Dengan bekerja, kita menjadi manusia. Bekerja menjadi satu-satunya jalan? Emang iya? Sejak kapan? Masyarakat menuntut bekerja orang yang dianggap sudah dewasa. Tuntutan itu memang tidak memasang sangsi bagi pengangguran. Tetapi menjerat setiap orang dengan konsekuensi sosial: Siapa tidak bekerja, tidak normal. Pengemis, tambalan kontras bagi masyarakat modern. Bukti kegagalan negara. Makanya, sekolah penting bagi anak-anak. Mereka belum boleh bekerja. Anak-anak harus belajar. Agar kelak siap bekerja. Negara berdaya, kalau produktif warganya.
Warga yang tidak beraktifitas, mengganggu ketertiban sosial. Dari PHK dan pengangguran, muncul para kriminal. Tapi tunda dulu kesimpulan ini. Bukankah pemecatan kerja, lalu pengangguran hanya ada dalam sistem sosial yang terspesialisasi dalam bidang-bidang pekerjaan? Kriminalitas semakin bervariasi seiring dengan masyarakat modern yang semakin terspesialiasi.
Mereka yang tidak terserap dunia kerja, niscaya menganggur. Biasanya penganggur dianggap memiliki masa lalu bermalas-malasan. Makanya gagal dan kalah bersaing. Tak serius belajar untuk menjadi pekerja. Kriteria satu-satunya bagi manusia hari ini adalah bekerja. Seorang yang tidak sibuk, inefisien, tak-efektif, pasif, dan non-produktif, tidak boleh disebut orang modern sejati.
Tidakkah timbul sedikit pun keanehan soal kriteria ini? Saya lahir “tanpa-bekerja”. Tetapi kemudian “bekerja” seakan menjadi kodrat asali manusia. Siapa pun manusia yang lahir, tidak langsung bisa menghasilkan alat-alat. Ia tidak otomatis menjadi produsen. Mula-mulanya, anak kecil adalah homo ludens (manusia yang bermain). Sekarang, dicetak menjadi homo laborans (manusia pekerja). Saat bermain, orang memainkan perannya dengan serius sebagai permainan. Usai bermain, lenyaplah batasan peran itu. Dalam masyarakat pekerja, bidang kerja dan jabatan menentukan secara riil sosialitas seseorang. Pengusaha, dengan koleksi mobil dan mogenya. Buruh dan supir, nongkrong di warung, diiringi lagu Iwan Fals atau Bang Haji Roma Irama.
Seiring bertambahnya usia, manusia menyadari pentingnya bekerjasama dengan sesamanya. Berunding, bersepakat, berpolitik. Dulu agunglah sosok animal civile (binatang bermasyarakat). Sekarang memusat pada animal laborans (manusia pekerja). Kita adalah warga, sekaligus pekerja. Bermasyarakat kita terpola menurut jenis kerja dan jabatan. Tercipta atom-atom sosial masyarakat kota. Sedangkan politikus modern digaji untuk menyusun regulasi soal kerja dan produktivitas: Upah minimal, penciptaan lapangan pekerjaan, pajak penghasilan, dan pensiunan. Roh modern adalah keaktivan (activity). Raganya untuk bekerja. Dan ketika meninggal, dicatat riwayat pekerjaannya.
Ringkasnya, ada dua aktifitas besar manusia: Menghasilkan dan berpolitik. Yang pertama, untuk tujuan praktis. Yang kedua, untuk harmoni sosial. Sekarang keduanya dibungkus dalam satu karung besar, yakni produktivitas kerja. Tujuannya, menghasilkan komoditas yang menguntungkan. Semakin menguntungkan, semakin efektif keputusan politis. Semakin fungsional, semakin barang mudah dan cepat terbeli.
Kedua aktivitas itu memang fundamental bagi manusia, tapi tidak asali. Sebab pada fase awal hidupnya, manusia tidak beraktifitas untuk memenuhi fungsi dan tujuan. Jabang bayi di dalam rahim, ia tidak hidup untuk tujuan praktis dan politis. Tidak bekerja. Tidak sedang dalam keaktifan. Intensitasnya, sibuk dengan diri sendiri. Apa yang ia pelajari adalah terhubung dan terbuka dengan dunia ibunya, berbagi nutrisi dan emosi melalui tali pusar. Di dalam tubuh.
Saat lahir, seorang bayi terbuka pada dunia. Tetapi keterbukaannya tidak mengandung kewajiban. Wajib untuk bermanfaat dan berfungsi bagi keluarga, bangsa, dan agama. Wajib bermoral menurut norma-norma dari luar. Saat itu, tidak ada kewajiban. Kosong, tetapi terbuka. Bayi sedang berada dalam ketidakaktifan. Artinya, ada yang fundamental dan asali dalam diri manusia. Itu adalah ke-tidakaktif-an (inactivity).
Kultus masyarakat modern pada kesibukan membuatnya tidak peduli dengan fase hidup tak-aktif dari manusia. Bahkan melupakannya. Ini bisa menjelaskan mengapa kontemplasi bagi “warga sibuk” dianggap sia-sia dan membuang-buang waktu. Tidak produktif. Tidak menjual. Pasif dan murahan. Tak masuk sebagai kontribusi bagi pembangunan dan kemajuan.
Anggapan ini terlalu pesimis? Lihat, masih ada orang-orang kota yang sibuk meluangkan waktu untuk membuat sesajen, adorasi, resting in the Spirit, ikut majelis ta’lim atau kelas Yoga. Biar sibuk, mereka masih berkontemplasi.
Tidak sesederhana itu. Kontemplasi dalam arti sebenarnya tidak identik dengan doa. Doa hanya salah satu bentuknya. Dan bayi tidak berdoa, bukan? Juga tidak merapal mantra. Tidak Seharian mereka bobok, menangis, dan menetek. Yang fundamental sekaligus paling asali dari hidup manusia bukanlah berdoa. Lebih luas dari soal berdoa dan merapal mantra adalah berkontemplasi. Ketidaktifan itu yang membuat kontemplasi memuat orisinalitas kemanusiaan kita (bersambung…).
Kapan terbit sambungannya?
Sudah terbit sambungannya boskuuuu…