Ngontemplasi (berkontemplasi) tidak sama dengan doa, kalau berdoa kita pahami sekadar ritual penyembahan, permohonan, dan pujian syukur kepada sosok ilahi. Berdoa tidak berarti pasti berkontemplasi. Mirip halnya, orang beragama tidak otomatis kontemplatif. Orang yang beragama buta, kontemplasinya menguap, dipanasi api kerumunan. Ingin menjadi kawanan paling benar dan paling berkuasa.
Sejak kekristenan menjadi agama negara di Eropa, banyak orang menjadi kristen. Bukan berarti sebanyak itu pula orang Kristen hidup mengikuti Yesus. Sibuk dengan karir politik, mereka melupakan jejak Kristus. Sedikit orang tidak mau terseret arus. Mereka menyepi ke padang gurun. Membersihkan mental dari kesibukan dunia, agar bisa lagi berkontemplasi.
Bukan berpikir yang mereka lawan. Mereka menolak dunia yang sibuk: Sibuk bertikai, berkuasa, dan pamer kesia-siaan. Berdoa di padang gurun adalah jalan mencapai kontemplasi. Doa hanya jalan, bukan titik henti.
Semakin sederhana pikiran, semakin tinggi kontemplasi. Pangkas kerumitan isi pikiran, pahami inti diri. Dimulai dengan merasakan raga. Sesuatu yang dekat, tapi sering terlupa. Pikiran tidak mati. Tetapi kini teguh mengendalikan dirinya. Tenang bersamadi.
Sayangnya kemudian, berkontemplasi dan berpikir menjadi berlawanan. Hentikan pikiran, gunakan hati. Hati punya logikanya sendiri. Sejak kapan “hati” muncul menjadi lawan pikiran?Permusuhan keduanya memang memiliki sejarah panjang. Bisa jadi sejak pencerahan, berpikir menjadi semacam mesin untuk menguasai hidup. Apa pun yang tidak logis, tidak layak untuk dihidupi. Berpikir menyempit menjadi logika.
Sebenarnya akal budi yang berpikir memiliki sembarang bentuk. Ada berpikir kalkulatif. Ia merancang strategi untuk mengakumulasi keuntungan agar tujuan tercapai. Berpikir deskriptif, ia memaparkan bagian-bagian dari obyek yang ia ingin ketahui. Misalnya, anatomi tubuh, reaksi kimiawi, data sosial, dsb. Tapi ada berpikir yang berupaya memahami lapisan demi lapisan kenyataan, termasuk dirinya. Ia kritis, analitis, dan merangkul berbagai perspektif.
Berpikir kalkulatif dan deskriptif menjadi alat akselerasi kemajuan modern. Tiada perlu lagi bersabar mengikuti irama dan waktu alam. Rasionalitas bisa mengubah alam dengan cepat. Pengetahuan mampu menguasainya. Jika alam yang buas saja bisa ditaklukkan, tidak sulit juga mengendalikan masyarakat. Politik menjadi akal muslihat untuk menggiring warga; teknik menjadi pengetahuan untuk mengekstraksi alam. Siapa yang memiliki akses maksimal pada data pengetahuan, ia bisa mengakumulasi keuntungan dan dukungan.
Kondisi tersebut berbeda dari maksud awal. Ketika manusia berpikir untuk menghasilkan alat-alat yang bermanfaat praktis, ia berpengetahuan teknis. Kalau ia menyelaraskan pikiran bersama demi harmoni kota, ia berpolitik. Mengatasi persoalan harian secara teknis ini perlu agar para warga bisa bertukar pikiran dengan tenang dan jernih di kota. Tapi ini ideal Yunani Klasik. Dan masih bisa ditemukan di sedikit masyarakat tradisional.
Hari ini politik modern telah menjadi teknik penguasaan hidup. Dan apa yang dulu disebut pengetahuan teknis, sekarang menjadi teknologi reproduksi industri. Para warga menjadi pekerja produktif yang hidupnya diabdikan pada seleksi dan norma korporat. Tolok ukur berpikir adalah mampu menggenjot produktifitas kerja. Kumpulan pekerja yang berdesak-desakan di kereta sama anonimnya dengan barang dan jasa komoditas yang mereka hasilkan. Tenaga, pikiran, dan hidup mereka adalah komoditas.
Warga pekerja, manusia yang bekerja demi pekerjaan. Liburan dan rekreasi (leisure time) adalah jadwal yang tercantum dalam regulasi pekerjaan. Hidup, bukan lagi miliknya. Dan dominasi rasionalitas dianggap penyebab pertamanya. Karenanya, untuk mengambil kembali kendali atas hidup, curigai pikiran. Pikiran manusia ini telah menghasilkan modus produksi yang berdaya rusak bukan main atas alam dan masyarakat. Kita macam zombi-zombi berkurumun di stasiun, yang otaknya sudah diambil untuk nutrisi industri dan kapital.
“Hati” tampil sebagai tandingan pikiran. “Apa itu hati” sebenarnya tidak begitu jelas. Pembimbing retret gemar menasehati, “Jangan berpikir. Gunakan hati!” Hati? Apa yang dimaksud “hati”? Bisa jadi itu perasaan, atau emosi. Nasehat ini awur-awuran. Kita seperti diminta terombang-ambing di tengah lautan emosi dan perasaan.
Atau hati lebih luas dari itu. Ia adalah afeksi, meliputi hasrat, gairah, dan kehendak. Ini juga bahaya. Afeksi tanpa tuntunan akal budi bisa menjadi “mata gelap”, “kehendak buta”. Definisi modern tentang “hati” ini kabur. Sebab juga tidak jelas mana batasannya. Asal berlawanan terhadap olah pikir.
Masyarakat modern yang rasional menuntut manusia terus aktif dan sibuk. Di sini lawannya jelas, yakni ketidakaktifan. Dan kontemplasi, menurut warisan spiritualitas klasik, adalah ketidakaktifan yang unggul. Jadi ketika zaman modern mencari alternatif dari kerja-kerja rasional, maka kontemplasi dengan hati dianggap kombinasi yang pas.
Berkontemplasi semakin menjauh dari “berpikir”; sebaliknya, semakin diasosiasikan dengan aktifitas hati. Padahal menurut kebijaksanaan Yahudi kuno, hati adalah keseluruhan diri manusia. Ia mencakup rasionalitas dan afeksi. Tapi sudah terlanjur. Menjauhi pikiran demi mengikuti kata hati menjadi trend reaksioner masyarakat modern yang sudah letih dengan apa-apa yang berbau rasional.
Padahal menghilangkan “berpikir” dari “berkontemplasi” adalah suatu kekeliruan. Ini berakibat kita salah memahami “apa itu berpikir”, juga salah memahami “apa itu kontemplasi”. Justru kesalahan ini akan melestarikan sistem kehidupan yang mempermainkan manusia. Ribuan orang di dalam stadium menggelepar ekstase di tengah proses kebaktian rohani berbayar. Dukun sakit-sakitan menarik iuran pasiennya yang berela hati bersemedi bugil. Industri otomotif mengelola “rasa bersalah ekologis” dengan menawarkan mobil listrik, sementara kerusakan alam karenanya ditutup-tutupi.
Akal bulus industri dan iklan merayu warga pekerja. Iklan beroperasi dengan rumusan baku: “Ikuti kata hatimu, kami akan mewujudkannya”. Semakin “manusia berhati” enggan memahami “apa itu berpikir”, semakin mudah ia dikibuli.
Memang berpikir bisa berarti mendominasi. Tetapi akal budi juga menyediakan antidote-nya: memahami mendalam. Berpikir terus, memasuki lapisan kenyataan semakin dalam. Akal budi yang terus berproses dalam berpikir. Tapi kalau belum berpikir, seseorang sudah mengabaikan pikiran, mustahil ia bisa mencapai akal budi yang mendalam.
Miskin berpikir beriringan dengan pekerjaan yang melarat makna. Sebelum pekerjaan menjadi tolok ukur tunggal masyarakat modern, bermain dianggap biasa. Tangan adalah organ untuk bermain. Tapi di masyarakat yang sibuk, tangan berfungsi untuk menggenggam. Menggenggam mesin; menggenggam alam; menggenggam pekerja. Singkatnya, bekerja demi keberlangsungan sistem pekerjaan.
Tentu bukan berarti bekerja tidak penting bagi masyarakat tradisional. Mereka bekerja seugaharinya: Sejauh memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup. Bekerja untuk menyediakan nutrisi biologis. Anak-anak sudah ikut berkebun dengan orang tuanya. Bekerja dirasakan bermain. Tidak tepat menyebutnya eksploitasi anak. Tanpa merasa berolahraga, tubuh bergerak dan berkeringat. Sesekali tuak atau kopi memuaskan dahaga. Ditemani ubi sebagai camilannya.
Masyarakat yang sibuk, tidak puas dengan itu. Sebab iklan-iklan kecantikan dan kesehatan menyajikan model ideal manusia abad ke-21: Langsing dan kekar. Perbedaan antara “menjaga kesehatan” dan “menjaga badan” menjadi kabur. Karena itu, askese dan puasa, sarana kuno dalam berkontemplasi, berubah bentuk menjadi gym dan diet. Muslihat betul, sebab industri makanan malah menyajikan menu yang menyebabkan obesitas. Pesanlah online dan makanlah, inilah makanan perjanjian cepat saji. Sesudah kenyang, pergilah ke gym, bakar kalorimu.
Masyarakat sehat abad ke-21, sibuk dengan aset tubuh, malas melatih pikiran. Informasi disamakan dengan pengetahuan. Ketika berselancar di media sosial untuk mencari informasi, info yang ia dapat, ya itu-itu saja. Tentang olahraga, diet, dan kosmetik.
Tips-tips positif bagi hidup kita telah menjadi produk industri. Saban hari kita dirayu dan ditipu. Beli makanan ini, coba olahraga itu dan di situ, beli obat, beli penampilan, terapi awet muda. Kerja, terapi, kerja, dan beli. Sibuk kerja dan beli sampai mati.
Dahulu para pertapa Padang Gurun juga menolak kesibukan. Bukan kesibukan membeli, tetapi kesibukan untuk mengejar status sosial yang nyaman dan membanggakan. Tapi mereka ini menempuh hidup kontemplatif bukan dengan menjadi orang yang anti berpikir. Memangkas kerumitan isi pikiran, bukan menolaknya. Berpikir sederhana dimaksudkan untuk memusatkan diri pada aliran hidup yang berlalu begitu saja. Kesibukan dan hiruk-pikuk telah mengikis kepekaan. Karenanya, mereka ingin lebih peka dan kritis. Akal budinya ingin memahami semakin dalam lapisan-lapisan kenyataan.
Jauh sebelum kekristenan lahir, berkontemplasi berarti berpikir murni. Dalam benak orang-orang Romawi Kuno, contemplatio ini merujuk pada suatu bentuk pengetahuan teoritis (theôria). Aristoteles menyebut teori sebagai “laku berpikir demi berpikir”. Asyik berpikir tanpa harus ada tujuan di luar aktifitas berpikir. “Mengapa segala sesuatu ada, dari mana dan akan ke mana?” Pertanyaan-pertanyaan macam ini adalah berpikir demi berpikir. Kita tidak akan mendapatkan upah dengan menjawab “pertanyaan tanpa faedah” macam itu. Juga kalau itu menyangkut pekerjaan: “Mengapa aku bekerja, untuk apa, dan apa maknanya?”
“Berpikir demi berpikir”, dalam arti sebenarnya, adalah kebebasan berpikir. Ketika berpikir bisa mengatakan tidak terhadap kuasa dari luar. Dari situ, muncul kebebasan bertindak: Saya memilih untuk tidak mengikuti fungsi dan tujuan eksternal yang menekan dan manipulatif. Saya berpikir, bukan demi menjadi pekerja yang fungsional dan produktif. Saya bekerja, bukan untuk membeli sampai kalap. Saya berpikir dan bekerja, agar semakin manusiawi.
Yang hampir punah dari saya, sebagai manusia sibuk, adalah ketidakaktifannya. Kesibukan dan rayuan iklan mengaburkan akal budi saya untuk berpikir kontemplatif. Tapi berhenti dulu. Apa karakteristik berpikir kontemplatif, jika itu bukan doa dan bukan kerja? (Bersambung…)
Lanjut, lanjut…