V] Hal-hal yang perlu diperhatikan tentang pertanyaan mendasar yang diajukan.
Pemahaman yang tepat terhadap pertanyaan tersebut akan sangat penting dalam memberikan jawaban setepat mungkin terhadap persoalan. Pertanyaan yang telah diajukan menyasar pada perseorangan, seperti dirumuskan: Bisakah «seseorang» hidup …etc., dan bukan pada «kumpulan manusia». Dalam ranah persekutuan manusia, semakin besar jumlah anggota di dalamnya, semakin besar kebutuhan pada ikatan-ikatan yang efektif untuk dijadikan kesepakatan bersama.
Di sini, agama menjadi penting sebagai pemasok narasi-narasi dan nilai-nilai, yang memperkuat sentimentalitas kesalingpercayaan dalam suatu kelompok, terlepas apakah dapat dibuktikan sebagai realitas obyektif atau tidak. Seperti halnya dengan ideologi politik, sistem ekonomi, dan ikatan kesukuan, agama mencegah bertambah besarnya kesalingcurigaan setiap orang dan menyatukan mereka ke dalam suatu kelompok, bahkan melampui batas-batas kesukuan, bangsa, dan ideologis. Sekalipun demikian, harga yang harus dibayar adalah kecurigaan suatu agama yang satu terhadap yang agama lainnya, dan bahkan bisa berujung pada tindakan-tindakan tidak manusiawi seperti kita temukan dalam peperangan dan kekerasan antar agama. Jadi, agama merupakan salah satu institusi penting untuk menunda pertentangan antar kelompok kecil manusia, tetapi tidak selalu efektif dalam menunda pertentangan antar agama itu sendiri.
Sedangkan dalam ranah individu, setiap orang secara sadar tidak mewajibkan dirinya untuk bergantung pada agama. Ia melalui penalarannya bisa menemukan alasan-alasan pribadi untuk hidup secara manusiawi tanpa harus mengikuti tuntunan dan perintah dari otoritas agama. Akan tetapi, sadar atau tidak sadar, tidak ada satu individu manusia yang bertumbuh besar dengan usaha sendiri. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga, kelompok pertemanan, masyarakat, suku-bangsa, negara. Jika kelompok-kelompok tersebut tidak luput dari pengaruh agama, maka setiap individu secara tidak langsung berada dalam pengasuhan yang diliputi dengan nilai-nilai agama. Bahkan, individu adalah suatu konsep yang didasarkan pada ide tentang martabat terberi setiap manusia, yang memiliki asal-usulnya dari ajaran agama-agama. Jadi, kita masih harus menjelaskan «dalam arti apa» seorang manusia bisa hidup manusiawi tanpa agama.
VI] Pemahaman lebih lanjut tentang hidup secara manusiawi.
Di antara organisme hidup lainnya di dunia ini, perlu dipaparkan kekhasan-kekhasan yang membuat hidup manusia berbeda sehingga daripadanya dapat dijelaskan secara masuk akal arti tentang hidup manusiawi. Kemampuan untuk bertumbuhkembang secara bertahap, kawin-mawin, dan beranak-pinak bukanlah kekhasan manusia belaka, seperti kita temukan dalam tetumbuhan dan binatang. Demikian juga kemampuan komunikasi juga dapat ditemukan dengan berbagai macam tingkatan dan variasinya dalam binatang. Mereka bukanlah alasan-alasan yang memadai bagi kehidupan yang manusiawi.
Selanjutnya, kesamaan-kesamaan manusia dengan binatang dan tumbuhan dapat menjadi khas milik manusiawi persis dalam fakta berikut: Spesies ini terbukti mampu memutakhirkan dan menjadikan luhur hal-hal yang pada mulanya persoalan biologis semata melalui ungkapan-ungkapan bahasa, seni, dan pengulangan ritus-ritus sakral. Misalnya: Institusi perkawinan, romantisasi hasrat seksual, silsilah keturunan dalam sistem kasta, aneka ragam pola pengasuhan dan pendidikan nilai, upacara kematian dalam hubungannya dengan leluhur, sistem moral, teknologi, dsb. Dalam hasil kreasi ini dapat ditemukan adanya keyakinan akan nilai keadilan, perdamaian, keharmonisan, kebenaran, keindahan, dsb.
Walaupun demikian, tidak mungkin berbagai kreasi manusia ditemukan tanpa adanya alasan atau motif yang paling mendasar. Mengacu pada argumen negasi pertama dan ketiga, argumen afirmasi ketiga, dan tentang ikatan kelompok yang sudah dibahas dalam «pemahaman soal pertanyaan», kita bisa menyimpulkan bahwa hasrat sekaligus alasan mendasarnya adalah membentuk persekutuan untuk menghindari kebinasaan total. Dirumuskan secara lebih ringkas adalah merawat hubungan-hubungan demi bertahan hidup. Jadi, hubungan dan hidup adalah dua alasan mendasar dari berbagai kreasi-kreasi yang memberikan ciri-ciri bagi kehidupan khas manusia.
Akan tetapi, bukankah keterarahan untuk mempertahankan hubungan antar individu dan kehidupan setiap individu sama dengan yang terjadi pada organisme hidup lainnya? Dimensi biologis pada awalnya dan pada akhirnya menentukan sedemikian kuat berbagai pengalaman-pengalaman kolektif kelompok manusia dan pengalaman eksistensial setiap individu. Juga kalau «motif untuk hidup» coba diruntuhkan dengan fakta dari sejumlah martir dan pelaku bom bunuh diri yang merelakan nyawanya, mereka toh membawa dalam dirinya suatu keyakinan tentang kehidupan kekal bersama para pendahulu yang mereka hormati. Hidup biologis diubah menjadi kehidupan sesudah kematian, dan hubungan antar individu diperluas menjadi persekutuan para kudus. Jadi, dua motif mendasar ini tetaplah menjadi titik tolak dari seluruh perjalanan peradaban manusia, juga kalau pemaknaannya sudah berubah dari maksud biologisnya.
Lagipula, kerelaan beberapa orang untuk mengorbankan kenyamanan sampai hidupnya demi nasionalisme atau demi kemanusiaan adalah di satu pihak, fakta yang tidak dapat disingkirkan dan di lain pihak, justru menunjukkan keinginan mereka untuk mempertahankan hidup generasi-generasinya dan kelompoknya. Pada keinginan ini, kehidupan orang lain, sejauh ambil bagian dari keanggotaan kelompoknya, adalah sama dengan kehidupan «saya». Sedangkan hasrat akan «hidup abadi» dirumuskan ulang sebagai keabadian naratif: «Aku diceritakan turun-temurun, maka aku hidup terus-menerus dalam ingatan generasi-generasi selanjutnya». Kisah heroisme para pahlawan bangsa adalah contohnya. Namun, apakah mereka yang rela mati bukan demi motif agama, benar-benar sadar bertindak atas motif keabadian naratif? Jawabannya teramat sulit dipastikan satu per satu dan riskan untuk jatuh pada sesat logika, yakni melihat keseluruhan dengan mengacu pada kasus-kasus partikular.
VII] Tanggapan akhir
Secara kolektif, manusia tidak bisa hidup secara manusiawi terlepas dari pengaruh agama. Tidak ada kerajaan dari belahan dunia mana pun – seperti pada Abad Pertengahan: munculnya awal Kekaisaran Roma Suci, ekspansi bangsa-bangsa Arab yang merangsek benua Eropa, atau ukiran-ukiran candi-candi Jawa tentang raja dan ratu yang diserupakan dengan dewa-dewi – yang bisa lepas dari konsep ketuhanan untuk melegitimasi kekuasaan politik. Patung-patung dewa Yunani, seni rupa yang mengisi keseluruhan arsitektur Basilika Santo Petrus, kaligrafi-kaligrafi Al-Qur’an, nama-nama tuhan dalam semboyan negara-negara modern adalah penegasan atas pengaruh kuat agama-agama, terlepas suka atau tidak. Repetisi ritus-ritus keagamaan bergandengan tangan dengan pergantian kekuasaan dan peradaban, tetap memicu sentimentalitas akan sakralitas, biar pun diiringi dengan darah dan penindasan para budak serta rampasan perang. Jadi sampai hari ini, agama-agama tetap menjadi ketergantungan bagi kelompok-kelompok manusia.
Secara individual, setiap orang bisa lepas dari konsep ketuhanan dari agama dalam arti bahwa ia tidak ambil bagian dalam keanggotaan agama tertentu. Sebaliknya, setiap manusia yang hidup selalu berdasarkan preferensi nilai tertentu, memikirkan dan mengimajinasikan nilai-nilai bukan dari kepala kosong. Pikiran dan tindakannya tidak bisa melarikan diri dari sejarah pengaruh-pengaruh dan dari tradisi, yang di dalamnya, agama baik yang sudah punah maupun yang masih bertahan turut memengaruhinya. Juga kalau ada seseorang yang tak peduli sama sekali dengan konsep ketuhanan dalam pertimbangan tindakan-tindakannya, nilai yang mendasarinya juga dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan yang masuk melalui kondisi masyarakat tempat ia hidup. Selalu ada keyakinan atau pengandaian dari masa lalu yang memberi kita titik tolak untuk membangun nilai apa pun, bahkan di luar institusi keagamaan.
Namun, berbagai karya manusia yang tidak bisa dilakukan oleh spesies lain, sekalipun mengindikasikan dan mengejawantahkan kehidupan manusiawi, tidak selalu sejalan dengan motif dasarnya, yakni memelihara hidup dan merawat hubungan. Beriringan dengan teknologi dan ideologi, agama pun turut menyumbang pada perang dan penindasan; pada pembinasaan hidup dan perusakan hubungan antar-manusia. Karena itu, «lepas dari ketergantungan terhadap agama» bukan soal mungkin atau tidak, tetapi soal kemampuan yang setiap orang perlu miliki di saat agama sendiri mengkhianati maksud asalinya. Penafsiran dan ajaran apa pun yang diserukan agama apa pun dan kapan pun tidak harus dijadikan patokan yang ditaati apabila mengarahkan pada kebinasaan hidup dan krisis hubungan antar manusia. Juga seruan agama untuk «hidup damai sejauh tidak dalam kondisi perang» adalah prinsip yang kurang serius. Tunggulah saat perang tak terhindarkan, maka tidak lama kemudian masing-masing dewa akan dibawa-bawa untuk membenarkan pembunuhan satu sama lain. Prinsip untuk menjaga hidup dan merawat hubungan akan segera dilupakan.
Jelas bahwa agama yang memasok konsep-konsep ketuhanan dan nilai-nilai kolektif memiliki peran besar untuk menghantarkan manusia menjadi spesies yang paling dominan hari ini di muka bumi. Namun dalam hubungan antar-manusia sendiri, perannya tidak lebih penting dari ideologi dan sistem ekonomi. Ketiga-tiganya toh sama-sama kurang penting daripada hidup dan hubungan saling ketergantungan. Apalagi glorifikasi manusia sebagai spesies puncak dalam hirarki organisme sudah berdiri di atas alasan-alasan yang keropos dimakan «rayap-rayap fakta», bahwa kita ternyata jauh lebih bergantung pada organisme lainnya dan kehidupan jauh lebih berharga dari apa pun.
Bukanlah kemustahilan kalau seseorang menutup telinga kuat-kuat, menutup mata rapat-rapat, dan menarik tangan jauh-jauh dari kata-kata sesaleh apa pun yang memancing emosi kita untuk saling membunuh dan tercerai berai. Suatu agama tertentu memodifikasi dirinya menjadi suatu agama yang sebenarnya lain sama sekali dari bentuk terdahulunya. Namun jelas ia akan lenyap dan akan digantikan agama lain karena pengkhianatannya pada hidup dan hubungan. Ia ditinggalkan karena tidak semua orang mau mati konyol karena iming-iming yang tidak bisa dipastikan. Jadi, agama tidak lebih penting daripada dan bergantung pada hidup dan hubungan. Siapa yang mengarahkan setiap tindakannya pada pemeliharaan hidup dan hubungan, dengan demikian, adalah organisme hidup yang tidak bergantung pada agama.