Kita bisa diawasi karena memiliki tubuh yang terlihat. Ia rentan untuk dimata-matai gerak-geriknya persis karena mata orang lain bisa mempersepsinya. Mode busana yang populer biasanya mengikuti kriteria ideal tubuh pada kurun waktu tertentu. Pada era paleolitik, misalnya pada kasus perempuan, tubuh yang berisi, gemuk, dan berpayudara besar adalah gambaran ideal karena melambangkan kesuburan. Sedangkan pada zaman Yunani, kriteria tubuh ideal didasarkan pada anatomi pria yang montok, dengan otot-otot yang menonjol. Sebaliknya pada tahun 90-an, tubuh ramping dan kurus adalah ideal bagi perempuan. Di Abad ke-21 ini, kita tidak mempunyai standar tunggal gambaran tubuh ideal, tetapi sekurang-kurangnya ada dua pandangan yang tidak jarang bertumbukan: mereka yang mendukung kebebasan untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk unik mode dan tubuh; lainnya menganggap tidak pantas untuk mengumbar lekukan-lekukan tubuh, sehingga selain muka, bahkan mata, seluruh bagian tubuh mesti tertutup. Secara umum perempuanlah yang paling seringk mendapatkan tekanan dari standar-standar mode busana. Patriarki bertahan hidup dengan mendefinisikan mode dan anatomi perempuan. Sekalipun sekarang, misalnya pada budaya Pop Korea, sosok pria yang cantik dan imut adalah gambaran ideal. Namun tetap saja «kriteria cantik» diambil dari definisi atas perempuan.
Standar mode berpakaian beroperasi dengan cara menceraikan tubuh dari «hak guna». Lantas ia dijadikan «properti/hak milik» entah oleh pasar, ideologi, bahkan agama sekali pun. Semakin ke sini menggunakan tubuh sendiri adalah suatu kebebasan yang semakin mewah. Kita pikir hanya para tokoh publik yang gerak-gerik tubuhnya diawasi oleh potret dan berita gosip. Ternyata hari ini, tidak seorang pun luput dari kamera pengawas yang terpasang di sudut-sudut ruang publik. Lebih lagi, mesin pengingat kenangan dalam media sosial sebenarnya adalah bukti bahwa setiap rekaman dari aktifitas tubuh kita sudah menjadi properti data digital. Kita sekarang diawasi karena menyerahkan tubuh kita untuk ditampilkan secara gamblang dan terbuka, pertama-pertama bukan pada mata manusia tetapi pada algortima. Tampaknya secara kolektif, mustahil untuk meraih hak total atas penggunaan tubuh sendiri, apalagi dengan romantisisme masa lampu. Namun secara individual, setiap orang masih mungkin dalam kadar tertentu memiliki kendali atas penggunaan tubuhnya sendiri. Kemungkinan ini berasal dari status tubuh itu sendiri: pada mulanya ia sama sekali bukan properti dari apa pun dan siapa pun.
Tubuh bukanlah properti persis karena ia adalah sensibilitas yang memungkinkan manusia untuk menyadari dirinya, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Ia bukan sekedar jasad tapi daging yang hidup: «Tubuh yang hidup», menurut Husserl, «dipersepsi sebagai sesuatu yang terberi dan memungkinkan kesadaran tentang diriku dan tentang tubuh orang lain». Inilah kesadaran pertama. Akan tetapi, kesadaran tersebut juga terarah keluar dari dirinya sendiri. Saya juga terbuka untuk merasakan orang lain. Seperti ketika tangan saya menggenggam tangan orang lain, pada momen itu, tidak jelas lagi siapa yang menyentuh dan siapa yang disentuh. Dari situ munculah kesadaran kedua, yakni kemampuan berempati (Einfühlung). Karena itulah, bahkan tanpa kontak fisik, saya bisa berempati dengan tubuh orang lain. Lihat saja misalnya, seorang pemain Jaran Kepang, yang sedang makan beling atau bara membara. Pada saat melihatnya, kita merasa ngilu membayangkan kalau kita yang mengunyahnya.
Akan tetapi, harus dicatat bahwa «isi kesadaran» saya tentang tubuh orang lain tidak akan sama sekali identik dengan «isi kesadaran» orang lain tentang tubuhnya sendiri. Seorang suami bisa berempati dengan rasa sakit istrinya ketika datang bulan, tetapi isi dari rasa sakit istrinya jelas tidak akan dirasakan olehnya. Anda bisa menggigit bibir karena merasa ngeri melihat seorang pencuri yang kesakitan karena pahanya tertembak peluru, tetapi «rasa sakit» yang dirasakan pencuri tersebut jelas berbeda dari Anda. «Dengan menghayati suka cita orang lain», kata Edith Stein, «saya tidak membuktikan sedikit pun keaslian sukacita yang dihayati orang lain». Empati saya pada sukacita orang lain, adalah penghayatan asli dari kesadaran diri sendiri, persis karena saya menghayatinya bukan sebagai isi kesadaran dari orang lain. Namun sukacita orang lain itu mengena pada kesadaran saya, sekali pun bukan lagi dalam isinya yang asli. Sampai di sini kita bisa katakan bahwa «isi kesadaran» orang lain tentang tubuhnya bukanlah properti saya, demikian juga sebaliknya. Sejatinya, saya bukanlah pemilik tubuh orang lain karena kesadaran kebertubuhan saya dan dia tidak bisa melebur sampai kehilangan identitas masing-masing. Saya bisa berempati dengan bertolak dari pengalaman menghayati tubuh sendiri. Karena itulah, kadang kita gagal berempati pada orang lain, atau berempati secara pura-pura.
Sekarang kita akan berjalan lebih jauh lagi dengan menunjukkan bahwa alih-alih tubuh orang lain bukanlah properti saya, sebenarnya tubuh saya pun bukanlah milikku. Pada beberapa kejadian, saya bisa merasakan tubuh ini tampil sebagai sesuatu yang asing dan sulit dikendalikan dan ini hadir menurut Levinas dalam esainya yang berjudul De l’Évasion, dalam pengalaman malu, mual, dan kebelet pipis.
Saya malu telanjang di hadapan orang lain bukan pertama-tama karena ketelanjangan itu sendiri. Namun terutama melalui ketelanjangan tersebut, tubuhku menampakkan dirinya pada saya sebagai suatu kenyataan yang paling intim sekaligus rapuh. Ia seperti orang asing yang miskin dan tak berdaya, serta meminta perlindungan. Ketelanjangan, dengan demikian, bukan sekedar kondisi tanpa busana, melainkan kondisi tubuh yang tidak mungkin lagi menyembunyikan kerentanan dirinya. Ia butuh untuk ditutupi, dirawat, dan dijaga persis karena sekali terluka, akan sangat sulit bagi tubuh untuk pulih kembali. Juga saat mual ingin muntah, entah karena mabuk perjalanan, entah karena minuman berakolhol, entah karena hamil, tubuh terlihat asing dan rentan bagi saya. Siapa pun yang ingin muntah akan merasakan terpaku pada dirinya sendiri. Ada suatu dorongan kuat dari dalam tubuh yang ingin keluar. Semakin seseorang ingin menahan benda asing itu keluar, semakin kuat daya dorongnya. Tubuh benar-benar tidak bisa dikendalikan pada momen itu. Lebih lagi saat seseorang kebelet pipis atau mau berak. Seakan-akan seluruh kenyataan di sekitar saya lenyap. Sebab perhatian saya hanya tertuju pada satu titik, yakni alat vital yang menuntut untuk dilegakan. Air dan tahi itu wajib untuk dikeluarkan. Bahkan kalau tidak ada WC, mau tidak mau, seseorang akan mencari jalan buntu atau tempat tersembunyi di mana pun untuk menyelesaikannya.
Setiap orang sebenarnya tidak bisa menjadikan tubuh sendiri sebagai properti selain sekedar menggunakannya. «Hak menggunakan tubuh» tidak ekuivalen dengan «hak memiliki tubuh», apalagi tubuh orang lain. Dan fenomena ini bukan hanya berlaku pada ketiga pengalaman di atas, melainkan juga pada rasa lapar, kedinginan dan kepanasan, hasrat seksual, serta pengalaman lain sejauh berkaitan dengan tubuh. Bisa dikatakan, perangkat-perangkat hukum yang mengatur dan melindungi tentang hak cipta hasil intelektual sebenarnya secara asali terkait dengan penggunaan tubuh. Hal macam ini biasanya luput dari perhatian norma hukum karena masyarakat dari sebuah negara hukum tidak jarang melupakan asal-usul dari suatu aturan yuridis. Jelaslah bahwa penghayatan akan tubuh adalah lebih primordial dan menjadi sumber segala perangkat hukum, sekali pun perangkat tersebut tidak akan bisa mendefinisikan «penggunaan tubuh» secara memadai. Tidak seorang pun boleh menguasai dan menjadikan tubuh orang lain sebagai properti bukan pertama-tama karena tubuh itu milik orang lain, tetapi memang sedari awal tubuh adalah«yang-tidak-bisa-dimiliki» sebagai properti apa pun, bahkan oleh diri sendiri.
Dalam kenyataan masyarakat modern kita, tubuh memang bisa dijadikan properti. Namun ini bukanlah kenyataan yang paling primordial sejak seorang anak manusia menyadari kebertubuhannya. Properti atas tubuh adalah hasil konstruksi hukum dan ilmu pengetahuan. Dan karena properti, kadang ia sekedar dianggap wadah, instrumen, penjara, sumber malapetaka dosa, atau malah disepelekan sama sekali keberadaannya. Coba amati saja, kadang saya tersenyum sumir, beberapa psikoanalis yang fanatik dengan metode keilmuannya menghadapi kliennya dengan harapan agar sembuh tapi malah memperumit masalah. Banyak hal tentang gangguan piskologis dengan mudahnya dikaitkan dengan luka batin. Itu bisa jadi kondisi patologis yang menjadi sumber masalah, tetapi tidak selalu, bahkan kadang terlalu lebay untuk selalu melihat dari sudut pandang itu. Sumbernya bisa jadi berasal dari persoalan sederhana, sekalipun tidak mudah dikelola, yakni keberadaan tubuh yang tidak selalu bisa dikuasai, dikendalikan, dan dimiliki. Cukuplah sebenarnya dengan memuaskan keinginan tubuh atau kalau memang harus mengelolanya, perlu hati-hati agar tidak sampai melukainya.
Selama manusia hidup di atas dunia ini, hanyalah kenaifan dan kurang berpikir serius yang menyebabkan seseorang begitu yakin bahwa ada suatu jiwa yang bisa memegang kendali penuh atas tubuh. Omong kosong macam ini perlu dibungkam dengan cara menantang seseorang yang fanatik pada keyakinannya itu agar sebisa mungkin menahan dirinya untuk berak. Kalau ta’i saja tidak bisa ditahan selain terlanjur menjadi lelot atau kecirit, lebih baik tidak perlu terlalu bermimpi untuk melupakan dan meremehkan daya perkasa dari tubuh. Terima sajalah tubuh sebagai suatu bagian tak terpisahkan dari hidup kita yang rentan sekaligus pantang menyerah. Setiap kegagalan untuk menggunakan tubuh secara penuh, apalagi menguasainya, bukanlah persoalan yang harus selalu diberi ukuran baik dan buruk secara moral. Itu adalah bagian dari perjalanan hidup setiap makhluk hidup.