Kolom “Kilasan Kawat”, Kompas dua hari berturut-turut (25 dan 26 Oktober 2024) berbicara tentang usaha manusia memahami kehidupan binatang. Pada edisi 25 Oktober, diceritakan tentang ilmuwan dari lima negara Eropa sedang mengembangkan kecerdasan buatan yang mampu menginterpretasi suara babi. Suara oink ternyata punya banyak makna. Darinya kita bisa mengetahui seekor babi bahagia atau tidak. Temuan yang menarik adalah ternyata babi yang dipelihara secara organik di ruang terbuka menghasilkan lebih sedikit suara stress daripada yang dipelihara di peternakan konvensional.
Pada edisi 26 Oktober, “Kilasan Kawat” mengupas tentang perjuangan kelompok pembela hewan, NonHuman Rights Project. Mereka mengklaim mewakili lima ekor Gajah di Kebun Binatang Cheyene di hadapan Pengadilan Negara Bagian Colorado, Amerika Serikat. Kelima ekor gajah itu menderita kerusakan otak selama dikurung di kebun binatang itu. Karena itu, mereka menggugat agar gajah-gajah itu dipindahkan ke pusat konservasi Gajah. Pengelola kebun binatang membela diri. Alasan pertamanya: pemindahan malah membuat gajah-gajah itu stress. Alasan keduanya: pengadilan dibuat untuk manusia bukan untuk gajah. Mustahil gajah memiliki hak hukum untuk menggugat. Mustahil juga manusia bisa mengklaim mewakili gugatan hewan. Manusia bukanlah hewan, tetapi tuan atas hewan.
Kedua kejadian sama-sama berkaitan erat dengan usaha manusia mempelajari bahasa binatang dan pembelaan terhadap kehidupan binatang yang lebih baik. Namun, keduanya punya motif yang berbeda. Perbedaannya semata-mata karena status yang diberikan pada dua jenis binatang tersebut. Babi dijaga kondisinya untuk dikonsumsi dan gajah dijaga demi keberlangsungannya. Kasus pertama berujung pada kepentingan ekonomis manusia. Kasus kedua demi keanekaragaman hayati.
Kita sudah terbiasa digerakkan dengan motif pertama. Demi bertahan hidup, manusia membenarkan tindakannya mengorbankan binatang untuk didomistifikasi dan dikonsumsi. Manusia adalah puncak rantai makanan. Sedangkan motif kedua berbeda, karena mengungkapkan suatu kesadaran yang baru muncul. Manusia sebagai bagian dari alam dan bukan tuan. Kesadaran ini begitu gegap gempita dalam diskusi dan gerakan kritis tentang lingkungan hidup. Namun itu tetap disertai “moderasi” di sana-sini, dengan meneruskan kebiasaan mengorbankan binatang untuk dikonsumsi. Artinya, manusia secara kesuluruhan memang tidak benar-benar serius tentang kesadaran baru itu. Hampir mustahil meninggalkan harumnya aroma daging panggang demi eksistensi yang unik dari setiap ekor babi.
Terlepas dari apapun motif dari memahami bahasa binatang, ada satu ironi di tahun-tahun belakangan ini. Riset Sains yang semakin maju untuk memahami binatang dibarengi dengan semakin sulitnya manusia untuk memahami sesamanya, bahkan dengan akses semakin besar untuk memahami berbagai bahasa antar bangsa. Ukraina dan Rusia memiliki bahasa yang sama, tetapi berperang sampai hari ini. Negara-negara di Timur Tengah memiliki akar bahasa kuno yang sama tetapi tidak pernah tertandingi dalam konflik.
Menara Babel Modern -lambang peradaban manusia- tidak hancur karena perbedaan bahasa. Sebaliknya, setelah bisa memahami bahasa yang berbeda satu sama lain, mereka mengunakan pemahaman bahasa tersebut untuk saling mencaci dan berkomplotan mengagitasi kelompok lain. Berbicara digunakan untuk menipu, menghasut, menyebarkan kabar bohong, dan menyulut perang secara lebih efektif.
Ironi ini juga disoroti Agamben, dengan merujuk pada kejadian yang mirip: “Baru-baru ini, para ilmuwan di Jurusan Ilmu Tetumbuhan, Universitas Tel Aviv mengumumkan telah merekam dengan menggunakan mikrofon khusus yang sangat sensitif suara penderitaan tanaman-tanaman ketika dipotong atau kekurangan air. Di Gaza, tidak ada mikrofon”.
Adalah layak dihormati usaha ilmu pengetahuan untuk memahami bahasa binatang dan tanaman demi melestarikan keanekaragaman hayati. Namun akan sia-sia usaha tersebut lantaran kebebalan manusia: Kendati sudah tahu bahasa sesamanya, manusia tetapi tetap memilih jalan perang. Hanya dalam hitungan hari, seluruh upaya melestarikan alam hangus seketika oleh perang nuklir yang akan meluluhlantakkan bumi, tempat tinggal bagi tumbuhan, binatang, dan manusia.
Sesudah Perang Nuklir, harum aroma daging babi diganti bau menyengat daging manusia yang hangus. Tidak akan ada lagi suara jeritan tanaman dan binatang. Yang ada, kesunyian total dari kepunahan paripurna.