Semua kesalahan manusia lantaran ketidaksabaran. Suatu interupsi prematur terhadap metodologi. Suatu penyokong tampak digunakan untuk meraih tujuan yang sudah kelihatan (Franz Kafka, Aforisme 2).
Ilmu pengetahuan sering hanya disimpangkan menjadi topeng untuk dua pertunjukan besar: Penghiburan dan ideologi. Dua pertunjukan ini memiliki jenis penonton yang sama-sama kecewa dan nyaris lunglai karena tujuan utama dalam hidup tak kunjung tercapai. Terbagi menjadi dua karena penonton pertama butuh merasa dikuatkan bahwa tujuannya akan tercapai dengan cara-cara tak terduga. Sedangkan penonton kedua butuh dikuatkan tekadnya untuk secara terprogram mencapai tujuannya, apapun caranya, tanpa kenal ampun pada peluang kegagalan. Namun karena watak dasarnya sama, kedua jenis ini bisa bergabung dalam satu orkestrasi massa yang sama.
Kita manusia adalah penonton itu. Entah sejak kapan, kita terbiasa untuk menetapkan tujuan terlebih dahulu. Kita ingin sejarah manusia berujung pada kemuliaan. Kita ingin manusia mencapai kesempurnaannya. Kita bayangkan kriteria-kriteria manusia yang sempurna. Kita bakukan setiap kriteria agar bisa diterima secara masuk akal. Metode ilmu pengetahuan dijadikan topeng untuk menutupi obsesi akan tujuan tertentu, agar tetap tersembunyi dan tidak ketahuan. Obyektifitas pura-pura.
Kepura-puraan ini sering tidak disadari. Dan soal ketidaksadaran, kesangsian psikoanalisis adalah metode paling pertama yang menunjukkan kuasa ketidaksadaran. Dengan kaca mata Freud, manusia yang otentik adalah mereka yang menyadari dan menerima masa lalunya. Namun sayang kaca mata itu dipakai untuk memilah orang yang otentik dan tidak otentik. Ini sebenarnya lelucon yang serius: Ketidaksaran telah mengobrak-abrik masa lalu menjadi seperti huruf yang berantakan. Masa lalu saya terlanjur tidak lagi berwujud kalimat bercerita, tetapi saya susun seolah-olah itu cerita aslinya. Lebih serius lagi, orang lain yang kesadarannya berantakan turut membantu menyusun kesadaran saya.
Celakanya, mereka yang dinilai tidak sadar masa lalunya atau belum menerima masa lalunya, dinilai hidupnya tidak otentik. Ilmu pengetahuan sekarang menjadi moralisme. Moralisme lalu menjadi penghiburan: Kunci kesuksesan anda adalah menyadari masa lalumu! Penghiburan lalu menjadi ideologi: Singkirkan mereka yang memanipulasi kesadaranmu!
Mengatakan manusia itu sering dalam ketidaksadaran tidaklah sama sekali salah. Bagaimanapun juga, psikoanalisis telah membantu menemukan fakta ketidaksadaran manusia, yang selama berabad-abad ditutupi oleh glorifikasi pada nalar.
Namun persis di momen ketika fakta-fakta yang dirangkai menurut metode tertentu menjadi pisau untuk membelah dan membagi manusia, disitulah kesalahan menerobos masuk. Yang terjadi sebenarnya adalah terburu-buru memaksa metode untuk memperoleh solusi cepat saji. Mirip anggapan bahwa tanaman kacang panjang pasti merambat ke atas tanpa melihat adanya pagar vertikal yang menyangganya.
Obsesi yang terburu-buru pada tujuan itulah pokok kesalahannya, yang membuat metodologi bukan lagi sebagai alat bantu (yang punya keterbatasan) melihat kenyataan, tetapi sebagai alat paten untuk membenarkan obsesi.
Dan kalau setiap manusia punya kecondongan akan obsesi, adalah bahaya sekali seorang pelajar percaya buta pada guru dan dosennya. Profesor-profesor juga mempunyai obsesi. Metode yang ia ajarkan adalah temuan dari manusia sebelumnya yang punya obsesi. Obsesinya terbentuk oleh mentalitas kolektif di zamannya. Lalu, metode itu dipaksakan menjadi obat sepanjang zaman?
Biarkan metode itu bekerja dalam keterbatasannya. Jangan terburu-buru dan dipaksa-paksa untuk menyelesaikan segala perkara. Jangan juga cepat-cepat diinterupsi demi tujuan. Terutama sekali biarkan autokritik bekerja. Ia akan membuat kita tidak cepat-cepat terhibur dan membatalkan secara prematur sikap mati-matian membela «metode favorit saya».
Terburu-buru adalah nama lain dari ketidaksabaran, sumber dari kesalahan manusia. Makanannya adalah obsesi pada kemuliaan dan kejijikan pada kelemahan. Dan autokritik adalah semacan racun yang membuat pikiran mual dan memuntahkan makanan itu.