BAGIAN PERTAMA
KEHILANGAN MASA MUDA? TIDAK, MASA MUDA TERLEWATI SECARA TIDAK SENGAJA
“Seperti Heidegger pernah katakan: Kita berada di masa kemiskinan ekstrim. Dan seperti Hölderlin tulis: Dan alasan terjadinya karena dewa-dewa telah pergi dan tidak kembali lagi.”
1
Kami Sudah Tergesa-gesa Mengejar Karir di Umur Duapuluhan
“Dalam budaya fast, yang dipicu media sosial dan dibentuk oleh teknologi, kami jadi mengingini trend di sini dan sekarang. Kami menjadi tidak sabar. Kami ingin secepat mungkin, sekonkrit mungkin, sejelas mungkin, dan melihat diri menjadi dewasa. Dan dari ketergesa-gesaan ini, kami tidak mampu lagi mencintai”
Surat dari Lucrezia (seorang pemudi):
Doktor Galimberti [1] yang baik, kami adalah generasi berusia dua puluhan. Suatu generasi yang tengah berada di antara peralihan waktu. Kami masih terlalu muda untuk mendapat kepercayaan masyarakat, tetapi terlalu tua untuk hidup dimanja seperti anak-anak. Kami mulai memikul berbagai tanggung-tanggug jawab pertama sebagai orang muda. Kami bertanya-tanya akan makna hidup, memiliki banyak keinginan untuk diwujudkan, dan ingin menunjukkan diri. Dalam budaya fast, yang dipicu media sosial dan dibentuk oleh teknologi, kami jadi mengingini trend dan kekinian. Kami ingin cepat sampai. Kami menjadi tidak sabar. Kami suka hal-hal sekonkrit mungkin, dan ingin melihat diri kami menjadi seorang dewasa, yang menentukan arah hidup kami sendiri.
Barangkali kami telah kehilangan makna dari waktu. Sebab kami telah merancang jadwal harian kami dan mengisinya dengan janji, kesepakatan, dan pertemuan. Mereka (orang tua) menuduh kami sedikit berbuat. Kenyataan sebenarnya justru malah sebaliknya. Kami terlalu banyak aktivitas. Dan persis di sini persoalannya. Kami begitu terjebak keinginan untuk segera sampai sehingga melewatkan begitu saja tahapan-tahapannya. Karenanya, kami kehilangan indahnya ritme kehidupan ini.
Kami mesti bekerja paruh waktu dan menuruti daftar pekerjaan di papan kantor kami pada saat yang sama. Kami pergi dengan semakin banyak orang karena tuntutan untuk memperluas jejaring. Kami pergi ke banyak kesempatan pesta karena tidak lama setelah usai pesta, kami merasa bosan kembali. Terutama, kita hidup dengan berfokus pada rutinitas. Mengikuti perhitungan yang sudah ditetapkan dan jelas membuat kami tidak mengalami lagi spontanitas.
Anda pernah menulis, bahwa satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkan kita dari perangkap rasionalitas teknologi dan rutinitas-rutinitas yang membebani kita adalah cinta. Tetapi kami tidak tahu apa itu “mencintai”. Setidaknya tidak seperti kakek-nenek kami yang memang memahami perasaan cinta. Sebab bagi kami, tidak perlu mengikuti perasaan. Untuk bisa mendapatkan pengakuan dari orang lain dan dunia, kami harus menjadi sosok yang tidak terhanyut perasaan, menjadi sosok yang mampu menghindari dan menjaga jarak dari perasaan, menjadi sosok yang mengamati dengan terpilah-pilah dan dingin kenyataan di hadapan kami. Seolah-olah cinta telah dikuras habis dari pengertiannya yang begitu kaya dan luhur, lalu menjadi sekedar persinggahan sementara. Cinta sekedar menjadi semacam kesan yang dapat dikendalikan dengan ketertiban berpikir. Cinta adalah target yang dicapai melalui tindakan-tindakan strategis dan terencana. Apakah dengan demikian cinta tidak lagi menjadi cinta? Apakah cinta hanyalah suatu tujuan yang dapat dicapai dengan menjalankan strategi?
Lalu bagaimana mungkin kami begitu cepat dewasa pada umur dua puluhan ini? Kami ingin menjalani tahun-tahun ketika kami lebih riang dan bisa melakukan kenakalan, menari-menari dengan hati dan di bawah bintang-bintang. Apakah mungkin kami telah kehilangan makna perjalanan hidup? Kami rindu menggerakkan kaki dengan berjalan ke sana kemari. Kami kehilangan diri ketika mencari “Itaca” kami (baca: kampung halaman) [2] seperti dikisahkan oleh Kavavis. Dan barangkali memang benar yang dikatakannya, bahwa “Itaca” kami persis dalam jalan itu sendiri, dalam perjalanan itu sendiri. Kita sedang kehilangan keriangan dalam hidup karena kami begitu sibuk untuk mengejar karir masa depan.
Di tengah berbagai sinisme, kami takut ketahuan, takut menjadi rentan, dan takut kelihatan ketika ingin menjadi apa adanya. Tetapi kami tidak takut ketika berpura-pura. Kami melihat orang lain, lingkungan, dan pada akhirnya diri sendiri menurut konstruksi-konstruksi yang diarahkan pada standar tunggal, tujuan tunggal. Dengan situasi ini, bagaimana kami bisa menyelamatkan diri? Bagaimana kami bisa menjalani perjalanan ini, termasuk perjalanan yang sedang kita jalani dan akan kita kenang lagi esok menjadi suatu film yang seluruh alur ceritanya memang layak untuk ditonton? Bagaimana kami bisa kembali untuk mencintai dan jatuh cinta lagi? Mencintai hal-hal di sekitar, mencintai suatu cita-cita, mencintai waktu? Atau adakah suatu kehidupan lain yang lebih sederhana?
Tanggapan dari Umberto Galimberti
Andaikan kita mendengarkan lagi anak-anak muda ketika menceritakan dirinya, kita akan memahami mereka lebih baik daripada ketika kita memahami mereka dengan membaca analisis psikologi, sosiologi, para dosen, dan pendidik yang berbicara tentang mereka. Para orang tua menganggap remeh anak-anak muda karena mereka tidak mendengarkannya ketika masih anak-anak, ketika anak-anak ini memiliki begitu banyak pertanyaan dan kebutuhan untuk diakui. Orang tua tidak pernah memiliki waktu untuk memberikan perhatian pada tulisan corat-coret mereka, pada gambar-gambar mereka, dan pada pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan “mengapa”. Karena sepanjang masa kanak-kanaknya tidak didengarkan, mereka bertumbuh dengan rasa kecewa sehingga tidak mampu lagi membangkitkan minat sekecil apapun untuk memperhatikan orang tuanya. Dengan sering menutup diri, mereka lantas memilih jalan diam dengan menjadi pribadi yang penuh teka-teki. Karena situasi di masa lalu, para orang tua yang merindukan anak-anaknya, mengalami kegelisahan ketika memasuki masa lansia. Mereka telah mencoba untuk berbicara dengan anak-anaknya tetapi sayangnya sudah terlambat. Diam dan tatapan yang tidak pernah bertemu telah menjadi aturan bagi hidup bersama yang meletihkan.
Melalui surat ini kita menjadi paham bahwa orang-orang muda tidak memiliki waktu di zaman ketika teknologi informasi telah menghimpit ruang dan mengakselerasi waktu sehingga mereka sampai pada suatu situasi di mana siapapun yang tidak berlari dan tidak memenangkan pertandingan, tidak lagi hidup di dunia ini. Ini adalah dunia maya yang hari ini menjadi lebih riil daripada dunia sebenarnya. Kenyataan sebenarnya memiliki kedalaman yang tebal. Ketebalan ini mengandung materi-materi yang memerlukan waktu ketika diolah dan diubah menjadi suatu karya seni. Virtualitas tidak memiliki hambatan tersebut dan membakar waktu untuk bersabar dalam proses (il tempo nell’attimo), dan karenanya, membumihanguskan gairah dalam hidup. Padahal dari gairah (passione), gejolak perasaan yang memuaskan dan menyiksa itu muncul. Dari situ juga muncul antusiasme untuk percaya diri dan kesedihan melankolis ketika menghadapi ketidakpastian dalam menemukan jati diri.
Seorang gadis berusia dua puluhan ini menulis suatu surat yang begitu menarik: Kami mengandalkan sinisme dan tuntutan-tuntutan untuk menertibkan perasaan. Lantaran itu, kebimbangan dan kegetiran yang mereka alami tidak menjadi suatu penghalang bagi proses afirmasi diri. Namun justru tanpa halangan itu, kita kehilangan gairah dalam hidup dan kita mengarahkan diri pada target-target hidup dengan kecepatan seorang tipe pejalan yang hanya tahu titik berangkat dan titik tujuan. Kecepatan itu menjadikan tanah yang kita lalui tidak ada. Sebab apa yang penting baginya hanyalah tujuan dan bukan apa yang membentangkan jalan. Tipe pejalan macam ini sebenarnya adalah gaya seorang pelancong yang berbeda dengan peziarah. Seorang peziarah mengayunkan langkahnya ke depan bukan lagi dengan niat untuk menemukan sesuatu: pengakuan diri, kesuksesan, uang, kesenangan, tetapi dengan niat untuk mencicipi makna-makna yang terberi dalam perjalanan, sebab perjalanan itu sendiri adalah tujuannya.
Terlepas dari metafora di atas, tujuan sebenarnya dari hidup adalah kehidupan itu sendiri. Tujuan hidup bukanlah kehidupan yang dialihfungsikan untuk mengejar target-target yang mesti dicapai. Hidup macam ini tidak lain merupakan suatu tipu muslihat dari mereka yang sebenarnya telah kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup. Janganlah mempercepat waktu, hai orang-orang muda. Jangan membinasakan waktu. Satu-satunya anugerah yang kehidupan berikan pada kita adalah merasakan keberadaan kita (sebagai manusia).
[1] Umberto Galimberti adalah salah seorang filsuf kontemporer, penulis, dan psikoanalisis dari Italia. Ia mengkombinasikan psikoanalisis dengan pemikiran Nietzsche dan fenomenologi Heidegger. Sering menghadiri konferensi-konferensi yang dihadiri banyak generasi muda. Tema-temanya banyak menyentuh persoalan krisis kebudayaan di zaman nihilisme dan pengaruh teknologi pada anak muda, dengan pendekatan yang lebih praktis.
[2] Itaca adalah pulau, tanah kelahiran Oddysseus. Ia dikutuk oleh para dewa untuk menjalani suatu perjalanan yang sulit dan lama untuk bisa sampai pada tanah kelahirannya.
Diterjemahkan dari Umberto Galimberti, La parola ai giovani: Dialogo con la generazione del nichilismo attivo, Feltrinelli, Milano, p. 33-37.