FIFA sudah membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Keputusan ini diambil menyusul penolakan dari sejumlah kepala daerah, partai politik, organisasi keagamaan, dan ormas-ormas terhadap keikutsertaan timnas Israel di ajang tersebut. Alasannya secara umum sama, yakni: demi kemanusiaan yang menolak penjajahan Israel terhadap Palestina. Tapi dari kesamaan itu terdapat klaim-klaim dan konsep yang berbeda tentang kemanusiaan dan penjajahan. Cukup dengan menggelontorkan dua pertanyaan ini, para penolak akan berdebat: Kemanusiaan menurut siapa dan klaim berdasarkan apa sehingga dapat dikatakan bahwa kaum tertentu layak menyandang sebagai penghuni asli dari wilayah yang sekarang menjadi pusat konflik Israel-Palestina?
Setiap klaim memiliki alasan-alasan untuk mendukungnya. Dan setiap alasan diajukan berdasarkan «seberapa banyak yang diketahui». Persis di sinilah kesulitan untuk menemukan titik temu, selain ngeyel (bebal) dengan klaim-klaim masing-masing. Kemanusiaan dan pemilik sah wilayah itu hanya bisa benar kalau mendasarkan pada pernyataan kami. Sebab pernyataan kami menuruti firman Kitab Suci. Kitab kami ini sungguh-sungguh dari Tuhan yang benar. Tuhan kami ini sungguh benar sebagaimana dikatakan Kitab Suci. Lalu kembali lagi, Kitab Suci ini benar karena Tuhan dalam Kitab Suci mengatakannya benar. Mbulet (ruwet). Muter-muter koyok godong neng got mampet (berputar-putar macam daun di selokan yang macet). Memang yang paling merepotkan itu kalau sudah menggunakan klaim-klaim teologis.
Kalau, andaikan, kita berbicara tentang “siapa manusia-manusia yang berhak memiliki wilayah itu”, tanpa merujuk kitab-kitab apapun yang diyakini suci, barangkali kita hanya menemukan ini. Dalam perjalanan sejarah, klaim ditulis oleh mereka yang memenangkan perang untuk mengambil alih kepemilikan wilayah. Kejam, bukan? Memang, itulah fakta sejarah tentang manusia. Mereka bertahan hidup dalam kelompoknya dengan seperangkat peradaban yang diyakini luhur, tetapi dibangun di atas darah dan tulang-belulang korban perang dan perampasan. Begitu perang terjadi, selalu ada tuhan-tuhan yang dilibatkan di dalamnya. Setelah hancur berkeping-keping, baru mereka sadar bahwa bagaimana pun juga, hak hidup setiap orang itulah yang paling penting. Tuhan-tuhan akan dilibatkan setelahnya, dalam dokumen-dokumen perdamaian. Tuhan datang pagi-pagi buta ketika perang tetapi bangun kesiangan dalam perdamaian. Rupanya tuhan-tuhan yang punah dan muncul tetap sama gejalanya. Mereka adalah “Yang dipertuankan” dari suku-suku dan dari bangsa-bangsa. Sekarang ia menjadi tuhannya tim nasional sepak bola.
Selalu ada tuhan, baik dipertontonkan secara terbuka maupun disembunyikan diam-diam, dalam setiap peradaban. Dan mekanisme peradaban manusia dimulai dari keinginan bertahan hidup setiap orang dengan menguasai dan mengelola sumber-sumber alam, lalu membuat kesepakatan dalam suatu kelompok, lantas memperkuat ikatan sekaligus ciri pembeda dengan meyakini suatu tuhan kita yang mengatasi alam. Yakin tanpa syarat adalah tanda cinta pada peradaban kita. Semakin fanatik, semakin hebat kelompok kita. Semakin sering perang melawan kelompok lain, semakin ada kemungkinan kita akan menjadi pemenang (juga kemungkinan menjadi pecundang).
Karena itu, kalau kita ingin terus melanjutkan mekanisme “peradaban yang sudah-sudah”, marilah kita senantiasa menaruh fanatisme sebagai nilai tertinggi dari kelompok kita masing-masing. Siapa tahu, hari ini kita telanjang, esok kita bergelimang harta rampasan. Barang siapa ingin generasi-generasinya menjadi fanatik, jangan biarkan seorang anak muda mengetahui banyak hal. Propagandakan mereka untuk menjadi seorang spesialis di satu bidang kehidupan, dan buat mereka buta pada bidang dan pengetahuan lainnya. Sebab luasnya wawasan adalah kubur bagi tuhan-tuhan. Fanatisme kita akan segera berkarat dan atau bernasib menjadi barang antik yang dijadikan tontonan di museum-museum.
Jauhkan kelompok kita dari sikap ilmiah. Sikap ini terbiasa untuk mengetahui dengan mendalam dan mendetail satu bidang yang mereka minati, tetapi tetap memberi waktu untuk mempelajari bidang-bidang lainnya. Spesialis tetapi juga generalis. Namun, ketika orang yang bersikap ilmiah ditanya tentang hal-hal di luar bidang spesialisnya, mereka akan menjawab, “Saya kurang tahu (atau bahkan tidak tahu), silahkan bertanya pada ahlinya.” Jawaban mereka selalu adalah pertanyaan lanjutan, dan kerendahan hati yang memuakkan macam ini sungguh berbahaya bagi masa depan fanatisme kita. Jangan beri pertanyaan pada semua jawaban, tetapi berilah satu jawaban yang berlaku untuk semua pertanyaan! Apapun pertanyaannya, ini kata tuhan, ini kata kakek-nenek, ini kata penyambung lidah tuhan. Sederhana, bukan?
Sekolah dapat menjadi mesin pencetak fanatisme dan kepicikan paling efektif. Boleh saja mengajarkan berbagai macam pengetahuan praktis dan teoritis pada anak-anak muda. Akan tetapi, ini harus dicatat, setiap di akhir jam pembelajaran, guru-guru harus membuat jalan kembali kepada keyakinan-keyakinan purba. Pastikan bahwa generasi kita yakin bahwa segala macam pengetahuan ini dituturkan oleh tuhan pada orang-orang tertentu. Sehingga cukupkan diri dengan belajar pada firman tuhan kita, yang di dalamnya semua pengetahuan sudah ada berkasnya. Tinggal dicetak. Jadi, tidak ada pengetahuan yang ditemukan dengan upaya yang menguras habis waktu, tenaga, dan pikiran. Tidak ada “patah hati ilmiah” karena harus meninggalkan suatu teori yang teramat dicintai, tetapi terbukti salah setelah melewati tahap-tahap pengujian. Jangan lakukan falsifikasi, tetapi lakukan rasionalisasi, maka akan semakin kelihatan canggih fanatisme kita!
Ada satu lagi, yakni bahasa, alat kekuasaan dari tuhan-tuhan yang berfirman. Buatlah sedimikian rupa sehingga setiap orang dari kelompok kita benar-benar percaya bahwa cukuplah mempelajari satu-satunya bahasa paling luhur. Membiarkan generasi muda mempelajari bahasa lain sama saja dengan memberi mereka pintu untuk masuk ke sembarang dunia, dan itu akan mengurangi fanatisme pada dunia kelompoknya. Sama seperti bidang pengetahuan, sungguh berbahaya mengetahui secara umum bahasa-bahasa lain. Dari situ, mereka akan teracuni oleh buku-buku selain firman tuhan. Sebaliknya pilihlah satu bahasa untuk disakralkan. Semakin kuno dan semakin asing dari kita, tetapi lalu dijadikan milik kelompok, maka semakin berbobot muatan kesuciannya. Sebab tuhan berbicara dan ia menggunakan bahasa yang disucikan.
Kalau boleh diringkas, inilah salah satu resep paling efektif untuk merawat fanatisme: “Buatlah generasi muda menjadi spesialis pada satu bidang pengetahuan, satu perspektif, dan satu bahasa yang sama untuk semua. Satu untuk kesamaan bagi kita semua. Dan bukan keragaman bagi setiap orang.” Mi sono spiegato, signori?
kalau saja bahasa yang digunakan adalaha bahasa yang disucikan maka tidak pantas bahasa itu ditulis di sandal japit bahkan di tempat sampah untuk menunjukan bahwa di situ sampah harus dibuang
kalau sandal japitnya, bisa disucikan juga kah?
kalau sandal japitnya, bisa disucikan juga kah?