Saat pandai besi menghasilkan parang, ia sedang berbuat. Musisi yang berkarya, menggubah lagu, juga berbuat sesuatu. Orang tua yang merawat anaknya pun berbuat. Memproduksi barang, berkesenian, bertindak etis sama-sama bagian dari perbuatan. Kontemplasi juga bagian dari perbuatan. Tetapi tidak seperti ketiga macam perbuatan lainnya, berkontemplasi tidak termasuk dalam aktivitas.
Saat manusia berkontemplasi, ia tidak bekerja. Bekerja itu aktif, tetapi kontemplasi itu tak-aktif. Sekalipun keduanya sama-sama melibatkan pikiran, berkontemplasi adalah berpikir dalam ketidaktifan. Dengan kata lain, berpikir kontemplatif tidak termasuk aktivitas.
Dalam setiap aktivitasnya, seseorang secara aktif memikirkan obyek spesifik. Misalnya, menteri koperasi berpikir agar unit-unit koperasi yang tersebar di berbagai wilayah bisa membantu semakin banyak warga untuk memajukan ekonominya. Dengan membubuhi “agar” dalam pikirannya, ia memiliki tujuan spesifik, yakni “agar” koperasi bisa memberdayakan. Ini disebut rasionalitas bertujuan. Tapi kalau menteri ini malah memikirkan bisnis judi online misalnya, pikirannya menjadi acak. Sesat dan tolol bahkan. Sebab koperasi dan judi online punya tujuan yang bertentangan. Jadi, berpikir fungsional dan bertujuan dalam pekerjaan itu penting demi membangun masyarakat yang lebih sejahtera dan damai.
Namun berpikir bertujuan dan fungsional tidak menuntaskan seluruh dimensi hidup manusia. Dalam dirinya, manusia memiliki dimensi tak-aktif. Wujud ketidakaktifan dalam berpikir adalah kontemplasi. Di sini seseorang tidak secara aktif menyelidiki obyek spesifik. Akal budinya menunggu. Membiarkan realitas menampak langsung pada akal budi.
Berkontemplasi tidak pasif, kalau pasif berarti menghentikan akal budi secara total. Lagipula ini mustahil, kecuali mati otak. Bahkan dalam tidur saja, otak manusia bekerja. Pikirannya membentuk ingatan-ingatan yang sudah lewat dan direpresi menjadi mimpi.
Kontemplasi itu pasif dalam arti, akal budi melepaskan kecondongannya pada tujuan dan pembentukan konsep-konsep. Ia menunggu dan menerima realitas yang ia rasakan langsung melingkupinya. Bukan menggenggam, tetapi terbuka. Dalam kontemplasi, seseorang tidak sedang mencari-cari obyek untuk dipikirkan. Ia sudah berada di antara realitas. Bahkan lebih dari itu. Ia menjadi bagian realitas.
Duns Scotus (†1308) mewariskan suatu permenungan tentang berpikir kontemplatif. Dengan keterbatasan zaman itu, tidak bisa kita bandingkan dengan kemajuan ilmu otak hari ini. Baginya, setiap akal budi memiliki kemampuan intuitif. Intuisi berarti menatap langsung realitas, tanpa perantaraan indera, dan tanpa melalui pembentukan konsep-konsep abstrak. Saya tidak sedang memikirkan manusia dengan membedahnya menjadi konsep-konsep yang terpilah-pilah, seperti kebinatangannya, seksualitas, trauma-trauma psikis, anatomi fisiologis, biologis-kimiawinya, biografinya, dsb. Saya terbuka pada kejutan-kejutan seorang manusia yang ada di hadapan saya.
Sayangnya bagi Scotus, selama di dunia manusia tak bisa mengintuisi realitas secara murni. Intuisi tidak bekerja langsung dan total. Ia sekadar menjadi prasyarat yang memungkinkan akal budi kita untuk terbuka dan terarah pada fenomen di sekitarnya. Saya bisa memikirkan makanan yang menarik selera makan karena prasyarat intuitif. Berkat intusi juga, saya mampu memahami carut-marutnya politik dengan tolok ukur konseptual seperti keadilan, kebenaran, kejujuran, dsb.
Lantas, apa hubungannya intuisi dengan berpikir kontemplatif? Intuisi inilah fakultas utama untuk berkontemplasi. Jadi seperti intuisi berbuat secara terbatas, kontemplasi kita pun tidak sempurna. Dengan kesibukan dan perjuangan meletihkan untuk hidup di dunia ini, semakin sulit seseorang berpikir kontemplatif. Kita orang-orang modern apalagi. Begitu dibiasakan untuk memuja sebagai unggul dan penting suatu aktivitas berpikir yang efisien, efektif, dan fungsional.
Pikiran pekerja sudah penuh dengan kekhawatiran dan kekecewaan pada dunia ini. Kalau tidak berputus asa, ya kita protes dan marah. Jengah dengan perilaku pejabat yang korup dan tak berkompeten, kita mengkritik dengan berang. Budi kita menjadi seperti kacamata hitam. Semuanya gelap. Semakin sukar bagi kita untuk melihat upaya terseok-seok dari pejabat bernurani. Sebaliknya juga bisa terjadi. Kita tidak lagi mempersoalkan kekaguman kita pada seseorang. Akal budi terlanjur abai pada spektrum realitas. Sukar menjeda dirinya. Terburu-buru menarik kesimpulan.
Menunggu secara kontemplatif adalah kemewahan yang tak terbeli. Apakah kita perlu berhenti kerja dan menganggur, malas-malasan agar semakin kontemplatif? Tentu bukan ini maksudnya. Lalu bagaimana? Kembali pada warisan intelektual Scotus. Dalam berpikir itu sendiri, ada dorongan intuisi. Dalam bekerja, berkesenian, dan bertindak etis, ada kontemplasi sembunyi-sembunyi.
Dimensi kontemplatif ini tidak akan lenyap dalam kesibukan kita. Dalam target-target pekerjaan, ada kerinduan akan kontemplasi. Saat seseorang memperjuangan keadilan dan kedamaian bagi banyak orang, kontemplasi bergerak dalam diam. Hasrat insani kita akan keindahan membawa pada pengalaman kontemplatif yang sublim. Kita bisa mendekati kontemplasi, kalau akal budi terus dilatih untuk menjadi bagian dari realitas mahaluas.
Berpadu kembali dengan realitas mesti menjadi tekad berpikir bagi siapa pun yang mau mendekatkan diri pada kontemplasi. Karena itu, melihat suatu fenomen dari berbagai perspektif menjadi jalan yang mesti ditempuh. Dalam ranah akademis, dikenal perspektif antar ilmu (inter-displiner) atau, menyebrangi spesialiasi ilmu-ilmu (trans-disipliner). Dalam hidup sehari-hari perilaku berpikir ragam perspektif ini juga dapat diupayakan.
Misalnya, membaca banyak berita tentang perilaku buruk banyak oknum kepolisian, membuat pikiran ini menganggap semua polisi buruk dan musuh masyarakat. Berpikir kontemplatif, sekalipun sukar di tengah kerumunan, akan menjeda pikiran yang mengeneralisir. Melambat. Menunggu agar realitas menampilkan banyak sisi.
Bisa jadi akan muncul sisi-sisi lain. Tidak semua polisi brutal. Ya, polisi-polisi muda ringan memukul. Itu akibat seleksi akademi yang kolutif dan koruptif. Mereka baru lulus SMA. Pendidikan mereka belum matang tetapi sudah dikasih pentungan. Pasukan-pasukan anti huru-hara ini menjalankan perintah. Komandannya tidak ada di jalanan, hanya tahu beres. Belum lagi ada keluarga yang menunggu pasukan berpangkat rendah ini pulang.
Keengganan mengkritik isi pikiran sendiri menyumbat kemampuan berpikir dengan banyak perspektif. Lebih mudah mengkritik orang lain, pimpinan, nasib, dan sistem daripada membangun antitesis terhadap isi kritik. Mengkritisi pikiran sendiri sering disepelekan, barangkali karena beberapa alasan. Malu dianggap plin-plan karena berpikir ulang. Otokritik menimbulkan rasa malu yang orang lain belum tentu ketahui. Jadi, selama orang lain tidak tahu, untuk apa mengoreksi diri. Kurangnya gairah pada pengetahuan juga membuat orang hanya tertarik dengan isi pikiran sendiri. Pikiran kritisnya mengeras, seperti patung yang ia berhalakan.
Ingat ketika Yesus diminta menghakimi seorang wanita yang berzinah? Ia tidak segera menjawab. Tetapi menjeda waktu dengan menulis di tanah. Kita tidak tahu apa yang ia tulis. Bisa jadi Yesus berkontemplasi sejenak, memperluas perspektif. Dari situ, kata-kata singkat membungkam cemooh: “Barangsiapa tidak berdosa, hendaklah Ia yang pertama melemparkan batu kepada wanita ini.” Keributan menjadi kasak-kusuk. Kasak-kusuk menjadi hening. Dan penghakiman dibatalkan.
Sebaliknya kerap kali kita jumpai. Sekelompok pemuda saleh, seusai beribadah, dengan hati dingin meledakkan pub-pub yang ia anggap sumber kemaksiatan. Ada juga kesepakatan di antara warga untuk memilih pejabat korup dan tak berkompeten asalkan seagama. Mereka rajin berdoa, setia pada agamanya. Tapi ketekunannya berdoa tidak berdaya mengikis pikiran picik dan parsial.
Doa-doa yang tekun tidak otomatis memampukan seseorang melihat persoalan dengan banyak perspektif. Ia tidak mempersoalkan lagi isi pikirannya. Apa pun konsekuensinya, yang penting tujuannya tercapai. Karenanya, doa tidak identik dengan berpikir kontemplatif. Tetapi habituasi untuk berpikir kritis, dengan beragam perspektif, bisa membuat doa semakin mempertajam intuisi dalam berpikir. Bukan krisis doa yang membuat kekerasan dalam masyarakat semakin canggih dan rumit, tetapi krisis berpikir kontemplatif.
Krisis akan kontemplasi ini juga, menurut Byung-Chul Han, dialami agama-agama. Jumlah orang yang tak peduli agama masih terus meningkat. Ini bukan karena orang-orang beragama malas berdoa. Mereka masih rajin menjalankan ritus, prosesi meriah, dan aneka doa. Bukan itu masalahnya.
Agama menjadi membosankan karena hilangnya kemampuan berkontemplasi. Tidak lagi bisa hening, cepat saji, dan tak sabaran. Tidak sedikit penganut agama yang malah menjadi agresif, kaku, dan proselit. Para penganutnya, tidak semua tentu saja, melihat dunia dengan moralisme hitam putih. Masing-masing sibuk memberhalakan klaim kebenarannya dengan mengolok-olok klaim kebenaran agama lain.
Dengan membangun pagar realitas, suatu agama semakin eksklusif. Karena menutup diri pada aliran semesta, hari-harinya disi dengan kiamat buatan pikirannya sendiri. Muram dan pucat. Atau ia hanya bersukacita melihat kemenangan kelompoknya dan bertambah jumlah penganutnya.
Berbagai cara pemasaran dilakukan. Komunitas keagamaan ini mengganti kontemplasi dengan kompulsi kolektif untuk menggaet pengikut dengan tawaran bisnis dan kemakmuran, rumah ibadah megah, serta semprotan kata-kata motivasi. Agama yang lari dari fakta penderitaan, hanya akan menjadi pabrik ilusi dan candu bagi pikiran-pikiran gampangan.
Bertolak belakang dari berpikir gampangan, kontemplasi menjadi mungkin kalau akal budi memasuki wilayah kerentanan manusia. Sakit dan kecelakaan. Kemalangan dan Kematian. Pengkhianatan dan Kegagalan. Seperti kontemplasi Ayub yang saleh dan baik, tetapi bernasib malang dan menderita. Memikirkan kelemahan diri dan memasuki kerentanan realitas akan mendekatkan seseorang pada sikap kontemplatif.
Berpikir dengan berbagai perspektif, mengkritisi isi pikiran sendiri, dan menyelami kerentanan realitas adalah cara-cara berpikir agar semakin mendekat pada kontemplasi. Boleh ditambahkan di sini, anjuran dari Han. Suatu kebiasaan sederhana, yakni mendengarkan puisi. Kita setiap waktu menerima sembarang informasi. Informasi adalah bahasa aktif yang terus memberitahu. Kalau hanya itu saja yang kita terima, maka kita juga akan meniru watak bahasa informatif: keranjingan berkata-kata tanpa dipikir dahulu.
Puisi, sebaliknya, merupakan bahasa untuk didengar. Butuh waktu bagi pikiran untuk menyelaminya. Puisi dibaca berulangkali, agar pikiran terbuka. Diimajinasikan, sampai maknanya muncul bagi saya. Syair-syair religius, literatur klasik, orakel-orakel, sarat syair puitik. Kita membacanya bukan dengan mata menghakimi dunia, tetapi dengan keterbukaan menghayatinya. Puisi adalah bahasa dunia sebelum dan sesudah aktivitas. Saat dunia gelap dan letih, bahasa puitik bagai terang untuk menikmati sisa-sisa waktu yang tak terbeli.
Tiga seri tulisan tentang kontemplasi ini banyak mengambil inspirasi dari: Byung-Chul Han, Vita Contemplativa. Oder von der Untätigkeit (Hidup Kontemplatif, atau Saat Ketidakaktifan), Berlin: Ullstein, 2022.