pakaian tahu betul mengaduk-aduk sentimen target konsumennya dengan membubuhi produknya dengan berbagai macam seruan sejenis «menjadi diri sendiri». Di masyarakat pameran yang menjunjung tinggi penampilan dan tepuk tangan, iming-iming dan dorongan sentimentil macam itu akan laku keras.
Sebaliknya, seseorang yang sesumbar bahwa ia sudah mengenal dirinya sendiri adalah tanda langsung ia belum mengenali dirinya. Proses mengenali diri sendiri tidak bergantung pada unjuk gigi dan pameran penampilan. Ia justru menghindari «sorotan kamera», spotlight, dan puja-puji followers. «Mengenali diri sendiri» adalah seperti pengembaraan sendiri dalam kesepian di tengah malam, di tengah hutan belantara, yang barangkali tidak seorang pun bisa mendengar dan melihat kita. Yang paling dibutuhkan bukanlah kenekadan untuk sesumbar, melainkan keberanian untuk memasuki lapisan-lapisan semakin dalam dari diri.
Di hutan belantara bernama diri sendiri itu, seseorang tidak hanya menyadari keutamaan dan keunggulannya, tetapi keterbatasannya. Yang terakhir ini justru lebih penting. Dengan menyadari kelemahan, keburukan masa lalu, keculasan, dan kebohongan dalam diri, semakin lama ia akan terbiasa menerima dirinya sendiri. Untuk hidup yang manusiawi, kemampuan untuk menerima dan mengakui kelemahan diri sendiri jauh lebih penting daripada menonjol-nonjolkan «sekedar tampakan dari diri sendiri». Semakin lama, orang yang mau bertahan di kegelapan diri sendiri tidak akan punya celah untuk menilai dan menghakimi kegelapan orang lain. Ia sibuk dengan mengkritik dirinya sendiri. Ia tidak menuntut dihargai selain menemani mereka yang kesepian. Ia tidak menuntut dimanjakan selain berbagi sejauh masih hidup. Lebih dari merindukan dunia yang semakin baik, ia ingin terus memastikan bahwa di dunia semacam itu, tidak seorang pun yang tertinggal. Akan tetapi kalau pun dalam perjalanan mengenal diri tersebut, seseorang masih belum bisa bermakna dan bermanfaat bagi orang lain, setidaknya ia tidak akan memperparah penderitaan yang sudah didera setiap orang.
Penutup pamungkasnya: «jadilah diri sendiri» atau «kenalilah dirimu sendiri»?
Wow kerennnn… Luar biasa fr…