«Di Roma, saya pernah mendengar seseorang berkata bahwa bumi adalah nerakanya suatu planet lain di antah berantah, dan hidup kita adalah hukuman yang ditanggung orang-orang terkutuk di atas sana karena kesalahannya. Akan tetapi mengapa justru [kita mendapati] langit, bintang, dan suara jangkrik? Kecuali, jika anda berpikir bahwa neraka itu persis ditempatkan di Surga untuk merancang hukuman yang lebih mengerikan dan terperinci».
(Giorgio Agamben, Quel che ho visto, udito, appresso)
Ada satu hal yang sering menggelisahkan saya tentang manusia. Benarkah seluruh perilaku, tindakan, dan pencapaian-pencapaian kita semata-mata terarah untuk sekedar bertahan hidup? Dan karena itulah, petani menyimpan hasil panennya dalam lumbung agar tidak mati kelaparan di masa paceklik; pejabat pajak menumpuk kekayaan dengan mencuci uang hasil korupsi; jendral-jendral berbisnis di daerah-daerah konflik; atau satu bangsa mencaplok wilayah bangsa lain untuk menguasai sumber daya alam. Ketakutan akan mati kelaparan dialihkan dan dilupakan dengan upaya memiliki segala macam properti dan hak milik. Hidup yang tidak memiliki apa pun tidak layak dibiarkan. Miliki sebanyak apa pun, maka anda akan semakin ada.
Seorang teman dari Kongo pernah bercerita, ketika kami dalam keadaan setengah mabuk karena minum anggur, tentang pengalamannya waktu masih remaja. Ia terbiasa mengkonsumsi narkoba untuk memberanikan diri bekerja di pertambangan mineral. Dalam kondisi tempat kerja yang jauh dari jaminan keselamatan, ia masuk ke dalam perut bumi dengan resiko terkubur hidup-hidup demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Ironisnya, hasil mineral itu lalu diekspor ke negara-negara Eropa sebagai bahan baku pembuatan baterai, lalu mereka membelinya dari pasar Eropa. Ini adalah salah satu contoh dari sekian banyak fakta: Masih banyak manusia yang rela menempuh resiko kehilangan nyawa demi memiliki uang. Dan uang digunakan demi bertahan hidup.
Akan tetapi, kepemilikan tidak selalu berkaitan dengan properti-properti fisik. Di balik sisi gemerlap budaya Pop Korea, ada sisi gelap tentang sejumlah artis yang bunuh diri karena dituntut menampilkan citra sempurna atau mengalami perundungan warga internet di media sosial. Janji-janji revolusi digital untuk mempermudah hidup kita juga menghasilkan suatu kebutuhan baru, yakni perhatian warga dunia maya. Obsesi untuk memenuhi kebutuhan ini hanya mungkin lahir dari «suatu dunia dari manusia-manusia yang kesepian». Situasinya lebih buruk dari kondisi kaum buruh yang terlantar di kapitalisme awal, sebab mereka masih bisa merasakan keterlantaran itu sama-sama. Sedangkan dalam kapitalisme digital, perasaan sepenanggungan tidak lagi relevan. Untuk mengejar «centang biru», anda dirangsang untuk memiliki perhatian warga maya, bahkan kalau itu diperoleh dengan cara-cara nyleneh yang tidak pernah dibayangkan orang lain. Rupanya, bertahan hidup saja tidak cukup tanpa memiliki penilaian orang lain.
Entahlah, mungkin saya terlalu pesimis melihat dunia manusia. Semakin menua, semakin banyak orang muda yang terlalu cepat menjadi seperti lansia di panti jompo: Haus perhatian, merasa tersisih, ingin dikelilingi dan mendapat pengakuan. Tampaknya hampir begitu sulit untuk hidup tanpa atribut-atribut kepemilikan pada harta benda dan opini dunia maya. Demi kepemilikan itu, kemesraan jadi citra yang diumbar-umbar untuk memperoleh semakin banyak perhatian dan pengikut. Kenikmatan dan kehangatan dari suatu pelukan, ciuman, dan intimitas tidak lagi menjadi hasrat alami-manusiawi asalkan demi monetisasi.
Dalam keadaan seperti itu, yang sebenarnya terjadi adalah kita tidak lagi bisa menggunakan secara intensif dan sadar tubuh kita. Sebab tubuh dipaksa beroperasi menjadi semacam kail untuk memancing iklan-iklan sekian menit. Kail itu harus kelihatan sempurna. Apa yang dipandang cacat harus dimanipulasi dengan teknik kolase dan pengeditan digital. Semakin lama, kita semakin lupa bahwa kerentanan adalah fakta yang tidak bisa dilepaskan dari kebertubuhan. Semakin tidak menyadari kerentanan tubuh, semakin kita kehilangan kebebasan untuk menggunakan tubuh sendiri.
Sampai di paragraf ini, saya teringat akan tulisan Heidegger, Die Armut (kemiskinan), yang berisi permenungannya mengenai kondisi rentan manusia ketika tidak memiliki apa-apa. Ditulis dalam kondisi perang dunia ke-2, ketika tentara Uni Soviet menguasai Berlin, sementara Prancis merangsek masuk Freiburg. Seluruh infrastruktur dan bangunan hancur lebur dan hanya meninggalkan warga sipil yang berjalan gontai tanpa arah, tanpa milik apa pun. Perhatian Heidegger tercurah pada fragmen Höderlin yang menafsirkan suatu perikop dari 2 Kor. 8, «Yesus yang dari kekayaannya menjadikan dirinya miskin agar kita menjadi kaya dalam kemiskinannya». Diubah menjadi pertanyaan filosofis, rumusannya menjadi demikian: «Apa artinya menjadi miskin jika melalui kemiskinan itu, kita menjadi kaya»?
Kemiskinan yang dimaksud bukan kuantitatif melainkan kualitatif, demikian juga dengan kekayaan. Menjadi miskin secara batin bukanlah «tidak memiliki apa-apa», melainkan «merasa kekurangan». Kaya juga bukan memiliki barang dan perhatian sebanyak mungkin, melainkan memiliki diri kita sendiri, yakni menyadari dan menerima kerentanan hidup. Lanjut lagi menurut Heidegger, seseorang benar-benar merasa kekurangan secara kualitatif justru dengan menyadari bahwa segala macam harta benda dan penilaian orang lain tidak pernah memuaskan dirinya. Memang, manusia memiliki kemampuan untuk mengatur dunia di sekitarnya, tetapi ia juga mampu untuk terbuka pada dunia. Benda-benda mati tidak memiliki apa pun. Sedangkan hewan selalu hidup miskin, seperti kuda yang makan rumput tanpa memiliki hak milik atas rumput. Namun justru dalam kemiskinannya, hewan dengan pengharapan yang pedih menantikan pembebasan dari kebinasaan (Rom 8:19).
Di sini, Heidegger bermaksud menunjukkan bahwa kemiskinan kualitatif dapat dirasakan manusia ketika ia menyadari kondisi kebinatangannya. Sayangnya, kesadaran itu mengalir persis saat seseorang kehilangan kepemilikan atas benda-benda dan menjadi seperti binatang, seperti dalam situasi perang. Dalam kekurangan, ia terbuka pada makna baru yang disingkapkan dunia. Dalam intensitas merasakan kerentanan, manusia baru memahami bahwa selama ini ia sebenarnya tidak membutuhkan «hal-hal yang harus dipenuhi (baca: harta benda dan pengakuan)», tetapi membutuhkan «hal yang tidak harus dipenuhi dan tidak harus dimiliki». Itu adalah kebebasan yang tidak dapat dimiliki (non-avere), tetapi yang dihidupi dan dirawat dalam proses menjadi diri sendiri secara terus menerus (essere). Miskin berarti bebas untuk berproses dengan diri sendiri. Siapa yang selalu merasa kekurangan untuk mengenali diri sendiri, bisa merasakan kekayaan dirinya yang justru bersemayam dalam kelemahan dan kerentanan. Lebih dari itu barangsiapa miskin (Armut), ia menjadi berani (Mut). Kekayaan manusia terletak pada kebebasannya!
Dari Heidegger saya ingin kembali pada suatu tema menarik di kanal Youtube, TED, tentang presentasi Imran Chaudhri yang menjelaskan kecanggihan kecerdasan buatan dalam Humane’s Screenless Tech. Lebih mutakhir daripada ponsel cerdas, teknologi ini bisa merekam seluruh situasi kesehatan dan gejolak emosi kita, lantas bisa memberikan nasehat-nasehat praktis yang berguna bagi kehidupan individu per individu secara lebih presisi. Yang menarik adalah saat Chaudhri mengakui, bahwa ketika teknologi tersebut menasehati seseorang untuk berpantang makan ini dan itu, bagaimana pun juga kontrol tetap ada di pihak kita. Bagi saya, persis karena kecerdasan buatan ini bisa saja merumuskan secara tepat seluruh sistem kerja tubuh kita, tetapi tidak bisa merasakan seperti apa rasa nikmat makan pecel lele, atau rasa kesepian karena merasa tidak diperhatikan. Manusia secara sadar bisa memutuskan untuk tetap makan ketimun sekalipun beresiko akan pusing karena darah rendah. Contoh ini untuk menunjukkan, kepemilikan pada barang-barang digital tidak bisa menggantikan rasa kekurangan akan kebebasan. Hanya itu hal terakhir yang bisa diupayakan oleh gelandangan paling miskin di dunia.
Sebagian manusia banyak berandai-andai tentang nikmat surga di «planet antah berantah», sementara mengutuki dunia sebagai «tempat pembuangan yang terkutuk». Sebagian lainnya lagi menghapus dalam kepalanya angan-angan tentang surga antah berantah, dan sebagai gantinya menciptakan surga di dunia dengan sebisa mungkin memiliki sebanyak apa pun barang-barang dan pengakuan orang lain. Kedua cara ini barangkali bisa menunda ketakutan pada hidup yang punya batas akhir, tetapi belum tentu membangkitkan keberanian pada hidup di dunia. Bukan sekedar bertahan hidup, tetapi suatu cara hidup yang terbuka pada makna yang disingkapkan dunia. Pernahkan anda merasa tenang tanpa kehilangan «rasa kekurangan» hanya dengan mendengarkan suara jangkrik, melihat bentang alam dan bintang-bintang, atau mendengar nyanyian di Pos Ronda pada malam hari?
Ketenangan seperti ini dirasakan oleh sebagian orang yang tidak mengutuki dunia sekaligus tidak terlalu menggebu-gebu pada surga antah berantah. Neraka atau Surga bisa kita rasakan dan ciptakan di dunia ini. Barangkali rasa kesepian orang-orang di zaman digital bukan karena tidak memiliki dunia alat-alat, tetapi karena kurang merasakan pertemuan dan sentuhan; percakapan dan gairah; tatapan dan intimitas. Manusia tidak memeluk dan menciumi ponsel cerdas. Kita tidak bergantung pada alat-alat cerdas melainkan saling bergantung antar manusia. Akan tetapi, saya ngeri membayangkannya, kalau kecanggihan alat-alat memang tidak terbendung sebagai pengganti rasa kesalingtergantungan antar manusia, bisa jadi kita akan menjadi seperti batu yang tidak memiliki apa pun. Bahkan tidak menemukan satu orang pun yang benar-benar kita bisa cintai dan mencintai kita. Kalau ini terjadi, memang mesti ada kemungkinan di luar manusia yang bisa menyelamatkannya.
Apa artinya menjadi miskin jika melalui kemiskinan itu, kita menjadi kaya..? Mantap juga pertanyaan ini, bang.
Dimasa depan, saya kira Artificial Inteligent akan mengendalikan manusia seutuhnya. Kita sama-sama telah menyaksikan, bagaimana penjaga jalan Tol, tergantikan oleh Elektronik Tol, kita juga menyaksikan, bagaimana ketergantungan manusia pada teknologi. Termasuk sistem kerja politik juga ditentukan oleh teknologi…. Terima kasih bang….
Terima kasih Mo…