Oleh Giovanni Gentile (filsuf idealisme Italia dan pembela fasisme Italia)
[Manifesto ini diterbitkan di koran, Il Popolo d’italia, pada 21 April 1925. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Fery Kurniawan dari Giovanni Gentile, Benedetto Croce, I manifesti degli intellettuali fascisti e antifascisti, prefazione di Aldo Cazzullo, Passigli Editori, Firenze 2024]
Fasisme adalah gerakan yang relatif baru dan khas dari semangat Italia. Gerakan ini bukan tanpa makna, melainkan justru terkait erat dengan sejarah bangsa Italia dan kepentingan bangsa-bangsa lain.
ASAL-USUL
Asal-usulnya dapat ditelusuri kembali pada 1919, ketika di sekitar Benito Mussolini bergabung sekelompok orang yang kembali dari parit-parit medan perang dan bertekad untuk melawan dengan gagah berani politik sosialisme demokratis yang pada waktu itu tengah berkuasa.
Ideologi politik tersebut, yang terlibat dalam Perang Dunia I dan membuat rakyat Italia meraih kemenangan tetapi dengan kondisi letih berat, hanya melihat akibat-akibat material yang langsung terlihat dan membiarkan nilai moralnya menguap. Atau bahkan ia secara terang-terangan menyangkalnya.
Politik demokrasi sosialis menggambarkan perang tersebut kepada orang-orang Italia dari sudut pandang individualistik dan utilitarian. Perang adalah sekumpulan pengorbanan yang masing-masing harus diberi kompensasi sesuai besarnya kerugian yang diderita. Dari situ timbul perlawanan yang keras dan mengancam dari individu-individu terhadap negara, sikap acuh tak acuh terhadap kewibawaan negara, serta penurunan prestise raja dan militer sebagai simbol-simbol kebangsaan yang seharusnya bertahta di atas individu-individu dan kategori-kategori partikular warga negara. Dari situ juga muncul pelepasan gairah dan insting-insting rendahan yang tak terkendali, yang memicu segregasi sosial, kebangkrutan moral, semangat egoistik, dan ketidaksadaran yang menyerang setiap hukum dan disiplin.
Individu melawan negara merupakan ungkapan khas dari politik korup pada tahun-tahun penuh penderitaan, ketika setiap norma kehidupan manusia yang lebih tinggi mesti memikul dan memasukkan sentimen serta pemikiran perorangan. Di sinilah fasisme sejak awal merupakan suatu gerakan politik dan moral. Sebagai sekolah latihan bagi penyangkalan dan pengorbanan setiap individu, politik fasis menyadari dan memperjuangkan suatu ide di mana setiap individu dapat menemukan dasar bagi kehidupan, kebebasan, dan seluruh haknya. Ide itu adalah cita-cita ideal mengenai Tanah Air yang mewujudkan dirinya tiada henti sebagai tradisi historis yang jelas dan telah terbentuk dalam peradaban. Dalam kesadaran warga negara, cita-cita ideal itu juga tampil sebagai tradisi yang bukan semata-mata menjadi kenangan mati dari masa lampau, melainkan menjadi kepribadian bangsa yang sadar akan tujuan yang wajib dicapai. Karena itu, cita-cita fasisme merupakan tradisi sekaligus misi.
FASISME DAN NEGARA
Dari sini kita bisa mengatakan tentang karakter religius fasisme. Karakter religius ini begitu kuat dan hal ini menjelaskan metode perjuangan yang dijalani oleh Fasisme selama empat tahun, dari 1919 sampai 1922. Para fasis saat itu masih minoritas ketika mereka, layaknya sel kecil, masuk ke dalam kehidupan berbangsa dan ke parlemen melalui pemilihan umum pada 1921.
Negara konstitusional yang dipahami mayoritas saat itu merupakan dan harus menjadi negara antifasis. Fasisme justru melawan negara yang mengklaim dirinya sebagai negara liberal. Sekalipun negara Italia saat itu memang liberal, liberalisme yang dianutnya bersifat agnostik dan sembrono, karena tidak paham apa pun selain kebebasan eksternal [kebebasan untuk]. Negara disebut liberal karena berada di luar suara hati warga yang bebas, seolah-olah hanya menampilkan sistem mekanis yang berdiri di hadapan aktivitas perorangan. Jelas bahwa negara seperti ini bukanlah negara yang diharapkan oleh para sosialis. Pada akhirnya, di Italia, perwakilan-perwakilan sosialisme yang bercampur dengan karakter demokratis dan parlementer menyesuaikan diri dengan konsepsi politik yang bersifat individualistik.
Namun, negara demokrasi liberal seperti itu juga bukanlah negara yang idenya telah berperan besar pada masa heroik Risorgimento Italia [penyatuan seluruh kerajaan menjadi satu republik]. Padahal saat itu, negara Italia lahir dari kerja keras kalangan kecil yang terbatas. Mereka memiliki kekuatan gagasan yang dahsyat sehingga dianut dengan berbagai cara oleh setiap orang. Negara ini didirikan melalui program besar untuk membangun bangsa Italia, setelah terlebih dahulu memberikan kemerdekaan dan persatuan kepada warganya.
Melawan negara liberal, fasisme pun memposisikan dirinya dengan kekuatan ide yang ia miliki, yaitu ide yang, berkat daya tariknya, mengajak pada pengorbanan, seperti layaknya setiap ide keagamaan. Ide ini menarik perhatian sejumlah kaum muda di sekitarnya yang membesar dengan cepat dan menjadi partai kaum muda. Setelah serangkaian gerakan pemberontakan 1831 yang muncul dari tuntutan politik dan moral yang serupa, lahirlah Partai Giovane Italia (Pemuda Italia) di bawah pimpinan Giuseppe Mazzini. Partai ini juga memiliki mars kebanggaan kaum muda yang dinyanyikan oleh para fasis dengan kegembiraan hati yang meluap-luap.
Dan seperti “Giovane Italia” dahulu kala, mars itu mulai menjadi keyakinan (fede) bagi semua orang Italia yang muak dengan masa lalu dan mendambakan pembaruan. Keyakinan, sebagaimana biasanya, selalu berbenturan dengan kenyataan yang sudah mapan. Ia harus dihancurkan dan dilebur ke dalam tungku energi-energi baru, lalu dibentuk kembali agar sesuai dengan cita-cita baru yang berkobar-kobar dan tak kenal kompromi.
Keyakinan itu sendiri dimatangkan dalam parit-parit dan perenungan mendalam atas pengorbanan yang ditumpahkan di medan perang demi satu-satunya tujuan yang membenarkannya, yakni kehidupan dan kebesaran Tanah Air. Keyakinan yang bertenaga dan merangsek keras ini tidak memberikan penghormatan sedikit pun kepada apa pun yang menghalangi kehidupan dan kebesaran Tanah Air.
Dari keyakinan baru tersebut, lahirlah paramiliter (lo squadrismo). Mereka adalah kaum muda yang bertekad bulat, bersenjata, berkemeja hitam, dan terorganisasi secara militer. Mereka berdiri teguh melawan hukum yang berlaku demi menyusun hukum baru. Kekuatan yang dipersenjatai ini melawan negara lama demi membangun negara baru. Paramiliter ini bertindak melawan kekuatan-kekuatan yang memecah-belah dan bersifat anti-nasional, yang aktivitasnya memuncak dalam pemogokan massal pada Juli 1922 dan akhirnya memberanikan diri melakukan pemberontakan pada 28 Oktober 1922, ketika barisan-barisan fasis bersenjata, setelah menduduki gedung-gedung pemerintahan di berbagai provinsi, berarak menuju Roma.
Arak-arakan ke Roma ini, baik pada hari pelaksanaan maupun sebelumnya, telah menelan korban jiwa, terutama di Lembah Padana. Peristiwa ini, seperti yang terjadi dalam setiap tindakan berani yang mengandung moral luhur, mula-mula disambut dengan ketakjuban, lalu kekaguman, dan akhirnya elu-elu di seantero negeri. Karena itu, tampak bahwa dalam sekejap bangsa Italia telah menemukan kembali persatuan penuh semangat yang pernah dimiliki sejak Perang Dunia I, bahkan dengan semangat yang lebih bergelora karena disertai kesadaran akan kemenangan yang telah direbut serta gelombang baru keyakinan untuk merestorasi bangsa. Keyakinan ini muncul untuk menghidupkan kembali Bangsa Pemenang yang akan menempuh jalan baru yang melelahkan demi menjawab desakan untuk memulihkan kekuatan finansial dan moral.
PEMERINTAHAN FASIS
Aksi milisi paramiliter fasis (lo squadrismo) dan praktik-praktik di luar hukum (l’illegalismo) pun berhenti dan unsur-unsur rezim yang dikehendaki fasisme mulai menampakkan diri. Dari tanggal 29 sampai 30 Oktober, lima puluh ribu orang berkemeja hitam (Camicie Nere), yang telah berarak menuju ibu kota Roma, meninggalkan kota tersebut dengan ketertiban yang sempurna. Mereka meninggalkan Roma sesudah melakukan parade di hadapan Yang Mulia Raja dan berangkat hanya atas satu isyarat dari Il Duce (Sang Pemimpin Mussolini), yang telah menjadi Kepala Pemerintahan dan jiwa dari Italia baru yang dicita-citakan oleh Fasisme.
Apakah revolusi sudah selesai? Dalam arti tertentu, ya. Paramiliter tidak lagi mempunyai alasan untuk tetap ada. Karena itu, dibentuklah Milizia Volontaria Nazionale (Milisi Sukarela Nasional) untuk mengintegrasikan mantan anggota paramiliter ke dalam angkatan bersenjata negara. Namun, negara bukanlah pemerintah. Pemerintah juga masih menantikan dukungan mayoritas besar rakyat Italia yang tengah melihat fasisme sebagai kekuatan politik paling ampuh dan mampu, dari rahim bangsa, untuk mengungkapkan dan mendisiplinkan seluruh kekuatannya demi transformasi sistem perundang-undangan. Dalam proses transformasi ini, negara kini harus menemukan bentuk yang paling sesuai dengan arus sosial dan tuntutan spiritual rakyat Italia.
Transformasi ini berlangsung secara bertahap, dengan ketertiban umum tetap terjaga. Di bawah rezim keuangan yang ketat, ia berhasil memulihkan keseimbangan anggaran negara yang kacau akibat masa pascaperang, yakni dengan menata kembali angkatan bersenjata, lembaga peradilan dan institusi pendidikan, tanpa gejolak maupun keraguan. Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pernah ada dan masih ada gejolak dalam opini publik yang dipicu oleh oposisi keras dari pemberitaan pers. Perlawanan pers terhadap fasisme justru semakin sengit karena ia semakin putus asa melihat ketidakmungkinan untuk kembali ke masa lalu. Pers memanfaatkan setiap kesalahan dan insiden untuk menghasut rakyat agar melawan proyek pembangunan pemerintah baru yang gigih dan keras.
Selain itu, orang-orang asing yang datang ke Italia seolah melewati lingkaran api yang menyala, mengepung Italia Fasis. Lingkaran Api adalah rentetan serangan terhadap pemerintah fasis melalui propaganda tertulis maupun lisan, baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka (para oposisi fasis) berusaha mengisolasi Italia Fasis dengan memfitnahnya sebagai negeri yang telah jatuh ke tangan kekuasaan sewenang-wenang yang paling keras dan paling sinis, yang menyangkal setiap kebebasan sipil yang sah serta setiap jaminan keadilan.
Orang-orang asing yang dapat melihat fasisme Italia dengan mata kepala mereka sendiri justru mendengar dengan telinga mereka sendiri suara orang-orang Italia yang baru. Mereka mengalami sendiri kehidupan material dan moral di Italia. Mereka langsung merasa iri terhadap ketertiban umum yang kini berkuasa di Italia. Selanjutnya, mereka mulai tertarik pada semangat Italia yang setiap hari semakin kuat dalam menguasai mesin negara yang tertata dengan sangat baik. Akhirnya, mereka mulai merasakan bahwa di sini berdenyut sebuah hati yang penuh kemanusiaan, meskipun digoncangkan oleh semangat patriotik yang berkobar-kobar.
Sebab tanah air bagi seorang fasis ialah tanah air yang hidup dan bergetar di dalam dada setiap manusia yang beradab. Di mana-mana, rasa cinta tanah air telah bangkit berkat tragedi perang. Cinta tanah air ini di setiap bangsa tetap berjaga—dan memang harus berjaga—demi melindungi kepentingan-kepentingan yang suci, bahkan setelah perang berakhir. Bahkan cinta tanah air ini justru lahir dari perang itu sendiri, karena tidak ada seorang pun lagi yang percaya bahwa perang tersebut adalah perang terakhir.
Di tengah arus perubahan, tanah air juga menjadi peneguhan kembali tradisi-tradisi dan lembaga-lembaga yang merupakan kesinambungan peradaban dan sejarah. Tanah air adalah sekolah yang mengajarkan untuk menundukkan yang bersifat khusus dan lebih rendah kepada yang bersifat universal dan abadi. Tanah air adalah penghormatan terhadap hukum dan disiplin. Ia adalah kebebasan, tetapi kebebasan yang harus diperjuangkan melalui jalur hukum. Kebebasan itu terwujud melalui pelepasan segala bentuk kesewenang-wenangan individualisme yang picik serta segala kehendak yang tidak rasional dan merusak.
Tanah air merupakan suatu pandangan hidup yang keras dan penuh kesungguhan. Ini merupakan keseriusan religius yang tidak memisahkan teori dari praksis, perkataan dari perbuatan. Ia tidak melukiskan cita-cita luhur hanya untuk mengasingkannya dari dunia ini, sehingga orang-orang hanya terkungkung dalam hidup yang hina dan menyedihkan. Sebaliknya, tanah air merupakan usaha yang berat untuk meluhurkan kehidupan dan mewujudkan keyakinan-keyakinan seseorang dalam tindakan itu sendiri, atau melalui kata-kata yang pada dirinya sendiri merupakan tindakan. Ia mengikat orang yang mengucapkannya sekaligus mengikat dunia tempat ia menjadi bagian dari kehidupan. Ia juga mengikat setiap orang untuk bertanggung jawab setiap saat, bahkan dalam setiap hembusan rahasia hati nurani.
Cita-cita ideal ini memang merupakan cita-cita. Namun, ini merupakan cita-cita yang sedang diperjuangkan di Italia saat ini, meskipun melalui pertentangan yang sangat sengit. Dan justru ini membuktikan bahwa perjuangan itu sungguh-sungguh dan meresap menjadi keyakinan dalam jiwa-jiwa manusia. Fasisme, sebagaimana semua gerakan besar dalam sejarah, semakin lama semakin kuat, semakin mampu menarik dan menyerap ke dalam sanubari orang. Ia semakin efektif dan semakin menyatu ke dalam mekanisme kehidupan batin, gagasan, kepentingan, serta lembaga-lembaga. Singkatnya, fasisme merasuk ke seluruh aspek kehidupan bangsa Italia. Karena itu, menghitung atau mengukur individu satu per satu tidak lebih penting daripada memandang dan menilai gagasan untuk semua orang. Sebab setiap gagasan yang sejati—yakni gagasan yang hidup dan berkekuatan dari dirinya—tidak diciptakan oleh manusia, melainkan hadir demi manusia
FASISME DAN SERIKAT PEKERJA
Fasisme dituduh sebagai gerakan yang reaksioner, antiliberal, dan antiserikat pekerja. Tetapi tuduhan itu tidaklah benar. Fasisme memiliki semangat progresif dan dorongan untuk menggerakkan seluruh kekuatan nasional.
Sebaliknya, fasisme justru bermaksud memecah lapisan keras yang telah dibentuk oleh tatanan politik lama—melalui ilusi liberalisme demokratis lama—yang menguasai aktivitas nyata individu sebagai warga negara. Demokrasi liberal melakukan atomisasi yang ditimbulkan oleh hak pilih universal yang memecah-belah kepentingan-kepentingan nyata. Sebagai akibatnya, setiap individu terdorong untuk menyadari dirinya sebagai bagian yang berhak terlibat dalam sistem kekuatan ekonomi.
Tatanan lama itu menyerahkan rakyat ke tangan para politikus profesional yang dikuasai oleh koalisi kepentingan tertentu yang semakin kuat dan, karena itu, bertentangan dengan kepentingan bersama bangsa. Fasisme—yang para pemimpinnya, termasuk pemimpin tertingginya, semuanya pernah mengalami pengalaman sebagai sosialis—bermaksud mendamaikan dua hal yang hingga kini tampaknya tidak dapat dipersatukan, yaitu negara (lo Stato) dan serikat pekerja (Sindicato, dalam arti korporatisme negara fasis).
Negara merupakan kekuatan yuridis bangsa dalam kesatuan organik dan fungsionalnya. Sedangkan serikat pekerja dipahami sebagai kekuatan hukum individu yang bertindak sebagai pelaku kegiatan ekonomi, sehingga kegiatan tersebut memperoleh jaminan hukum. Dengan jaminan ini, suatu kegiatan memperoleh bentuk sosial dan menjadi bagian dari kategori sosial.
Negara dipahami sebagai organisasi dari seluruh aktivitas individu dalam tatanan yang organik dan konkret. Karena itu, fasisme bukanlah suatu kemunduran dibandingkan dengan negara konstitusional, melainkan justru suatu perkembangan, suatu determinasi yang secara intrinsik lebih tegas, sekaligus perwujudan yang lebih nyata dari prinsip representasi rakyat yang efektif dalam kekuasaan legislatif.
Singkatnya, terhadap pemerintahan fasis dilontarkan tuduhan bahwa pemerintah ini menerapkan tindakan pembredelan (misure di polizia) yang melanggar kebebasan pers. Persoalan ini lebih merupakan persoalan faktual daripada persoalan prinsipil. Semua kebebasan konstitusional di negara-negara yang paling liberal pun pernah ditangguhkan ketika keadaan-keadaan tertentu menunjukkan bahwa penangguhan itu diperlukan. Lagipula, semua ahli teori maupun pembela liberalisme selalu mengakui keabsahan penangguhan semacam itu. Yang perlu dinilai adalah kapan pemerintah menggunakan tindakan-tindakan pembredelan tersebut: apakah benar atau tidak bahwa pers tertentu (baik dengan sengaja maupun tidak, itu tidak penting) telah menimbulkan risiko bagi bangsa berupa gangguan-gangguan yang sangat serius terhadap ketertiban umum. Lantas jika demikian, tidakkah pemerintah justru telah berjasa kepada negara dan kepada kebebasan itu sendiri —yang akan terancam oleh gangguan-gangguan tersebut— dengan bertindak sebagaimana yang telah dilakukannya?
Kenyataannya, sebagian besar massa rakyat Italia merasakan gangguan itu dan menunjukkan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah melalui sikap tenang dan acuh tak acuh saat menyaksikan protes-protes yang berapi-api serta keluhan-keluhan dari pihak oposisi. Sebab mereka memahami bahwa pada masa kini yang benar-benar bekerja demi kebebasan bangsa Italia di tengah dunia bukanlah kaum antifasis, melainkan fasisme. Fasisme dengan susah payah sedang membangun negara di atas dasar-dasar yang kokoh. Diharapkan dalam negara ini kegiatan-kegiatan bebas para warga negara sungguh dapat berkembang, karena dijamin oleh suatu hukum yang benar-benar merupakan ungkapan dari kehendak mereka yang nyata, organis, dan konkret.
Hari ini di Italia, jiwa-jiwa manusia terbagi ke dalam dua kubu yang saling berhadapan: di satu pihak kaum Fasis, di pihak lain para lawannya, yakni kaum demokrat dengan berbagai corak dan kecenderungan partai. Dua dunia ini saling meniadakan. Namun, sebagian besar rakyat Italia tetap berada di luar pertentangan itu dan merasa bahwa pokok perselisihan yang dipilih oleh pihak oposisi tidak memiliki bobot politik yang cukup berarti serta tidak mampu menyentuh hati rakyat. Mereka yang secara pribadi tidak terlibat dalam pertentangan tersebut mengetahui dengan baik bahwa kebebasan yang terus-menerus diserukan oleh kaum liberal itu hanyalah sebuah kata yang maknanya sangat lentur, jika kata itu dapat dipakai oleh partai-partai oposisi yang begitu berbeda satu sama lain.
OPOSISI TERHADAP FASIS
Kedua, oposisi kecil terhadap fasisme ini, yang terbentuk dari sisa-sisa (detriti) politik kepartaian lama Italia — baik yang demokratis, reaksioner, radikal, maupun masonik — tidak dapat saling menyesuaikan (irriducibile) dan sedikit demi sedikit akan berakhir karena keausan internal. Mereka tak mampu bertindak, sehingga akan tetap berada di pinggiran kekuatan-kekuatan politik yang sungguh-sungguh bekerja di Italia yang baru. Lagipula, hal itu terjadi karena sesungguhnya oposisi tersebut tidak memiliki prinsip yang benar-benar berlawanan dengan prinsip Fasisme, melainkan hanya prinsip yang lebih rendah daripada prinsip Fasisme. Ditambah lagi, merupakan hukum sejarah—yang tidak mengenal pengecualian—bahwa apabila terdapat dua prinsip yang sungguh-sungguh saling berlawanan, tidak ada satu pun yang dapat menang. Yang akan berjaya justru merupakan prinsip yang lebih tinggi. Ia akan menjadi sintesis dari dua bentuk kehidupan yang berbeda dan menjadi sumber inspirasi bagi kedua prinsip tersebut. Tetapi apabila terdapat dua prinsip, yang satu lebih rendah dan yang lain lebih tinggi, yang satu bersifat parsial dan yang lain bersifat menyeluruh. Jadi, prinsip yang pertama niscaya akan kalah, karena sebenarnya sudah tercakup dalam prinsip yang kedua. Karena itu, alasan sikap oposisinya hanya bersifat negatif dan berdiri di atas kehampaan.
Inilah yang dirasakan kaum Fasis ketika berhadapan dengan lawan-lawannya. Karena itu, mereka memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan akan kemenangan pihak mereka dan tidak mau berkompromi. Namun, kaum fasis kini dapat dengan sabar menunggu sampai pihak oposisi — sebagaimana mereka telah meninggalkan medan perjuangan yang sah di parlemen — akhirnya menyadari keharusan yang tak terelakkan untuk meninggalkan perjuangan keliru mereka. Lalu mereka akan mengakui bahwa sisa kehidupan dan kebenaran yang masih ada dalam program-program mereka sebenarnya sudah tercakup dalam program Fasis. Namun, program Fasis hadir dalam bentuk yang lebih berani, lebih kompleks, dan lebih sesuai dengan kenyataan sejarah serta kebutuhan jiwa manusia. Dengan demikian, krisis spiritual Italia saat ini akan dapat diatasi.
Pada saat itu, justru di dalam Italia yang telah menjadi Fasis dan telah difasisasi (fascistizzata), akan perlahan-lahan matang. Akhirnya, dari kematangan tersebut muncul gagasan-gagasan baru, program-program baru, dan partai-partai politik baru. Para intelektual Italia yang mendukung fasisme untuk pertama kalinya berkumpul dalam sebuah kongres di Bologna (29–30 Maret). Mereka bermaksud merumuskan gagasan-gagasan tersebut dan memberikan kesaksian mengenai hal itu kepada semua orang, baik di Italia maupun di luar Italia, yang ingin memahami doktrin dan tindakan Partai Nasional Fasis (P.N.F.).