2
Ada yang Mengatakan bahwa Kami Terlalu Tergesa-gesa
Anak-anak muda tidak sabar dalam mengenali dirinya sendiri. Dan karena tersedot seluruh perhatiannya pada telepon genggam dan internet, mereka menghancurkan diri sendiri dengan meremehkan tahapan-tahapan
Surat dari Maria (seorang lanjut usia)
Tuan Galimberti yang terkasih, saya merujuk surat dari Lucrezia. Suatu surat yang ditulis dengan kata-kata yang tepat menggambarkan orang-orang muda yang terburu-buru dan instan. Tentu semua orang memiliki ketidaksabaran pada umur muda seperti itu. Itu adalah momen untuk mencari kesenangan dalam hidup. Kemudian orang-orang muda akan menghadapi suatu kenyataan lain ketika, karena desakan situasi, mereka berhenti berlari ke sana ke mari. Saya berumur 60 tahun dan sedang berusaha memahami anak-anak muda di masa sekarang. Saya memiliki sebuah gedung teater. Beberapa tahun belakangan kami mendapati penurunan jumlah teks, dramaturgi, dan karya-karya dari orang-orang muda. Selain itu, kami mendapati orang-orang muda arogan yang merasa sudah tahu segalanya. Kami membuat pengumuman yang ditujukan pada perkumpulan anak-anak muda, kami pergi ke kota-kota untuk mencari bakat-bakat muda yang sedang berkembang dan layak untuk mendapat penghargaan. Percaya saya, tidak ada yang positif dan konkrit dari obrolan mereka tentang berita dari surat kabar dan televisi. Tidak ada pendalaman dan semangat untuk meneliti. Tidak ada kerendahan hati. Dahulu pernah ada magang. Pada anak-anak muda sekarang ada kesibukan, ada mimpi obsesif untuk berjejaring, dengan uang sebagai tujuan akhirnya.
Balasan dari Galimberti:
Tidaklah buruk kalau kata-kata orang muda saling bertentangan dengan pikiran orang yang sudah lanjut usia. Kita perlu mengamati sedikit lebih dekat sifat-sifat negatif yang anda runutkan dari anak muda zaman sekarang. Terutama persoalan tentang kecenderungan mereka untuk cepat-cepat. Mereka ingin cepat sampai, ingin cepat mendapatkan penghasilan, ingin cepat diakui. Kecenderungan ini adalah akibat dari penggunaan terus-menerus internet sejak usia dini: Tinggal menekan tombol dan anda akan diberikan jawaban. Tidak ada kemampuan untuk memperhatikan secara seksama suatu pertanyaan, untuk memahami inti dari suatu pertanyaan yang diajukan, dan untuk mengembangkan suatu penelitian dengan sarana-sarana yang kebudayaan sediakan. Dengan internet, anda akan segara memiliki jawaban instan yang membungkam pertanyaan. Dengan jawaban instan, pertanyaan yang melahirkan kegelisahan dan menuntut upaya segera menemukan solusinya.
Interval antara pertanyaan dan jawaban, suatu jarak yang manusia selalu perlukan dalam menghasilkan pengetahuan, hari ini sudah terhapus. Situasi yang sama juga terjadi pada interval antara hasrat dan pemuasaannya, yang menurut Freud dan para ahli lainnya, adalah rumah dari psiche (psikis). Jadi, jarak interval ini adalah tempat untuk membentuk dan mengelaborasi strategi-strategi, baik untuk mencapai kepuasan, maupun untuk mengolah frustasi ketika hasrat tidak terpenuhi.
Namun benarkah orang-orang muda hari ini tidak lagi memiliki kemampuan reflektif, terutama lagi tidak mempunyai lagi psikis? Tidak ada gunanya menarik kesimpulan yang menghakimi macam itu, tetapi bahwa ada kecenderungan ke arah itu, kita tidak bisa menyangkalnya. Dan persoalan ini menjelaskan alasan di balik pendapat anda bahwa kelompok-kelompok teater yang bermunculan dari orang-orang muda menyusun tema dan skenario teater yang tidak melampaui tema-tema harian dari surat kabar dan televisi. Seolah-olah dunia ini sudah tuntas diceritakan, diekspresikan, dan ditafsirkan dalam kerangkeng media. Seolah-olah sajian media telah mengajarkan kita bahwa tidak perlu lagi mengalami dunia, karena sudah ada yang menyajikan pengalaman itu pada kita. Cukuplah bagi kita untuk pulang ke rumah dan menyalakan televisi serta internet agar tidak kehilangan potongan-potongan dunia dalam tampilan visual.
Lalu, keinginan untuk diperhitungkan datang tiba-tiba. Orang-orang muda menemukan pengakuan itu dengan arogansi yang acap kali muncul ketika pengakuan dari orang lain terlambat datang. Kemudian pengakuan dan uang menjadikan dirinya ukuran bagi semua nilai, termasuk juga bagi nilai-nilai yang dihidupi anak-anak muda.
Apa yang bisa dikatakan tentang anak-anak muda ini? Di lapisan dasar jiwa dan ketidaktahuan mereka ada kecurigaan untuk tidak tertarik berhubungan dengan orang lain. Dan berkaitan dengan aktifitas seni mereka, hal itu pun menjadi sukar. Sebab mereka mengerjakan karya seni sebagai bentuk pelarian dari ketidaknyamanan mereka. Mereka sedikit merasakan kecurigaan itu, mereka kurang mempercayai itu. Jadi arogansi mereka hanyalah gejala dari ketidaknyamanan mereka. Ketidaknyamanan ini muncul juga lantaran model-model yang muncul di hadapan mereka adalah mereka yang memiliki rahang persegi dan lancip. Ini menjadi ciri dari sosok yang ideal. Dan mereka yang tidak memiliki ciri-ciri itu tetap ingin tampak seperti itu. Uang adalah alat untuk mengatasi kepanikan dalam mencari-cari pengakuan macam itu. Bagi mereka, uang tidak memiliki nilai ekonomis, melainkan nilai harga diri.
Apabila ada waktu Anda bertemu lagi dengan mereka, buatlah sebuah sekolah teater untuk anak-anak muda itu. Ajarkan pada mereka bahwa menjadi seorang aktor berarti “memberikan suara pada kepribadian yang laten dan bersembunyi dalam ketidaksadaran mereka”. Memainkan aktor berarti mengekspresikan diri dalam berbagai tokoh-tokoh yang mereka tafsirkan. Dan untuk memberikan “nyawa” pada tokoh-tokoh itu mereka harus mengenalinya. Mereka harus melakukan seperti yang dikatakan orang-orang Yunani Klasik: “Kenalilah diri sendiri secara mendalam”. Dengan cara itu, dan hanya dengan itu, mereka akan menjadi aktor-aktor, bukan karena mereka telah menemukan suatu hal baru yang disajikan oleh internet. Namun karena mereka telah menemukan berbagai tokoh yang tinggal di kedalaman jiwa mereka; karena mereka telah memutuskan untuk membuatnya hidup dan menjadikannya teman. Untuk itulah tidak perlu menuntut hasil yang segera. Pencarian akan diri memungkinkan setiap orang untuk hidup dengan kesadarannya. Hidup berkesadaran tidak ditemukan dalam internet dam tidak juga dalam telepon genggam.