Anda kenyang makan berita akrobat partai-partai politik untuk mengotak-atik koalisi-koalisi? Tidak lama lagi, kalau «persatean koalisi» itu sudah mantab, kita akan melihat bukti telanjang tentang aspek-aspek hidup yang saling mengkontaminasi. Ide-ide abadi bercampur begitu saja dengan politik yang kontingen dan teknik retorika. Pemisahan ontologi, etika, dan teknik yang pernah dibuat Aristoteles hanya terjadi dalam pikiran saja dan tidak pernah mencapai titik ideal dalam kenyataan. Hidup itu utuh dan terbentuk dari aspek-aspek yang saling tarik menarik. Paradoks tak berkesudahan.
Ada kalanya keyakinan-keyakinan tentang keabadian dalam agama-agama dicampur dengan soal-soal politik untuk membuat polarisasi masyarakat. Ada kalanya dalam kasus komunitas-komunitas lokal keduanya justru diceraikan. Maksudnya tidaklah berbeda, yakni agar kekuasaan institusi politik bisa mendefinisikan dan mengendalikan hidup warganya. Mengurangi kekuatan politik setiap warga dilakukan dengan menciptakan situasi darurat: bahaya separatisme, urgensi lompatan kemajuan, percepatan pertumbuhan ekonomi, dsb. Kedaruratan ini akan diamplifikasi dalam rutinitas demokrasi : Kampanye dan pemilu. Dan sementara itu, kita masih terus melihat korban-korban di Papua berjatuhan, hak ulayat warga lokal terampas, dan kecurigaan antar warga meningkat.
Secara fisik kita berpakaian, tetapi secara politik kita ditelanjangi. Persis saat hak hidup warga diceraikan dari tindakan politik; dibuat cukup puas untuk mengurusi rumah tangga (oikos), tetapi dirampas keterlibatannya dalam urusan publik (polis). Potensi-potensi kritis warga dibenamkan untuk sekedar mengikuti produk-produk kekuasaan dalam rutinitas pemilu. Seperti katak berenang di air panas, warga masyarakat sedang dipanas-panasi emosi dan sentimennya dalam lautan kata-kata media sosial. Naif kalau mengatakan ruang digital hanya menawarkan kebebasan. Di dalamnya kita juga mudah dimanipulasi oleh citra-citra palsu para elit politik. Dan kita dengan efuoria begitu menikmati drama-drama koalisi?
Ini bukan fenomena khas Indonesia, tetapi juga global. Di zaman “kapitalisme ala mata-mata” (surveillance capitalism), suatu istilah yang diajukan Zuboff, alat-alat tidak lagi tunduk pada logika politik masyarakat. Aparatus-aparatus digital memiliki logika sendiri untuk memainkan perilaku kita yang terekam dalam sistem data raksasa. Mereka adalah «Raksasa Asing (the Big Other)», dan siapa yang memiliki akses padanya, akan mampu mengendalikan permainan politik. Sebenarnya tidak ada yang bisa mengendalikan Raksasa Digital ini, bahkan para pemegang kekuasaan. Kapitalisme digital secara logis menyusun berbagai ego-ego setiap orang dalam media sosial, lantas menyusunnya menjadi suatu sistem definisi. Tidak seorangpun terkecualikan untuk tinggal di dalamnya, seolah-olah itulah kenyataan dunia. Padahal kita dipermainkan oleh alat-alat yang lepas kendali.
Adakah kemungkinan bagi warga masyarakat untuk menggunakan kembali kedaulatannya? Tentu saja kemungkinan itu muncul kalau kita menyadari adanya alternatif-alternatif selain aktualisasi-aktualisasi yang selama ini diterima begitu saja sebagai keharusan. Kesadaran macam ini bisa dihasilkan dengan mencari asal-usul dan motif dari suatu keputusan kekuasaan yang mengena pada hidup kita. Pertanyaan kita bukan lagi soal sosok-sosok yang ditawarkan tetapi soal bagaimana dan mengapa koalisi persatean memilihnya? Lebih dari itu, tindakan politik apa yang bisa kita lakukan di luar «orkes dangdut» dari para elit politik itu? Lebih dalam lagi, hidup macam apa akan kita alami apabila mengikutinya? Jauh lebih dalam lagi, ide-ide mendasar apa yang memungkinkan orkestrasi politik macam itu. Pertanyaan-pertanyaan macam ini adalah metode yang disebut genealogi atau arkeologi.
Adalah menarik arkeologi filosofis yang dilakukan Agamben untuk menjawab pertanyaan, bagaimana kapitalisme bekerja menjadi ideologi yang sepertinya tak terelakkan lagi di masa-masa sekarang. Secara singkat tesisnya berbunyi demikian: «Kapitalisme bekerja dengan mengukur seseorang dari alat-alat yang dihasilkan, suatu sistem yang memaksa tubuh untuk terus beroperasi, dan tidak pernah seseorang diukur dari cara ia menggunakan secara bebas tubuhnya sendiri». Warga diukur dari kepatuhannya untuk menghasilkan alat-alat penunjang turisme; dari produk politik dengan memberikan suara saat pemilu; dari pengorbanannya memberikan ruang hidupnya demi kemanfaatan semakin banyak orang. Kondisi kita tidak ubahnya seperti buruh-buruh di masa awal kapitalisme lahir, dan bahkan lebih buruk dari hamba-hamba di rumah para warga Yunani Kuno.
Agamben, lantas, menggunakan gambaran hamba di masa Yunani Kuno sebagai figur yang bisa menjelaskan kedaulatan dalam penggunaan tubuh di dalam suatu sistem hidup yang memata-matai. Sebab, alat-alat yang dihasilkan bukan menjadi ukuran keberadaan seorang budak, melainkan penggunaan tubuhnya sendiri. Bahkan saat Tuan menggunakan tubuh hambanya, ia sedang menggunakan tubuhnya sendiri –karenanya, tidak dibenarkan sama sekali memperjualkan budak kepada bisnis prostitusi. Hamba adalah «manusia tanpa kerja menghasilkan alat-alat (l’uomo senz’opera)», yang memungkinkan Tuannya ke luar dari rumah untuk berpartisipasi ke dalam politik kota. Kesatuan antara Tuan dan Hamba ini adalah, katakanlah, suatu simbol bagi cara hidup yang integral, yang kehidupan politik kekuasaan tidak mengendalikan kehidupan privat dan preferensi personal warganya, malahan sebaliknya: Kedaulatan warga adalah penentu dan pembatal kedaulatan institusi politik.
Uraian yang memutar-mutar ini bermaksud menunjukkan pentingnya rasa curiga pada berbagai aktualisasi-aktualisasi yang dijalankan politik kekuasaan. Kedaulatan warga dimulai dari kesadaran bahwa ada ruang antara, atau katakanlah, ruang kemungkinan. Selalu ada alternatif-alternatif cara berpikir dan cara hidup yang menjaga kita agar tidak dipecah-pecah satu sama lain; juga tidak direduksi tubuh kita.
Barangkali cara sederhana bagi kita yang hampir tidak bisa mengelak dari penggunaan media sosial adalah selalu melihat berbagai masalah dari berbagai kutub-kutub informasi yang saling bertempur. Adalah penting untuk menemukan fakta bahwa pertentangan-pertentangan itu saling mengkontaminasi tetapi terhubung oleh suatu kepentingan tertentu yang berdampak pada kehidupan sehari-hari kita. Jika itu sudah dicermati, kita akan dibantu lebih mudah untuk menemukan kemungkinan untuk mempertahankan kedaulatan, sekurang-kurangnya tidak menjadi korban polarisasi. Terakhir, sungguh mendasar sekali bagi kita untuk menghidupkan kembali ingatan penderitaan dan kematian dari tubuh-tubuh tanpa nyawa yang menjadi korban politik kekuasaan. Menjadi semakin manusiawi adalah jalan untuk meraih kedaulatan kita kembali sebagai warga manusia.