Amat baik mengenang orang-orang yang meninggal, apalagi tercinta dan berjasa. Leluhur, orang tua, kekasih, sahabat: mereka bagian sejarah hidup saya, layak dihidupkan dalam ingatan. Seperti saya, masih ingin hidup dan ingin diingat.
Mengenang para pejuang yang gugur melawan penjajah penting untuk menyuburkan nasionalisme. Lebih bernilai dari itu, adalah mengenang warga biasa, yang memperjuangkan kemanusiaan, tapi dianggap membahayakan keamanan negara. Kenangan terakhir ini meredakan racun dalam nasionalisme: fasisme, etatisme, dan obsesi stabilitas.
Tapi, masyarakat yang sibuk memikirkan orang-orang meninggal sampai melupakan orang-orang hidup di sekitarnya bisa jadi mengalami gangguan obsesi kolektif. Gangguan ini tidak sama dengan aksi solidaritas mengenang korban tragedi kemanusiaan. Bukan sekedar mengenang, aksi tersebut mengingatkan agar peristiwa serupa tidak terulang.
Kenangan solidaritas itu hendak menyatakan dua hal mendasar dalam politik: 1) tidak ada kewajiban melegitimasi kekuasaan yang meremehkan kehidupan; dan 2) orang banyak (moltitudine) memiliki kekuasaan yang tidak memerlukan legalitas dari institusi kekuasaan. Agustinus benar, ketika menyejajarkan memoria (kenangan) dengan potestas (kuasa).
Hati-hati pemerintah! Jangan mengabaikan kenangan penderitaan orang banyak (memoria passionis). Ia bisa meledak menjadi kemarahan. Kemarahan menjadi perlawanan. Dan keruntuhanmu tinggal dipaksakan.
Obsesi berlebihan pada orang-orang meninggal juga bisa bersifat narsistik. Malam di awal November, orang-orang berkostum hantu dan arwah gentayangan di pesta Hallowen. Penampilan nyentrik dan maksimal ini tidak mengandung kuasa kenangan. Bisa jadi itu untuk menarik perhatian atau sekadar bersenang-senang. Sedangkan industri produksi kostum hantu mengeruk keuntungan, mengkomodifikasi kematian.
Di situ, tidak ada introspeksi pada tragedi dan derita. Tiada pertanyaan mengusik: Apalah jadinya nasib keadilan, jika kematian adalah benar-benar akhir bagi korban tak bersalah? Bukan hanya Kant yang pernah mengajukan pertanyaan macam ini. Setiap manusia yang melihat orang baik terdekatnya dibunuh karena komitmennya pada kemanusiaan, juga bertanya serupa itu.
Kenangan pada orang meningggal bisa menjadi kegilaan, jika dan hanya jika tidak dibarengi solidaritas pada penderitaan orang yang masih hidup. Seperti melantarkan orang tua semasa hidup, baru menangis pilu saat meninggal. Kita bisa menemukannya di wilayah yang disebut kota maju. Orang lanjut usia hidup sendirian. Ketahuan meninggal setelah aroma tajam menyengat hidung tetangga yang sibuk.
Ritus orang meninggal juga bisa berubah menjadi apatisme. Mendoakan arwah pendahulu, yang jasadnya sudah menghumusi tanah; tetapi tak peduli dengan sampah menumpuk di rumahnya. Sampah itu lalu diangkut petugas ke TPA. Di TPA, sampah menumpuk dan tak terolah, lalu mencemari udara dan air warga sekitar.
Masyarakat Bongkonol, Pandeglang terserang penyakit karena lingkungan tercemar sampah di TPA. Jauh dari Bongkonol, kita, orang kota buncah dengan seminar dan doa ekologis, makan sekaligus nyampah. Pemerintah juga sama, hanya tahu omong soal penyerapan anggaran. Tahun-tahun ke depan bisa jadi akan semakin banyak pasien meninggal di RS Dharmais, Jakarta. Sebagian yang meninggal karena lingkungannya tercemar seperti warga Bongkonol. Dan sampah yang mencemari adalah hasil nyampah kita.
Amat baik mengenang orang yang pernah hidup, khususnya orang tercinta dan berjasa. Tapi lebih baik, merasa bersalah pada orang yang tidak kukenal, tapi kematiannya akibat langsung dan tidak langsung dari kecerobohan, kesalahan, dan kebodohan saya. Dan lebih baik dari itu adalah sama-sama, sebisa mungkin, biar kecil, merawat hidup orang lain, biar pun tidak kenal, tidak tercinta, dan tidak berjasa. Sebab setiap orang menerima hidup yang sama dan punya batas akhir. Setelah itu, tidak bisa dipulihkan selain berharap: Semoga ada hidup lanjutan.
Kalau seandainya manusia dari Nazareth datang mengajak saya: “Biarkan orang mati menguburkan orang mati, tapi kamu ikutlah aku [untuk mati di tiang gantungan demi kemanusiaan].” Saya belum tentu menyanggupi ajakannya. Jangankan mati, capek untuk hidup orang lain saja, saya malas.