BAB IV: BUKAN HANYA DAPAT KELIRU TETAPI JUGA KETIDAKTAHUAN
«Agar sistem berfungsi, sungguh penting bahwa setiap individu bisa bertindak berdasarkan pengetahuan partikular yang ia kuasai, setidaknya sejauh diterapkan pada situasi tertentu» (FRIEDRICH A. VON HAYEK)
Pengetahuan kita bisa keliru dan parsial. Kedapatkeliruan dari pengetahuan manusia bagi Popper merupakan salah satu dari fondasi masyarakat terbuka. Seperti Popper – dan juga seperti dipikirkan oleh L. Von Mises –, Hayek meyakini tesisnya yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia bersifat hipotetis, dapat keliru, dan selalu bersifat demikian. Selain itu, ia juga mempertahankan suatu tesis lain tentang inti pokok dari pengetahuan, yakni tentang ide mengenai ketersebaran pengetahuan.
Dalam ekonomi, sekalipun bukan semata-semata soal itu saja, terdapat suatu persoalan mendasar dan tak terhindarkan, yang dapat dirumuskan demikian, «sejauh mana dapat ditemukan cara yang lebih baik dalam menggunakan pengetahuan-pengetahuan yang sejak awal tersebar di antara orang-orang yang berbeda». Persoalannya terdapat pada kepentingan-kepentingan yang berlebihan, karena seseorang cenderung mengidentifikasi pengetahuannya dengan pengetahuan saintifik, dengan hukum-hukum fisika, biologi, kimia, dst. Biasanya proses identifikasi tersebut segera membawa kita pada tuntutan-tunutan tentang perencanaan: Cukuplah memasukkan hukum-hukum saintifik ke dalam suatu komputer, dan dengan demikian dari pusat pemrogaman, masalah-masalah itu akan dapat dipecahkan. Akan tetapi kenyataan hidup tidaklah sesederhana itu. Berdasarkan fakta bahwa «pengetahuan saintifik bukanlah puncak dari seluruh pemikiran», Hayek yakin akan adanya kebenaran yang barangkali pada pengamatan pertama tampaknya menyesatkan. Demikian tulis Hayek: «[…] jelaslah terdapat suatu susunan pengetahuan yang teramat penting, sekalipun tidak terorganisir, dan tidak bisa dipahami secara saintifik, yakni pengetahuan tentang hukum-hukum umum: Saya merujuk pada pengetahuan tentang keadaan-keadaan partikular dari suatu tempat dan kurun waktu tertentu. Persis dalam kaitannya dengan jenis pengetahuan ini setiap individu praktis memiliki keunggulannya masing-masing dalam hubungannya dengan individu lainnya, mengingat bahwa ia memiliki informasi-informasi khas yang bisa dimanfaatkan. Namun itu hanya mungkin apabila keputusan-keputusan tersebut berdasarkan informasi-informasi yang dapat diakses setiap orang atau digunakan dengan semangat saling berkolaborasi». Demi memastikan adanya pengetahuan tentang kondisi-kondisi partikular, «pengetahuan-pengetahuan tentang situasi-situasi kontekstual» yang tersebar di antara jutaan manusia, dan sangat diperlukan untuk menemukan solusi bagi persoalan besar dan kecil yang tak terbilang jumlahnya, cukuplah seseorang memberikan perhatian pada hal-hal yang harus dicermati dalam setiap tugasnya sesudah sebelumnya ia menuntaskan pengujian teori, betapa pun banyaknya rutinitas harian yang didedikasikan untuk mempelajari pekerjaan-pekerjaan spesifik, serta sumber-sumber berharga dari pengetahuan setiap orang dalam setiap pekerjaannya, juga pengetahuan dari setiap kondisi lokal dan situasi partikular». Banyak hal bisa dikemukakan sebagai contoh: «Memahami dan menggunakan suatu mesin yang tidak digunakan sepenuhnya atau kemampuan-kemampuan seseorang yang dapat diterapkan secara lebih baik, atau menyadari adanya kelebihan pasokan yang dapat dimanfaatkan ketika terjadinya ganggungan pasokan, adalah sama pentingnya dengan mengetahui teknik-teknik yang lebih baik dalam pengelolaan kehidupan sosial. Sebagian contohnya adalah pengiriman barang melalui kapal barang yang mendapat keuntungan dengan memanfaatkan kapasitas pengangkutan yang kosong atau setengah kosong, atau pelaku usaha properti yang pengetahuannya terbatas hanya pada soal-soal tawar-menawar sementara, atau strategi arbitrage yang mendapatkan keuntungan dari perbedaan harga pasar dari berbagai tempat. Semuanya itu menjalankan fungsinya yang bermanfaat berdasarkan pengetahuan kontekstual tentang situasi sesaat tetapi tidak diketahui oleh orang lain».
Kita mengetahui hal-hal yang bisa keliru dengan mencermati, bahwa pengetahuan-pengetahuan kita bersifat konyektural dan tetap demikian. Namun Hayek berpegang teguh pada fakta bahwa kita, selain dapat keliru, juga tidak tahu. Kenyataannya, kecenderungan seseorang untuk menyamakan kedapatkeliruan dengan ketidaktahuan benar-benar sesuatu yang membingungkan dan menyesatkan. Kita dapat keliru, sehingga persis dapat dikatakan bahwa pengetahuan kita dapat difalsifikasi dan akan seterusnya demikian. Kita mengetahui melalui teori-teori yang dapat difaksifikasi, yang dimiliki oleh setiap orang, dan setiap hari mereka mengalami sendiri ketidaktahuannya. Hidup kita masing-masing tenggelam dalam suatu samudera tentang soal-soal yang tidak diketahui. Kita dapat keliru dan tidak tahu. Oleh karena itu, jelaslah bahwa untuk mengatasi persoalan-persoalan konkrit, setiap orang harus memiliki kebebasan untuk menggunakan pengetahuan-pengetahuan spesifiknya tanpa kendali terpusat dan untuk mengajukan kritik-kritiknya. Dengan kata lain: Kebebasan untuk menanggapi dan mengkritik dari setiap individu persis tidak dapat ditawar-tawar bagi berfungsinya sistem sosial secara baik. Bahkan «agar sistem tersebut berfungsi», hal yang hakiki adalah bahwa setiap individu bisa bertindak berdasarkan pengetahuannya yang partikular, selalu khas, sekurang-kurangnya untuk diaplikasikan dalam konteks tertentu, serta bisa menggunakan kemampuan individualnya dan kesempatan yang dimilikinya dalam batasan-batasan yang ia sadari dan demi tujuan individualnya».
Pengetahuan kita yang dapat keliru tersebar di antara jutaan manusia; dan di sinilah alasan bagi adanya suatu masyarakat kebebasan, yang menjamin kerjasama melalui pembagian kerja. «Masyarakat yang demikian bisa menggunakan jauh lebih banyak pengetahuan daripada yang bisa ditampung oleh pikiran pemerintah yang paling bijaksana». Tidak ada perancang yang akan bisa merencanakan kemajuan pengetahuan tentang masa depan, dan ia tidak akan pernah bisa paham secara tuntas sejumlah besar pengetahuan-pengetahuan tentang situasi tempat dan waktu yang bersifat spesifik. Masih ada juga persoalan mengenai adaptasi yang cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam waktu dan tempat yang berbeda – sehingga dengan premis-premis yang diajukan tersebut, seseorang dapat secara tenang berpendapat bahwa «keputusan-keputusan akhir mesti dikembalikan pada orang-orang yang memahami situasi, yang memiliki pengetahuan langsung mengenai seluk-beluk yang dibicarakan dan mengenai kondisi-kondisi yang tersedia untuk menghadapi permasalahan».
Dari sini, dapat dikatakan dengan jelas, tentang hubungan yang Hayek maksudkan di antara ketidaktahuan dan kebebasan. Nilai kebebasan individu «bersandar terutama pada pengakuan akan ketidaktahuan yang tidak terelakkan dari kita masing-masing dalam kaitannya dengan sejumlah besar faktor-faktor yang menentukan perwujudan tujuan-tujuan dan kesejahteraan hidup kita. Seandainya memang ada orang-orang yang tahu segalanya, dan seandainya kita bisa mengetahui bukan sekedar segala persoalan yang menyentuh kepuasan-kepuasan dari keinginan-keinginan kita hari ini, tetapi juga kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi bagi masa depan, akan ada sedikit yang bisa dikatakan untuk mendukung kebebasan […]. Kebebasan hakiki adalah untuk memberikan ruang bagi hal-hal yang tidak bisa diramalkan dan tidak bisa diprediksi. Kita memerlukannya karena, sebagaimana kita telah pelajari, dari kebebasanlah terkandung kesempatan-kesempatan untuk mencapai begitu banyak tujuan-tujuan kita. Karena setiap individu mengetahui sedikit, lagipula secara khusus, jarang mengetahui siapa di antaranya yang mengetahui dengan lebih baik, maka kita menyerahkannya pada upaya-upaya mandiri dan saling bersaing dari banyak pihak, untuk menghasilkan sesuatu yang kita lihat sesuai dengan sesuatu yang kita inginkan kelak».
(Dario Antiseri, Principi Liberi, p. 31-39)