«Jalur yang benar melewati seutas tali, yang tidak direntangkan tinggi tetapi sedikit di atas tanah. Tampaknya itu lebih dirancang untuk membuat terjungkal daripada untuk dilintasi» (Franz Kafka, Die Züraurer Aphorismen, 1)
«Semua akan indah pada waktunya. Semua akan baik-baik saja». Berhati-hatilah dengan obat kata-kata ini. Apalagi kalau orang yang mengatakannya dalam kesuksesan dan kenyamanan. Dia adalah sebagian kecil orang yang beruntung di antara milaran manusia yang mengalami ketidakadilan, apes, dan kegagalan bertubi-tubi. Tetaplah berhati-hati juga terhadap nasehat susulannya «Saya dulu juga mengalami kesusahan dan kegagalan bertubi-tubi, tetapi sekarang memetik buahnya». Cermati baik-baik, ada lebih banyak orang yang menghabiskan umurnya dengan berjuang habis-habisan tetapi tidak kunjung memetik hasil berarti. Dalam obat kata-kata itu tersimpan racun yang akan membuat kegagalan semakin terasa.
Tetapi dalam racun ada penawarnya sekaligus. Untuk itu, dengarkan dengan penuh perhatian, orang-orang malang yang setiap hari mengalami ketidakpastian dan berulang kali luput dari maut, tetapi masih bisa berkata: «Hidup saya masih indah dan masih baik-baik saja». Kekuatan dari kata-katanya tidak terletak pada ke arah mana dia akan menghaturkan syukur dan terima kasih, tetapi proses macam apa yang membuatnya dia berterima kasih kepada tuhan apapun itu. Orang-orang ini telah tersandung dan terjungkal berkali-kali. Mereka kerap merasakan hidup yang tidak adil. Dunia sering berkhianat terhadap angan-angannya. Ayat-ayat suci seperti janji yang tak kunjung terjadi. Dia terus menjalani hidup, bukan seperti berjalan di tanah lapang, tetapi lebih seperti berjalan di atas seutas tali. Lebih banyak terjungkalnya.
Hidupnya «indah» karena kesulitan telah membuatnya teramat peka untuk merasakan, sekecil apapun, keberuntungan yang dihimpit rapat oleh kesialan-kesialan. Dunianya terasa baik karena ia sudah terlalu biasa mengalami kekejian nasib sampai kebas dan kebal. Tetapi sedikit saja ada anomali dari bobroknya hidup ini, itu sudah cukup baginya untuk melihat kemurahan hati dunia ini. Keindahan dan kebaikan dunianya tidak muncul dari keberhasilan dan kesuksesannya, tetapi muncul dari kekuatannya. Ia kuat karena berulangkali terjungkal. Banyaknya resiko dan bahaya adalah tali yang membuat kita terjungkal sekaligus semakin kuat.
Jalur yang benar untuk hidup akan meninggalkan kiat-kiat berorientasi hasil. Sebaliknya ia berusaha menerima buah yang tumbuh sebagai ujung dari proses yang telah ia lewati dengan susah payah. Pohon memang dikenal dari buahnya. Kalaupun yang bertumbuh adalah buah yang busuk karena dimakan codot, si pohon sudah bertahan hidup dan terus berusaha menumbuhkan buahnya sejauh ini. Barangkali buah yang sebenarnya adalah kekuatannya untuk terus hidup. Bukan produktifitas yang dipaksa-paksa oleh mesin bernama pasar dan negara.