Oleh Benedetto Croce (filsuf idealisme Italia, pendukung prinsip liberal dan demokrasi)
[Manifesto ini diterbitkan di koran, Il Mondo, pada 1 Mei 1925. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Fery Kurniawan dari Giovanni Gentile, Benedetto Croce, I manifesti degli intellettuali fascisti e antifascisti, prefazione di Aldo Cazzullo, Passigli Editori, Firenze 2024]
Para intelektual fasis yang berkumpul dalam kongres di Bologna telah mengirimkan manifesto kepada para intelektual dari berbagai bangsa untuk menjelaskan dan membela politik Partai Fasis.
Ketika memulai usaha sebesar itu, tuan-tuan yang penuh semangat tersebut tampaknya lupa bahwa sebuah manifesto terkenal yang serupa pada awal Perang Dunia I telah diumumkan kepada dunia oleh para intelektual Jerman. Manifesto tersebut pada waktu itu mendapat kecaman hampir di seluruh dunia dan kemudian, bahkan oleh orang-orang Jerman sendiri, dianggap sebagai kekeliruan.
Sesungguhnya, para intelektual, yaitu para pengabdi ilmu pengetahuan dan seni, apabila sebagai warga negara menggunakan haknya dan menjalankan kewajibannya dengan bergabung pada suatu partai dan mengabdi kepadanya dengan setia, maka sebagai intelektual mereka hanya memiliki satu kewajiban. Melalui penelitian, kritik, dan penciptaan karya seni, para intelektual mengangkat semua manusia dan semua partai ke tingkat kehidupan spiritual yang lebih tinggi, agar mereka dapat menjalankan pertarungan-pertarungan yang memang perlu dengan buah-buah yang semakin bermanfaat.
Melampaui batasan-batasan tugas yang menjadi panggilan mereka, mencampuradukkan politik dengan sastra dan ilmu pengetahuan merupakan sebuah kesesatan. Terlebih lagi apabila hal itu dilakukan untuk membela tindakan-tindakan kekerasan yang patut disesalkan. Seperti dalam kasus ini, fasisme menyalahgunakan kekuasaan dan menindas kebebasan pers. Dalam keadaan demikian, hal itu bahkan tidak dapat disebut sebagai kesalahan yang lahir dari niat mulia.
Lagipula, tindakan para intelektual fasis itu juga tidak mencerminkan cinta yang bijak terhadap tanah air. Tidak sepantasnya penderitaan dan persoalan-persoalan bangsa sendiri diumbar-umbar kepada penilaian orang-orang asing. Lagipula, sudah sewajarnya jika orang luar tidak peduli untuk menilainya, kecuali berdasarkan kepentingan-kepentingan politik yang berbeda-beda dan khusus bagi bangsa masing-masing.
Pada hakikatnya, tulisan tersebut [manifesto para intelektual fasis] hanyalah sebuah karangan anak sekolahan yang dangkal, di mana setiap bagiannya menampakkan kekacauan doktrinal dan alur penalaran yang tungkal. Misalnya, atomisme dalam beberapa konstruksi ilmu politik abad ke-18 disamakan dengan liberalisme demokratis pada abad ke-19. Para intelektual fasis menyamakan begitu saja demokratisme yang abstrak, ahistoris, dan matematis dengan konsep demokrasi yang sangat historis mengenai persaingan bebas serta pergantian partai-partai dalam kekuasaan, yang melalui keberadaan oposisi memungkinkan progresivitas diwujudkan secara bertahap.
Atau ketika dengan semangat retoris yang mudah tersulut emosi, para intelektual fasis justru memuja-muja kewajiban individu untuk tunduk pada keseluruhan. Seolah-olah persoalannya adalah moralitas individualistik. Padahal yang sesungguhnya mesti dipersoalkan adalah apakah bentuk-bentuk pemerintahan otoriter mampu menjamin peningkatan moralitas secara paling efektif.
Atau, dengan itikad buruk, fasisme mengaburkan perbedaan antara lembaga-lembaga ekonomi, seperti serikat-serikat pekerja, dan lembaga-lembaga etis-politik, seperti badan-badan legislatif. Dari situ, mereka kemudian membayangkan penyatuan—atau lebih tepatnya, percampuran—kedua tatanan tersebut. Pada akhirnya, percampuran itu hanya akan mengakibatkan kerusakan timbal balik atau setidaknya saling menghambat. Dan tidak usah lagi kita membahas berbagai penafsiran dan manipulasi sejarah yang sewenang-wenang, karena semuanya sudah diketahui publik.
Namun, perlakuan buruk terhadap doktrin-doktrin dan sejarah itu masih merupakan persoalan kecil dibandingkan dengan penyalahgunaan kata “agama” (religione) dalam manifesto mereka. Sebab menurut tuan-tuan intelektual fasis itu, di Italia sekarang kita seolah-olah sedang bersorak-sorai karena berlangsungnya suatu “perang agama”. Perang ini pecah berkat tindakan-tindakan heroik dari suatu “Injil baru” dan “kerasulan baru” melawan takhayul lama yang menolak untuk mati, meskipun kematian sudah membayangi di atasnya dan cepat atau lambat harus diterimanya. Dan sebagai buktinya, mereka menyebarkan kebencian dan dendam yang kini berkobar lebih kuat daripada sebelumnya di antara sesama orang Italia.
Para intelektual fasis menamai kebencian dan dendam kesumat terhadap suatu partai dengan jargon yang bernada konflik agama. Mereka melakukannya dengan menyangkal ke-italia-an anggota-anggota partai lain, bahkan menghina mereka sebagai orang asing. Tindakan tersebut justru menempatkan mereka di mata oposisi sebagai pihak asing dan penindas. Tindakan mereka sama saja dengan memasukkan ke dalam kehidupan tanah air perasaan-perasaan dan kebiasaan-kebiasaan yang lazim terdapat dalam konflik-konflik yang pernah terjadi, yakni memuliakan kecurigaan dan permusuhan yang disebarkan ke mana-mana dengan mengatasnamakan agama. Bahkan kebiasaan ini telah merampas semangat persaudaraan yang diwariskan dan penuh kepercayaan di antara para mahasiswa di universitas yang tengah menggapai cita-cita masa muda bersama-sama. Sebagai akibatnya, para mahasiswa saling berhadapan dengan wajah-wajah bermusuhan. Semua itu, sejujurnya, terdengar seperti lelucon yang sangat kelam.
Dari kata-kata manifesto yang bertele-tele tersebut, apa yang sebenarnya para intelektual fasis sebut sebagai “injil baru”, “agama baru”, atau “keyakinan baru” (nuova fede) itu sama sekali sulit dipahami. Sebaliknya, kenyataan konkret sehari-hari, dengan kefasihannya yang diam, justru memperlihatkan kepada pengamat yang tidak berpihak percampuran yang tidak koheren dan terasa aneh. Seruan kepada otoritas bercampur dengan demagogi [populis]. Penghormatan yang diproklamirkan terhadap hukum bercampur dengan pelanggaran hukum. Gagasan-gagasan yang sangat modern bercampur dengan peninggalan-peninggalan usang yang berjamur. Sikap-sikap absolutis bercampur dengan kecenderungan-kecenderungan Bolshevik. Ketidakpercayaan terhadap agama [lama] bercampur dengan upaya untuk merajuk terhadap Gereja Katolik. Penghinaan terhadap kebudayaan bercampur dengan usaha-usaha yang mandul untuk membangun kebudayaan tanpa disertai syarat-syarat yang memungkinkan kebudayaan terbentuk. Mistisisme yang sentimental bercampur dengan sinisme.
Sekalipun beberapa kebijakan yang patut dihargai telah dilaksanakan atau mulai dijalankan oleh pemerintah saat ini. Namun, tidak ada satu pun di dalamnya yang dapat dibanggakan sebagai kebijakan yang benar-benar asli dari mereka. Kita pun tidak dapat menganggap kebijakan mereka sebagai tanda lahirnya suatu sistem politik baru yang layak disebut fasisme.
Oleh karena itu, demi “agama [fasis]” yang kacau dan tak dapat dipahami itu, kami tidak merasa terdorong untuk meninggalkan “keyakinan” lama kami, yakni keyakinan yang selama dua setengah abad telah menjadi jiwa Italia yang bangkit kembali. Ini adalah Italia modern yang “keyakinannya” tersusun dari cinta akan kebenaran, kerinduan akan keadilan, semangat kemanusiaan dan kewarganegaraan yang murah hati, kesungguhan dalam pendidikan intelektual dan moral, serta kepedulian terhadap kebebasan, yang merupakan kekuatan sekaligus jaminan bagi setiap kemajuan.
Kami mengarahkan pandangan kepada para tokoh Risorgimento. Mereka telah berkarya, menderita, dan wafat demi Italia. Dan kami seolah-olah melihat wajah mereka terluka dan terusik oleh kata-kata yang digembar-gemborkan serta tindakan-tindakan yang dilakukan oleh lawan kami. Sementara itu, para pendahulu bangsa tampak serius dan memberi peringatan kepada kami agar tetap teguh memegang panji-panji yang mereka wariskan.
“Keyakinan” kami bukanlah rekayasa yang dibuat-buat dan bersifat abstrak, ataupun kegairahan pikiran yang ditimbulkan oleh teori-teori yang keliru atau dipahami secara keliru. Keyakinan kami berasal dari suatu tradisi yang telah menjelma menjadi disposisi batin, pembentukan cara berpikir dan komitmen moral.
Dalam manifesto mereka, para intelektual fasis mengulangi ungkapan klise bahwa Risorgimento Italia adalah karya kelompok minoritas. Namun, mereka tidak menyadari bahwa justru di situlah letak kelemahan konstitusi politik dan sosial kita. Bahkan mereka tampaknya merasa buncah—setidaknya di permukaan—dengan sikap acuh tak acuh sebagian besar warga Italia terhadap pertentangan antara fasisme dan para penentangnya. Kaum liberal tidak pernah merasa puas dengan keadaan seperti itu. Sebaliknya, kami berusaha sekuat tenaga untuk mengajak semakin banyak orang Italia agar ikut serta dalam kehidupan publik. Di situlah pula terletak asal-usul utama beberapa tindakan kkaum liberal yang paling diperdebatkan, seperti pemberian hak pilih universal.
Bahkan dukungan yang pada masa-masa awal diberikan oleh banyak kaum liberal kepada gerakan fasis pun didasarkan, antara lain, pada harapan bahwa melalui gerakan itu kekuatan-kekuatan baru dan segar akan memasuki kehidupan politik. Bagi kami, mengapa tidak kekuatan-kekuatan pembaruan beradu dengan kekuatan-kekuatan yang bersifat konservatif.
Lagipula, tidak pernah terlintas dalam pikiran para liberal untuk mengondisikan sebagian besar kehidupan berbangsa dalam keadaan pasif dan acuh tak acuh terhadap kehidupan politik, hanya dengan memenuhi beberapa kebutuhan material warga negara. Sebab para liberal mengetahui bahwa dengan cara demikian mereka akan mengkhianati cita-cita Risorgimento Italia dan menghidupkan kembali praktik-praktik buruk pemerintahan absolutis atau pemerintahan yang mendorong sikap pasif.
Bahkan sekarang pun, baik sikap pasif dan ketidakpedulian tersebut maupun berbagai hambatan yang menghalangi kebebasan tidak membuat kami putus asa atau menyerah. Yang penting adalah bahwa kita mengetahui dengan jelas apa yang kita kehendaki dan bahwa yang kita kehendaki itu sungguh merupakan sesuatu yang secara hakiki baik. Pergulatan politik yang sedang berlangsung di Italia sekarang ini, justru karena adanya pertentangan, akan membangkitkan kembali dan membuat rakyat kita memahami dengan lebih mendalam dan lebih nyata nilai-nilai lembaga serta metode liberal, serta membuat mereka mencintainya dengan kehendak yang lebih sadar.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika kita memandang masa lalu dengan tenang, kita akan menilai bahwa cobaan yang sekarang kita tanggung —betapa pun berat dan menyakitkan bagi kita— merupakan suatu tahap yang memang harus dilalui Italia untuk memperbarui kehidupan nasionalnya, menyempurnakan pendidikan politiknya, dan merasakan dengan lebih sungguh-sungguh tanggung jawabnya sebagai bangsa yang beradab.