Dari mana kita memulai omongan ini? Kita akan memulainya dari hasrat manusia akan kebebasan individu melalui imajinasi kolektif. Ini adalah suatu hasrat purba manusia untuk bisa membebaskan dirinya dari batasan-batasan alam. Namun dengan pertimbangan yang masak, manusia sadar bahwa hasrat tersebut bisa berujung pada konflik kepentingan dan perang saling membinasakan. Untuk itulah dibentuklah kelompok-kelompok kecil berdasarkan garis keturunan. Kita menyebutnya ikatan kesukuan.
Dalam setiap suku, mereka bekerja sama untuk bertahan hidup dan mempertahakan diri dari ancaman suku lain. Perlahan-lahan wilayah di tepian sungai mulai diperebutkan. Semakin luas menjauhi pinggiran sungai, setiap suku mematok wilayahnya untuk mendomestifikasi hewan dan tanaman. Mereka memasuki periode pertanian.
Namun ikatan garis keturunan saja tidak cukup dalam pembentukan sentimen identitas. Imajinasi setiap anggota dalam suatu suku lantas membentuk batasan-batasan kebudayaan. Di dalamnya ada sistem kepercayaan akan dunia abadi nenek moyang, lalu berkembang menjadi dunia adikodrati yang menopang dunia fisik. Juga ada norma-norma etis yang mengikat setiap anggotanya, lengkap dengan cerita-cerita yang diwariskan. Seluruh produk imajinasi ini diturunkan dari kemampuan manusia dalam menyusun suatu sistem bahasa untuk berkomunikasi dan mewariskan kebudayaan.
Bersamaan dengan kesadaran akan bahayanya keseringan berperang antar suku, maka bahasa juga dipakai sebagai alat diplomasi untuk melakukan genjatan senjata. Dan seiring sulitnya pemenuhan kebutuhan suatu suku dilakukan secara mandiri, beberapa suku membentuk koalisi, lalu lebih jauh lagi membentuk suatu kerajaan. Konflik diperluas menjadi antar kerajaan. Namun rupanya seperti pada kasus hubungan antar suku, antar kerajaan pun pada akhirnya mesti saling menjalin kesepakatan baik dalam urusan geo-politik maupun geo-ekonomi. Sekali lagi bahasa adalah alatnya.
Dari situ, manusia mulai membentuk suatu sistem bahasa yang semakin efektif, mudah dipelajari, dan efisien. Sistem bahasa yang pada mulanya diungkapkan melalui bentuk simbol gambar, lalu melalui susunan suku kata dinilai kurang efektif dalam hubungan perdagangan. Karena itulah mulai dirancang bahasa yang tersusun berdasarkan alfabet. Susunan huruf membentuk suatu kata tertulis maupun tuturan dan cukup untuk mengabstraksikan satu benda. Dari Yunanilah awal mula bahasa alfabet, sehingga tidak heran filsafat yang menjadi titik awal ilmu pengetahuan lahir di sana.
Semakin besar suatu wilayah kerajaan, semakin rumit dan njelimet norma-norma etis dan sistem kebudayaannya. Cerita-cerita tentang dewa-dewi juga semakin seru dan panjang. Kali ini hasrat manusia bukan saja ingin bebas dari batasan-batasan alam, melainkan batasan-batasan sistem sosial. Platon, misalnya, mengkritik mitos-mitos saat itu dan memodifikasinya untuk meredam «budaya balas dendam» antar negara-kota di Atena. Melalui mitos baru, suatu sistem pendidikan anak muda diarahkan pada pembentukan warga negara yang mampu berdiskursus secara rasional: «Tidak ada persoalan yang tidak bisa dibicarakan». Aristoteles malahan, lebih memilih meninggalkan bahasa mitos. Ia cenderung melatih orang berbahasa dan berpikir secara logis, lengkap dengan sistem pengetahuan yang terbagi secara rapi: Teori, praksis, dan teknik. Namun ketiganya sama-sama mengupayakan kebebasan rasional setiap individu dalam suatu jejaring komunitas negara-kota yang solid.
Upaya mereka tidak berhasil juga. Terbukti, ekspansi Persia berhasil membawa kebudayaan Yunani pada keruntuhan, persis rupanya antar negara kota tidak selalu bisa bersatu padu. Untunglah kebudayaan Yunani dilestarikan oleh Kerajaan Romawi menjadi helenisme. Kesulitan untuk mengelola wilayah yang luas memicu pembagian dua wilayah Kerajaan: Romawi Timur dan Romawi Barat. Namun rupanya pembagian tersebut tidak mengatasi krisis. Perang saudara dan korupsi, ditambah lagi serangan dari bangsa Goth memperlemah kekaisaran Romawi Barat.
Krisis kebudayaan helenisme diatasi dengan mengambil alih, tentu saja setelah melalui proses penolakan, kebudayaan kekristenan. Dari Konstantinopel, restorasi Romawi Barat mulai dilakukan dengan kolaborasi antara kuasa Kerajaan dan Gereja. Sejak kekristenan dijadikan agama negara oleh Kaisar Theodisius, agama beserta capaian ilmu pengetahuan Yunani yang dianggap usang dan tidak kristiani dihancurleburkan. Praktis pada abad ke-7, hanya sebagian produk-produk ilmu pengetahuan dan kebudayaan Yunani Klasik yang masih bertahan, sebagian besar tentang logika dan beberapa refleksi filosofis yang masih bisa disesuaikan dengan alam pikiran Kristiani.
Kebudayaan Yunani belum berakhir di situ. Kemunculan Islam beserta perangkat institusi politiknya berekspansi dengan cepat, bukan hanya mulai merangsek wilayah Konstantinopel, melainkan juga memanfaatkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Yunani. Kita mengenal Baitul Hikmah, suatu pusat pendidikan dan perpustakaan yang menyimpan berbagai literatur pengetahuan di masa itu. Kontak wilayah Eropa dengan pengetahuan Yunani kembali secara intensif pada sekitar awal abad ke-11, persis pada periode Kerajaan Islam mulai merangsek wilayah Eropa. Penerjemahan para pemikir Yunani mulai digalakkan di universitas-universitas tua di Bologna, Paris, Oxford, dan Cambridge. Saat pengaruh Aristoteles tidak terbendung lagi di Barat, Aristotelianisme dalam pemikiran Ibn Rush dan Ibn Sina justru meredup di wilayah kekuasaan Islam. Mirip seperti terjadi pada kerajaan Romawi Kuno, perang saudara dan serangan dari Bangsa Mongolia menjadi faktor besar penyumbang keruntuhan kemajuan ilmu pengetahuan di wilayah kerajaan Islam. Faktor lainnya adalah kejumudan dan fanatisme buta dalam beragama.
Aristoteles tidak selalu menjadi primadona bagi kriteria pengetahuan. Sekitar abad ke-13 sampai ke-14, mulai timbul reaksi penolakan terhadap kecenderungan mengawinkan teologi Kristiani dan Aristotelianisme. Uniknya, dakwaan sesat terhadap proposisi-proposisi Aristotelianisme dan Averoisme malah memicu studi yang semakin dalam tentang mereka, bahkan para pemikir abad itu memodifikasinya. Singkatnya semangat akan pengetahuan yang dipicu para pemikir Yunani tetap dikembangkan di satu pihak, dan di pihak lain persoalan teologis dikembalikan ke wilayah iman.
Pemisahan antara persoalan adikodrati dan persoalan tentang dunia-alam diiringi dengan semakin besarnya geliat dari berbagai kerajaan untuk melepaskan diri dari kekuasaan politik Gereja. Di sini sekali lagi kita melihat hasrat purba manusia untuk bebas dari jerat sistem sosial yang dianggap usang dan berlebihan. Selain itu, wabah sampar yang membunuh banyak pasukan perang Salib, lalu wabah Pes yang membunuh sepertiga penduduk Eropa, mendorong geliat yang berkobar-kobar untuk mengatasi batasan-batasan alam. Kekangan jerat-jerat elit Gereja berpadu dengan dorongan untuk menelaah alam lepas dari doktrin-doktrin agama.
Pola berpikir Abad Pertengahan yang spekulatif, dengan silogisme yang mendetail dan argumentasi yang berlapis-lapis, sampai pada titik jenuh. Rumusan-rumusan teoritis yang tidak perlu mesti dipangkas dan diringkas. Ini adalah suatu penyederhanaan teori tanpa simplifikasi. Ditambah lagi, teks-teks pemikir Islam sekitar abad ke-7 dan ke-11 yang sudah berbicara tentang perangkat optik, pengamatan alam, dan anatomi tubuh berperan besar untuk menyintesakan antara «pemangkasan teori» dan «pengamatan empiris»; suatu kesesuaian antara rasio dan sensasi inderawi. Namun jangan terburu-buru: Kita belum memasuki empirisme yang menjadi titik awal dari Sains Modern.
Renaissance adalah tahap awal penting dari revolusi saintifik. Kelahiran kembali berarti kemunculan kembali semangat untuk menggali lebih tepat lagi warisan kebudayaan dan pengetahuan Yunani. Juga di dalamnya lahir semangat humanisme yang mendorong munculnya para pemikir yang berani berpikir sendiri dan melakukan penelitian di luar skema fisika Aristotelian-Ptolomeus, sekali pun dengan sikap cukup diplomatis dengan Gereja. Sebab mereka sangat berhati-hati agar tidak diseret ke hadapan pengadilan Inkwisisi. Baru mulai Reformasi Protestanisme, lalu revolusi Prancis, sampai awal abad ke-20, secara berangsur-angsur Gereja Roma kehilangan kekuasaan politiknya dan akhirnya, harus puas dengan menghuni negara kota Vatikan di Roma. Bersamaan dengan pemangkasan kekuasaan politik gerejawi, keberanian banyak untuk berpikir sendiri semakin tak terbendung.
Dari sudut ide, di titik mana Empirisme Modern yang membidani lahirnya Sains Modern muncul ? Kita tidak bisa melepaskan ide tersebut dari pemisahan struktur politik masyarakat Barat antara persoalan profan dan sakral. Kita sedikit kembali pada alam kerangka berpikir Abad Pertengahan. Seluruh fenomena alam dijelaskan melalui empat macam penyebaban Aristotelian: causa materialis, causa formalis, causa efficiens, dan causa finalis. Pelaku penyebaban (causa efficiens) dan tujuan (causa finalis) dimasukkan sebagai penyebab esensial dalam suatu susunan hirarkis yang berasal dan berakhir pada Allah. Sedangkan dua penyebab lainnya termasuk penyebab aksidental. Kemudian, beberapa pemikir Abad Pertengahan Akhir mulai tidak menganggap penting pemisahan antara penyebab aksidental dan esensial. Persis ketika suatu sistem politik tidak perlu lagi dijelaskan lagi dengan mencari asal-usulnya dari penyebab tertinggi dan tujuan akhir, bersamaan itu, penjelasan tentang alam juga tidak perlu lagi berspekulasi tentang Allah sebagai awal dan tujuan. Biarkanlah Allah menjadi iman dan tidak perlu dijadikan tambahan-tambahan yang memperumit dan membebani suatu teori ilmu pengetahuan. Namun sekali lagi, ini belumlah empirisme.
Empirisme yang baru terjadi pada abad ke-19 bekerja dengan cara demikian: Causa formalis (mekanisme kerja alam) tidak perlu dipisahkan dari dan bahkan cukup melalui causa materialis (pengamatan inderawi), lantas dijelaskan melalui rumus-rumus matematis. Sedangkan penyebab awal dan tujuan akhir tidak lagi dilibatkan dalam penelitian ilmu pengetahuan. Lex naturalis (hukum kodrat) diganti menjadi lex naturae (hukum alam). Alam tidak lagi mengandung misteri adikodrati, tetapi hanyalah persoalan yang akan bisa dipecahkan dengan menemukan hukum-hukum yang bekerja di baliknya.
Sains modern bertumbuh bersama dengan iklim liberalisme: Suatu optimisme bahwa kemajuan peradaban manusia dimulai dari kebebasan setiap individu dalam berpikir, memutuskan, dan memecahkan persoalan. Uniknya semakin maju penelitian akan alam, dengan rumpun ilmu yang semakin spesifik, semakin manusia menemukan di dalamnya suatu fakta bahwa dirinya adalah bagian tak terpisahkan dari alam. Kita adalah proses evolusi jutaan tahun dari titik awal kehidupan materi yang asal-usulnya dari debu-debu bintang. Penelitian atas manusia tidaklah berbeda seperti pada alam.
Liberalisme yang pada mulanya meyakini adanya kehendak bebas sebagai suatu entitas metafisik – rupanya hal-hal adikodrati tidak langsung dilupakan, setidaknya dalam rasionalisme –, mulai dipersoalkan. Biologi evolusioner mengajukan tesis yang meruntuhkan keyakinan akan jiwa yang bebas sebagai fondasi kebebasan individu, yakni: Kita sekedar «merasa bebas» berkat mekanisme otak, warisan genetik, dan reaksi hormonal. Adalah cukup bahwa institusi negara modern bertugas menjamin setiap individu untuk merasa bebas. Sekarang, kebebasan lebih dilihat secara politis.
Sains Modern yang bertumbuh subur dalam kondisi politik liberal justru membunuh sendiri kejayaan jiwa yang bebas. Akan tetapi sampai sekarang, «mitos kehendak bebas» belum kunjung dipegang sebagai satu-satunya jawaban. Sebagian besar manusia tidak rela kehilangan «ide paling berharga tentang jiwa yang bebas dan abadi». Seruan bahwa, «mati adalah mati dan sia-sialah iman akan kebangkitan», menembus jantung pertahanan glorifikasi manusia akan jiwa selama ribuan tahun. Horor ketiadaan tidak bisa diterima: «Aku tidak rela! Sungguh ku tak rela !» Perdebatan antara «psikologi tanpa jiwa» dan «psikologi spekulatif» masih terus berlangsung. Kapankah berakhir?
Saya mengandaikan, kalau memang seluruh sistem kehidupan dan kesadaran manusia adalah sekedar persoalan rumusan algoritma biologis, maka tinggal menunggu waktu saja manusia bisa menciptakan suatu mesin buatan yang hidup berkesadaran. Jika dan hanya jika AI (Artificial Intelligence) bisa memiliki kesadaran persis seperti manusia, maka itulah bukti paling nyata dan gamblang bahwa kita tidak memiliki jiwa abadi selain mesin biologis yang canggih. Kesadaran adalah hasil dari materialisme dan bukan sebaliknya. Hanya saja, mungkin ini hiburannya, AI belum sampai pada kesadaran diri. Pembuktian ini masih memerlukan waktu. Sementara bumi yang sekarat, karena perilaku manusia yang populasinya semakin meningkat, terasa mempersempit waktu spesies manusia untuk melakukan pembuktian tersebut. Atau mungkin sebaliknya, manusia kelak akan menemukan bukti empiris tentang jiwa. Tetapi bukankah keyakinan tua akan keabadian jiwa begitu kuat memegang prinsip «yang adi-kodrati melampaui batas-batas netra»? Jiwa yang bebas dan bisa dibuktikan, benar ada dan bisa ?