Kami ingin menyinggung tentang kemungkinan seorang manusia bisa hidup tanpa bergantung pada agama. Jadi, pertanyaan mendasarnya adalah: «Bisakah seseorang hidup manusiawi tanpa bergantung pada konsep ketuhanan yang dipasok oleh agama?»
I] Apabila jawabannya «bisa», alasan-alasan berikut perlu dikemukakan:
Pertama, manusia sudah ada jauh sebelum kemunculan persekutuan-persekutuan yang dapat didefinisikan sebagai agama, dan adanya peradaban manusia sampai hari ini bukanlah tahapan yang terputus dari suatu fase sejarah saat manusia hidup tanpa persekutuan tersebut. Jadi, manusia-manusia pernah hidup tanpa agama.
Kedua, agama sejauh dipahami sebagai seperangkat ikatan sosial yang dibangun melalui proses pewarisan tradisi dan bahasa adalah kontruksi manusia dari satu generasi ke generasi lain. Jadi bukan manusia yang bergantung pada agama, melainkan sebaliknya: Keberadaan agama bergantung pada aktifitas manusia yang mengkontruksinya.
Ketiga, fakta sejarah dalam masyarakat yang mengalam proses sekularisasi –pemisahan antara ranah kekuasaan agama dan kekuasaan sipil; antara ranah privat dan publik; antara hal-hal profan dan hal-hal keagamaan – menunjukkan bahwa mereka tetap bisa melanjutkan peradabannya tanpa mengacu pada nilai-nilai eksklusif dari suatu agama tertentu apapun. Mereka malahan mendasarkan kehidupan sosialnya pada nilai-nilai bersama yang tidak menyinggung konsep-konsep ketuhanan apapun. Jadi, manusia bisa hidup bersama tanpa harus melibatkan konsep-konsep ketuhanan di dalamnya.
II] Apabila jawabannya «tidak bisa», alasan-alasan berikut perlu dikemukanan:
Pertama, sejauh sejarah manusia dipahami sebagai suatu kerangka yang terbuka pada intervensi Ilahi, maka tidak ada satupun sejarah peradaban yang luput dari keterlibatan Ilahi, entah sebagai penyebab langsung, entah sebagai penopang dari penyebaban. Jika sejarah keterlibatan Ilahi adalah fakta, maka penyangkalan dan penerimaan akan intervensi Ilahi tidak berpengaruh sama sekali. Jadi, peradaban manusia bergantung pada penyelenggaraan Ilahi dan jalannya penyelenggaraan ilahi diceritakan dan ditemukan dalam agama-agama.
Kedua, tidak satu pun nilai-nilai moral yang dianggap bisa mengarahkan setiap orang menjadi manusiawi bisa terlepas dari pengandaian-pengandaian metafisik. Dalam ranah metafisika, entah suka atau tidak suka, proses genealogi nilai-nilai akan berujung pada penyebab pertama dan tujuan akhir, yang menjadi ciri khas dari konsep ketuhanan. Jadi, hidup yang manusiawi bergantung sebagai fondasinya pada konsep ketuhanan dalam agama-agama.
Ketiga, antropologi negatif yang memaparkan manusia sebagai spesies yang intoleran, ekspansif, gemar berkonflik memiliki konsekuensi terjauh pada perang saling membinasakan antar kelompok manusia yang satu dengan yang lain. Karena itu, hasrat-hasrat merusak tersebut perlu ditertibkan dan dijinakkan dengan «ancaman-ancaman» berupa hukuman dan «iming-iming» berupa ganjaran yang ditawarkan oleh agama-agama. Tanpa adanya ketakutan dan harapan, manusia sudah dari dahulu binasa karena perilaku buruk yang tidak dikendalikan. Jadi, untuk menjadi manusiawi, manusia bergantung pada tata-tertib agama.
III] Sanggahan terhadap argumen afirmatif «bahwa seseorang bisa hidup manusiawi tanpa agama», dapat dikemukakan sebagai berikut:
Pertama, jika definisi agama tidak direduksi pada kriteria-kriteria agama-agama langit (Yahudi, Kristen, Islam), yang harus meyakini adanya pewahyuan dalam Kitab Suci, adanya Nabi, dan adanya awal dan akhir sejarah, tetapi cukup dengan memenuhi kriteria berupa keyakinan akan adanya kekuatan adikodrati, maka munculnya konsep ketuhanan sudah dapat ditemukan jejak-jejaknya sejak peradaban awal homo sapiens. Bukti-bukti karya seni dan tulisan yang menunjukkan keyakinan atas eksistensi kekuatan adikodrati menunjukkan bahwa jauh sebelum adanya «definisi agama», manusia sudah bergantung pada agama dalam arti luas.
Kedua, jika agama merupakan perangkat duniawi yang melaluinya dan di dalamnya intervensi ilahi bekerja bersama dengan daya-daya kemanusiaan, maka jelas bahwa agama bukanlah sekedar kontruksi manusia, melainkan ada kontruksi ilahi yang terlibat di dalamnya. Bahkan sejauh kontruksi ilahi melalui agama-agama lebih unggul dalam tingkatan penyebaban daripada kontruksi manusia, maka jelaslah bahwa tidak ada kontruksi murni dari pihak manusia. Jadi, agama bukan sekedar kontruksi manusia.
Ketiga, sekularisasi tidak seperti konsep «penciptaan dari ketiadaan», tetapi lebih mirip dengan pertunjukan sulap, yang muncul dari suatu perencanaan yang sudah ada sebelumnya. Demikian juga, sekularisasi adalah konsekuensi sejarah dari ide-ide agama langit yang membuat pemisahan tegas antara hal-hal yang tercipta dan pencipta. Dari situ pengetahuan manusia (yang diciptakan) memiliki otoritasnya hanya dalam penelaahan dunia tercipta yang dide-sakralisasi dan membentur batas-batasnya dalam hal-hal adikodrati. Hanya dengan «menyepelekan» dimensi adikodrati, dalam wujud penyebab pertama dan tujuan akhir, dan sekedar memusatkan diri pada konsep-konsep kodrati dari pengamatan, dalam wujud penyebab formal dan material, maka menyingsinglah peradaban dan ilmu pengetahuan sekuler. Jadi, bagaimana pun juga, bahkan dalam sejarah pembentukan peradaban sekuler, manusia tetap bergantung pada agama-agama.
IV] Sanggahan terhadap argumen negatif bahwa «manusia tidak bisa menjadi manusiawi tanpa agama»
Pertama, intervensi ilahi dari sudut pandang beberapa pemikir teologi kodrati Akhir Abad Pertengahan, bukanlah sesuatu yang bisa dibuktikan seperti halnya fenomena alam. Kita bahkan bisa mengandaikan penyebab dalam jumlah tak berhingga tanpa mengacu pada suatu penyebab tunggal untuk menjelaskan fenomena dunia alamiah. Paling tidak, kita hanya bisa membuktikan adanya penopang atas penyebab-penyebab, dan penopang bukanlah, dengan demikian, penyebab. Lagipula konsep ketuhanan, setidaknya dalam tiga tradisi agama langit, mengandaikan adanya iman akan wahyu yang bersifat khas bagi kelompok tertentu. Jadi, intervensi ilahi bukanlah pembuktian ilmiah, melainkan keyakinan partikular yang tidak bisa dijadikan patokan bagi pembuktian yang keberlakuannya bersifat universal dan tak-terkondisikan, atau katakanlah sebagai pengandaian yang relevan hanya bagi mereka yang mengimaninya.
Jika intervensi ilahi adalah persoalan iman belaka, maka seluruh kontruksi dan penelitian dalam bidang ilmu pengetahuan modern tentang dunia sampai pada penerapan aplikatifnya dalam teknologi, yang bertumpu pada sanggahan terus-menerus demi kemajuan suatu riset, tidak memerlukan sama sekali presuposisi iman akan tuhan. Mengaitkan proses sebab-akibat dalam alam dengan intervensi ilahi adalah sebentuk lompatan metodologis yang mustahil karena tidak ada perantara yang sanggung menjembatani antara «apa yang diimani» dan «apa yang disanggah terus-menerus».
Juga kalau seseorang dengan keras kepala berupaya menyanggah kriteria-kriteria ilmu pengetahuan modern dan menganggapnya sebagai klaim sepihak yang tidak perlu dijadikan patokan, ia masih harus menunjukkan bahwa kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan melalui penelitian, dan mereka juga nikmati manfaatnya, mesti menyertakan doa-doa dan iman akan tuhan. Jika ada para ilmuwan yang tidak membawa-membawa iman akan tuhan mampu menghasilkan pengetahuan yang dapat memodifikasi hidup secara faktual, maka dari mana lagi orang itu membuktikan intervensi ilahi? Pada akhirnya, mereka hanya akan berujar «ini adalah fakta iman», dan itu jelas bukan pembuktian ilmiah.
Kedua, metafisika tentang tuhan adalah konsep-konsep yang diandaikan agar argumen-argumen untuk menjelaskan proses alam tidak regressus ad infinitum (mundur sampai tak berhingga, atau tidak ada ujungnya). Sejauh ini adalah presuposisi (konsep yang diandaikan begitu saja), maka jelas itu adalah juga bagian dari seluruh batang tubuh argumen yang dikontruksi. Konsep ketuhanan yang bersifat metafisik pun adalah hasil kontruksi pikiran manusia. Lagipula, tidak semua yang disebut agama menganggap penting konsep ketuhanan. Faktanya kita bisa menemukan sejumlah agama yang tidak menganggap penting doktrin-doktrin dan spekulasi tentang konsep tuhan, lantas tanpa itu pun mereka bisa mempertahankan eksistensi dari perangkat-perangkat institusi keagamaannya. Jadi, konsep ketuhanan diperlukan oleh sebagian agama saja, bahkan bagi sebagian orang yang menolak beragama apa pun tidak diperlukan sama sekali.
Ketiga, klaim bahwa agama sungguh efektif dan efisien dalam mengendalikan hasrat-hasrat negatif nan merusak dari manusia dapat gugur berdasarkan fakta sejarah berikut. 1) Konflik dan perang atas nama agama, dengan mengutip ayat-ayat yang dianggap suci dan dengan mengatasnamakan kehendak ilahi, menghasilkan jumlah total korban paling besar. Bahkan perang-perang atas nama etnisitas dan politik nasionalisme pun tidak akan seefektif kenyataannya kalau tidak membawa-bawa «ilah-ilah» yang diidolakan. 2) Tidak seorang pun bisa menutup mata terhadap fakta pelecehan dan kekerasan seksual, korupsi, dan berbagai kejahatan lainnya dalam institusi-institusi agama yang seringkali merepresentasikan sebagai sumber norma moral bagi pengendalian hasrat merusak manusia. 3) Penyangkalan atas fakta kejahatan «mengatasnamakan ajaran agama» dengan mencari kambing hitam pada oknum-oknum agama masih harus menjawab pertanyaan berikut: Jika sebegitu otoritatifnya ayat-ayat suci agama, mengapa ia dengan mudahnya dimanipulasi? Dan jika agama bisa dimanipulasi, bukankah dengan demikian menunjukkan bahwa sesungguhnya tata-tertib agama terlalu lemah untuk mengarahkan hasrat-hasrat merusak manusia. Antropologi negatif menang atas antropologi teologis.
(BERSAMBUNG…)