Pada 2024 Harari menerbitkan buku berjudul Nexus. Buku dengan pendekatan sejarah ini memaparkan dan menganalisis sejarah informasi sampai pada bentuknya paling mutakhir, yakni teknologi digital. Argumen intinya adalah bahwa umat manusia memiliki kekuatan yang begitu besar atas alam dengan membangun jejaring kerjasama dan informasi. Jejaring informasi ini membentuk pengetahuan. Dan pengetahuan membentuk kekuataan. Namun ternyata kekuatan tidak otomatis mengarah pada kebijaksanaan. Dampak buruk penyalahgunaan kekuatan informasi bahkan akan semakin meningkat selama kita memahami teknologi secara instrumentalistik.
Menurut cara pandang lama, teknologi hanya alat. Pandangan ini meyakini bahwa efek buruk penyalahgunaan informasi bisa ditangani dengan memberikan semakin banyak asupan informasi, dan prosesnya dipercepat melalui teknologi digital. Kenyataannya tidaklah demikian: “Kecerdasan buatan bisa mengoperasikan informasi sendiri dan karena itu, ia bisa menggantikan peran manusia dalam memproses keputusan-keputusan” (Harari).
Pengetahuan yang dipahami sekedar akumulasi informasi tidak akan membawa pada kebijaksanaan. Sebab, kalaupun kumpulan informasi menghasilkan suatu pengetahuan; pengetahuan bukanlah kebijaksanaan. Cara menilai suatu pengetahuan dan menggunakannya dengan mempertimbangkan segala konsekuensi baru bisa disebut kebijaksanaan. Soalnya adalah ada berbagai perspektif dalam menilai suatu persoalan. Lagipula manusia condong untuk membenarkan preferensi nilai yang sudah ia asumsikan sebelum putusan. Tidak jarang perbedaan penilaian malah menimbulkan konflik dan bahkan berujung kekerasan.
Kritik Harari terhadap cara memahami teknologi secara instrumentalistik bukan sama sekali baru. Analisanya juga terbatas pada sudut pandang historis, tanpa memberi ruang cukup untuk mencermati esensi dari teknologi modern. Ketika berbicara tentang esensi, kita tidak sekedar menjelaskan proses perubahan dan perkembangan teknologi dari zaman ke zaman. Ini juga bukan soal pemahaman teknis tentang komponen-komponen suatu mesin canggih. Tidak cukup juga sekedar menjelaskan secara teknis bagaimana sebuah mesin bisa beroperasi. Esensi teknologi terutama berkenaan dengan kehidupan manusia; sejauh mana cara kerja teknologi berdampak secara radikal pada cara berada manusia.
Tentang esensi teknologi modern ini, refleksi Heidegger dalam Die Frage nach der Technik (Pertanyaan tentang Teknik, 1954) menarik untuk disimak. Baginya: “esensi teknologi sama sekali tidak bersifat teknis.” Tidak bersifat teknis berarti keluar dari cara memahami teknologi berdasarkan kerangka pengguna, cara pembuatan, cara mengoperasikannya, dan tujuan penggunaannya. Esensi teknologi bukan soal sebab-akibat (kausalitas) dari alat-alat, melainkan kemampuan teknologi untuk menyingkapkan.
Bagi Heidegger esensi teknologi secara umum adalah penyingkapan hal-hal yang tersembunyi (Unverborgenheit der Wahrheit). Tentang itu digunakan istilah “meletakkan” (stellen). Apa yang diletakkan? Teknologi mampu meletakkan “apa yang sebelumnya tersembunyi” menjadi terlihat di hadapan kita.
Dalam aktivitas teknik manusia memproduksi sesuatu. Produksi sendiri berakar dari bahasa yunani, yakni poiesis (Lat: pro-ducere; Jer: Her-vor-bringen). Artinya: “membawa ke depan” apa yang sebelumnya tersimpan dalam mental menjadi hadir sebagai buah dari aktivitas itu. Teknik pertukangan, kerajinan tangan, gastronomi, teknik pertanian dan nelayan, serta seni adalah contohnya.
Dalam aktivitas produksi, kita manusia masih menggunakan teknologi dalam batasan-batasan yang ditetapkan irama alam. Misalnya para petani masih mengolah tanah dengan mempertimbangkan kelestarian alam dan pergantian alamiah musim. Mereka tidak bisa menghasilkan panenan dengan memaksakan keinginannya, tanpa memperhitungkan poiesis alamiah bekerja.
Sistem produksi teknik tradisional berbeda dari teknologi modern. Karakteristik esensialnya berbeda dari yang sebelumnya. Karakter pertama adalah provokasi (Herausforden). Manusia diprovokasi teknik modern untuk menyingkapkan kandungan tersembunyi dalam alam. Provokasi itu mengarah pada tindakan mengatur dan memaksa alam untuk mengeluarkan energi tersembunyinya melalui cara-cara ekstraktif. Jika dalam produksi tradisional, manusia “meletakkan” jerih payahnya pada proses alamiah alam, dalam teknologi modern manusia diprovokasi untuk memaksa alam.
Misalnya teknologi modern dalam pertambangan memprovokasi terus-menerus manusia untuk memaksa alam mengeluarkan dari dalam perut bumi sumber-sumber mineral. Sumber mineral itu lalu diubah menjadi sumber energi yang kemudian bisa disimpan sebagai pasokan untuk dimanfaatkan di lain waktu. Di sini kita sampai pada karakteristik kedua teknologi modern, yakni “mengatur atau menuntut” (Be-stellen) alam untuk memasok energi. Karena itu, segala sesuatu yang dipaksa menjadi penyimpanan energi kita sebut “pasokan” (Bestand).
Ada yang penting untuk dicermati. Ketika manusia mengolah alam dengan menghormati batasan-batasan yang ditetapkan alam, justru teknologi ia gunakan benar-benar sebagai obyek. Obyek ini mengantarai manusia dengan alam dalam proses produksi. Namun ketika manusia demi pemuasan hasrat melakukan otomatisasi teknologi dalam menyingkapkan energi tersembunyi alam, teknologi justru kehilangan esensinya sebagai obyek. Obyek berubah menjadi “pemasok energi”. Mengapa teknologi modern tidak lagi menjadi obyek yang bisa ditangani manusia? Sebab kemudian kehidupan manusia menjadi begitu tergantung pada sistem teknologi modern.
Hampir tidak terpikirkan bagi orang-orang modern untuk hidup tanpa energi listrik, tanpa pasokan hasil tambang mineral, dan akhirnya tanpa mesin-mesin digital. Seorang petani Badui masih memiliki kebebasan untuk menentukan pola kerja dan jadwal hidupnya. Tetapi kita akan segera kelabakan, tak mampu berbuat apa-apa lagi, dan bahkan marah kalau pasokan listrik dan gas elpiji dihentikan. Atau ketika saya memiliki sebuah AC, maka hidup saya akan diminta untuk memikirkan berbagai tuntutan: pengisian freon, reparasi bulanan, pemeriksaan baterai remote AC. Saya pun dituntut mencari penghasilan untuk membiayai kebutuhan AC. Setiap teknologi modern memuaskan keinginan kita sekaligus menuntut balik kita.
Dengan kata lain, teknologi modern bukan hanya memprovokasi manusia untuk mengatur, memerintah, dan memaksa bumi mengeluarkan sumber-sumber alam tersembunyi, untuk kemudian menjadi pasokan energi. Teknologi ini juga memprovokasi manusia untuk menyingkapkan hidupnya. Seperti alam yang dibingkai untuk berada pada posisi sebagai pemasok energi, manusia pun dibingkai untuk menjalankan hidupnya seturut mekanisme teknologi modern. Hidup ditata dalam bingkai sistem teknologi modern. Kita sampai pada karakteristik ketiga dari teknologi, yakni “membingkai” (Ge-stellen).
Semakin teknologi modern memprovokasi penyingkapan dari alam dan manusia, kita semakin tidak memiliki kuasa atas hidup sendiri. Sistem rumah sakit modern, misalnya, mendefinisikan manusia yang bekerja sebagai “sumber daya manusia” dan yang sakit sebagai “pasien”. Manajemennya memprovokasi dan menuntut pengelola agar memenuhi target jumlah pasien masuk dan keluar serta target sirkulasi obat-obatan demi keberlangsungan rumah sakit. Kita semua yang terpapar teknologi modern benar-benar merasakan manfaatnya dalam meningkatkan kualitas hidup, tetapi sekaligus menemui kerumitan. Hidup tidak bisa berjalan selain dalam bingkai teknologi.
Apakah dengan demikian manusia mesti kembali pada teknologi tradisional agar bisa keluar dari bingkai teknologi modern? Teknologi tradisional bisa menjadi jalan keluar kalau ia terpisah sama sekali dari teknologi modern. Persoalannya, menurut Heidegger, karakter provokatif dari teknik modern adalah konsekuensi historis dari teknik tradisional. Nasib dari produksi memang mengarah pada provokasi teknik modern. Ini adalah takdir dari peradaban Barat, yang karakteristik esensial dari teknologinya adalah menyingkapkan.
Jika kemunculan teknologi modern adalah ketentuan sejarah manusia, persoalannya bukan dengan menolak nasib itu tetapi menghadapinya. Di sinilah persoalan krusial dari teknologi. Manusia yang biasa terpapar oleh produk-produk teknologi modern semakin tergantung pada produk-produknya sendiri. Dari ketergantungan, ia lupa bahwa produk teknologi hanyalah salah satu cara menyingkapkan kehidupan. Bingkai teknologi modern bukan satu-satunya bentuk penyingkapan. Namun kita menganggap itu satu-satunya.
Dengan tampilan-tampilan layar di gawai, kita pikir bisa memahami diri dan kehidupan luas ini secara otentik. Padahal tampilan-tampilan itu adalah hasil ekstraksi dan penyingkapan dari data-data kecenderungan psikis kita. Kita berputar-putar pada diri dalam bingkai teknologi modern. Kita pikir telah paham dunia dan persoalannya, padahal kita belum benar-benar memahaminya. Sebab kita tidak benar-benar melakukan pencarian. Kita terdiam dan pasrah pada kecepatan dan otomatisasi, lalu membiarkan diri terpapar informasi.
Apa yang kita inginkan, gawai berikan. Hingga kita lupa: Apakah hidup hanya soal keinginan saya? Adakah penyingkapan yang lebih sejati dari sekedar “aku suka ini dan itu”? Sekalipun Heidegger tidak mengalami kemajuan pesat teknologi digital dan AI, refleksinya masih mengena pada kondisi kita sekarang. Justru di zaman Kecerdasan Buatan, kita menyaksikan provokasi dan bingkai teknologi modern dalam tingkatan yang sedemikian canggih.
Saat hidup dijejali dan dibombardir oleh kemudahan-kemudahan yang memanjakan kita, hampir sulit kita membuka diri pada dimensi lain dari hidup. Keterbukaan ini muncul dari kemampuan kita untuk gelisah. Kegelisahan melemparkan kita pada kontemplasi tentang “kemungkinan-kemungkinan lain dari hidup kita”. Namun kegelisahan tidak akan muncul kalau kita cepat merasa puas.
Kita memerlukan kebosanan pada tawaran-tawaran kemudahan teknologi. Kita perlu menemukan cara agar “bingkai teknologi modern yang memformulasikan dunia” menjadi terasa membosankan. Artinya perlu ada bahasa di luar bingkai teknologi. Bahasa yang tidak harus baru tetapi sudah lama kita lupakan. Heidegger menyebutnya bahasa puitik.