Terlepas dari ketidakpercayaan saya terhadap penghargaan dan hukuman, saya bersedia menerima il premio Nonino [1], karena alasan sederhana, bahwa yayasan ini dalam undang-undangnya secara eksplisit menyatakan «penghormatan terhadap peradaban pedesaan». Saya ingin merefleksikan bersama Anda dua kata dari «peradaban pedesaan (la civiltà contadina)». Sebab kalaupun ada bagian dari peradaban ini yang masih bertahan, kita tahu bahwa peradaban pedesaan tidak lagi ada, selain menjadi bagian dari masa lalu. Pada tahun-tahun kelahiran saya, warga petani-desa masih merupakan mayoritas dari penduduk Italia. Namun, generasi saya telah melihat mereka semakin menghilang begitu cepat.
Para sejarawan di masa depan tidak akan berhenti dibuat heran oleh fakta bahwa hanya dibutuhkan waktu yang sangat singkat bagi suatu kebudayaan yang secara umum tidak berubah selama lima ribu tahun untuk lenyap. Tidak kalah mengejutkan lagi, betapa mudahnya kita terbuai oleh para penjaja kemajuan (gli imbonitori del progressismo). Ini merupakan fenomena yang tak terhindarkan. Saking begitu tak terhindarkan, sehingga aneh bin ajaib untuk mewujudkannya diperlukan penggunaan kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap mereka yang terdampak.
Saya tidak hanya mengacu hanya pada suatu genosida yang benar-benar nyata, yakni pemusnahan para petani di Uni-Soviet (saya ingin mengenang peristiwa itu yang hari ini persis diperingati). Peristiwa itu telah memakan korban yang jumlahnya mungkin dua atau tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan genosida orang Yahudi. Namun di sini saya juga mengacu pada aksi kekerasan dengan mendeportasi kaum petani di wilayah selatan Italia ke kawasan pabrik di wilayah Utara Italia – meskipun dilakukan dengan pendekatan lebih halus, jelas hal itu tetap merupakan suatu kekerasan. Kekerasan demi kemajuan itu perlu dilakukan (sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya) karena sosok dari zaman baru telah muncul di ambang sejarah dan sejak saat itu ia akan menandai perjalanan abad-abad yang akan datang, yakni: «Pekerja».
Pada 1938, terbit buku Ernst Jünger dengan judul Der Arbeiter (Pekerja). Buku ini membawa pengaruh besar pada spektrum politik Eropa baik dari sayap kanan maupun sayap kiri. Inti dari buku ini terdapat pada deskripsi dan teorinya tentang sosok dari zaman baru, yang menggantikan para petani-desa (Jüngerlah yang pertama kali mengajukan sebutan ini), kaum aristokrat, dan kaum borjuis. Menurut Jünger seluruh modernitas bertumpu pada teknik: «tidak lain merupakan suatu cara yang dengannya sosok pekerja memobilisasi dunia».
Memang betul, semua yang terjadi pada saat itu adalah kesalahan. Betul-betul kesalahan. Sosok penting abad itu (pekerja), yang telah diagung-agungkan, diceritakan, dipentaskan dan dirayakan tak terhitung jumlahnya dengan cinta, tetapi juga ditolak dengan kebencian dan cacian, menghilang secepat kemunculannya. Tentu sekarang masih ada para pekerja. Namun pekerja sebagai sosok zaman sekarang telah menjadi bagian dari masa lalu, mirip warga petani-desa yang telah ia singkirkan sebelumnya. Sukar mengatakan sosok sejarah macam apa yang ada di masa depan: Barangkali teknokrat, ilmuwan, atau sosok digital yang wajahnya terlihat kabur bagi kita. Akan tetapi, yang jelas sosok itu bukanlah pekerja.
Jakobson pernah berkata perihal nasib tragis para penyair Rusia di awal abad ke-20 serta tentang «suatu generasi yang telah menyia-nyiakan para penyairnya»: Kita jelas-jelas adalah generasi yang hanya dalam beberapa dekade telah menyia-nyiakan warisan paling antik dan tidak tahu lagi harus menggantinya dengan apa.
Saya ingin mengakhiri dengan kata-kata dari seorang pengarang yang telah menuliskan kesaksian paling luar biasa tentang akhir dari peradaban pedesaan. Dia adalah Carlo Levi. Seharusnya tidak seorang pun bosan untuk merefleksikan suatu fakta bahwa pada tahun-tahun yang sama Carlo Levi dan Primo Levi memublikasikan dua buku paling penting dalam literatur Italia abad ke-20: Cristo si è fermato a Eboli (Kristus berhenti di Eboli, 1945) dan Se questo è un uomo (Jika ini adalah seorang manusia, 1947). Dalam roman L’orologio (jam tangan), yang diterbitkan pada 1950, dengan latar belakang peristiwa di bulan-bulan tahun 1945, ketika pemerintah Parri, yang lahir dari Komite Pembebasan Nasional menyerah pada kegagalan politik, Levi mengusulkan untuk membagi dunia ke dalam dua kelas: Warga Pedesaan (i Contadini) dan para Luigini (i Luigini).
Warga pedesaan bagi Levi adalah «mereka yang mengerjakan sesuatu, mencintai pekerjaan itu dan dari situ mengalami sukacita». Warga Pedesaan baginya bukan sekedar i contadini dalam arti sempit, tetapi juga mencakup pekerja industri, para pengrajin, para pengusaha, ahli matematika, para penyair, ibu-ibu rumah tangga. Singkatnya, «mereka yang mengerjakan sesuatu». Sedangkan para Luigini adalah orang-orang selain mereka, para birokrat, organisator, para politisi, mediator dan mediokrat dalam bentuk apa pun, yang hidup dengan memeras kerja dan keahlian para Warga Pedesaan. Levi seakan bernubuat dalam tulisannya: «Kebenarannya adalah bahwa bentuk dari partai-partai kita sangat tersusun rapi (luigine), teknik dari kerja-kerja politik kita dan struktur dari negara kita sangat tersusun rapi».
Italia (menurut keyakinan saya) tidak pernah ada kecuali barangkali dalam beberapa bulan atau dalam dua tahun antara 1945 dan 1947. Ia berhenti ada pada Pemilihan Umum 1948, yang menandai kemenangan para Luigini. Sebelum kemenangan itu tampaknya untuk sesaat memang mungkin, bahwa Warga Pedesaan akhirnya akan menyingkirkan para Luigini. Saya mendedikasikan penghargaan ini kepada i Contadini dan bukan pada i Luigini.
[1] Il premio Nonino adalah penghargaan di bidang budaya, sastra, dan enogastronomi, yang bertujuan untuk «meningkatkan peradaban pedesaan». Sejak didirikan pada tahun 1975, penghargaan ini diselenggarakan dan dikelola oleh keluarga Nonino, di Percoto, Pavia, Udine.
Diutarakan dalam kesempatan penganugerahan il premio Nonino pada hari Sabtu, 26 Januari 2018, di Pabrik Penyulingan Ronchi, di Percoto, Udine. Diterjemahkan dari Rubrica di Giorgio Agamben, «Il contadino e l’operaio», 27 Januari 2018, https://www.quodlibet.it/agamben-contadino-operaio