ARGUMEN STIEGLER TENTANG KAPITALISME HIPER-INDUSTRI
Pernahkah Anda merasa bersalah sehabis seharian menghabiskan waktu di depan ponsel cerdas, lantas berniat untuk menata diri di hari-hari ke depan? Semakin saya menahan hasrat untuk berselancar di internet, semakin berlipat ganda perhatian saya tercurah pada internet. Sialan, fokus perhatian saya bertentangan dengan kehendakku. Baru sehari, saya sudah menyerah dan kembali menghabiskan waktu di dunia digital. Rasa bersalah berulang lagi, tetapi tanpa daya mengubah kebiasaan.
a) Riset-riset Bernuansa Negatif dan Positif
Sebenarnya, dengan membatasi penggunaan teknologi digital, seseorang bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk peduli pada lingkungan sosial. Bahkan kedekatan dengan alam berhubungan dengan peningkatan kualitas kebahagiaan masyarakat suatu negara, dan Nepal menunjukkan peringkat tertinggi (Barkham: The Guardian, Sat 1 Nov 2025 07.00).
Sayangnya, keterhubungan manusia dengan alam menurun 60% sejak 200 tahun terakhir (Barkham: The Guardian, Sat 9 August 2025 09.00). Namun, The Guardian juga menyinggung studi Richardson yang menunjukkan data mengejutkan bahwa kosakata berkaitan dengan alam dalam buku-buku meningkat kembali, dari penurunan kosakata 60,6% di sekitar tahun 1800-an menjadi 52,4% dari 1990 sampai hari ini.
Kolom Humaniora Kompas (23 Januari 2025, 10.13 WIB) menampilkan studi terbaru yang menarik. Cara-cara inovatif dan kreatif melalui media daring – disebut juga ‘alam berbasis layar’ – bisa meningkatkan minat kaum muda dalam mempelajari alam, lalu membantu menghubungkan mereka dengan alam sesungguhnya. Studi ini memberikan perspektif baru, bahwa ruang digital juga menyediakan peluang selain ketercerabutan dari alam, yakni keterhubungan kembali dengan alam melalui cara-cara yang lebih sesuai dengan generasi digital.
Media daring bisa mendorong penggunanya untuk menaruh perhatian yang lebih besar pada lingkungan sosial dan alam. Namun, perannya masih bersifat stimulus, bukan secara fisik. Kolom Kesehatan TEMPO (29 Januari 2025, 16.03 WIB) tetap mengingatkan bahaya penggunaan ponsel cerdas, sebesar apa pun manfaat yang hendak ditawarkan, dengan istilah popcorn brain. Ini menggambarkan kondisi di mana otak terus berpindah dari satu pemikiran ke pemikiran lain dengan sangat cepat, layaknya biji jagung yang meletus saat dipanaskan. Dampak buruk bagi kesehatan adalah gangguan tidur, peningkatan stres dan kecemasan, penurunan kemampuan mengambil keputusan, menurunnya interaksi sosial, dan bahkan berkurangnya kebahagiaan.
Kita bisa menangkap gejala dari riset-riset yang dipaparkan oleh berbagai media di atas. Teknologi digital membuka peluang dan ancaman sekaligus: menstimulasi perhatian pada alam dan mengalihkan perhatian dari alam. Secara inheren, teknologi bukan ‘alat iblis’ belaka, juga bukan ‘alat malaikat’ saja. Kedua-dua sisi berkelindan dan bercampur dalam setiap penggunaannya. Ini pun masih berbicara dalam tingkatan perhatian psikis. Kita masih belum masuk ke dalam perhatian praksis, yakni tindakan merawat.
Tidak bisa lagi masyarakat pasar modern lepas sepenuhnya dari pengaruh teknologi digital yang menyedot perhatian. Sistem ekonomi yang mengatur keseharian kita sampai hari ini masih bertumpu pada akumulasi modal. Kapitalisme termutakhir mengombinasikan dengan rapi suatu tata kelola sosial-ekonomi dengan akumulasi data perhatian setiap orang. Tulisan ini persis hendak menyoroti cara kapitalisme hari ini menggiring perhatian manusia dalam mengelola kehidupannya, juga dalam pengelolaan alam.
Di tulisan ini kita merujuk pada karya Bernard Stiegler, Ce qui fait que la vie vaut la peine d’être vécue (Apa yang membuat kehidupan layak dijalani), Flammarion 2010, secara khusus pada bab ke-3 : Pharmacologie du capital (Farmakologi Kapital). Di bab ini, Stiegler akan memaparkan tiga batasan kapitalisme dan apa dampaknya bagi kehidupan manusia. Analisis filosofis Stiegler menarik kita untuk tidak berhenti sekadar mendaftar data-data manfaat dan mudarat kapitalisme hiper-industri bagi kehidupan manusia dan alam, kemudian menyeret kita lebih dalam untuk melihat modus operasinya secara farmakologis.
b) Farmakologi Kapital
Stiegler memulai dengan konsep Yunani pharmakon. Ia mengembangkan hermenutika Derida yang mendefinisikan farmakon sebagai sesuatu yang menjadi obat sekaligus racun. Tiada satu pun ikhtiar manusia dalam menciptakan kebudayaan, pengetahuan, teknologi, dan bahasa yang bisa memisahkan kemudaratan dari kemanfaatannya. Kedua sisi ini selalu menyertai setiap bentuk cipta insani. Oleh karena itu, dalam tema-tema mengenai kemanusiaan, situasi zaman (nihilisme misalnya), modus produksi (kapitalisme misalnya), Stiegler selalu mengayunkan analisisnya di antara dua sisi farmakon.
Demikian juga dalam Bab ke-3, Stiegler berbicara mengenai sifat farmakon dari teknologi dan sistem ekonomi modern. Kapitalisme memang dapat mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kemajuan teknis (obat), tetapi ia juga dapat menghancurkan kemampuan manusia untuk menginginkan, berpikir, dan merawat dunia (racun). Suatu positivitas beriringan dengan negativitas dan demikian seterusnya. Dialektika farmakon ini tidak berujung pada suatu finalitas absolut macam perjalanan Roh Hegelian. Keduanya terus bertumbukan dari satu bentuk sistem ekonomi dan teknologi lama ke yang lebih baru, tanpa bisa mengenyahkan secara total negativitas-positivitas dari farmakologi.
Untuk mempertahankan eksistensinya, kapitalisme harus menjalankan proletarianisasi. Ini merupakan suatu modus produksi yang bertumpu pada mekanisme untuk mengeksploitasi manusia sebagai tenaga produktif dengan mencetak tenaga-tenaga buruh yang taat dan andal. Dalam masa kapitalisme industri klasik (abad ke-18), proletarianisasi mengeksploitasi kaum buruh sampai para pekerja ini kehilangan kepemilikan atas alat-alat produksi dan kedaulatannya atas savoir-faire (pengetahuan berkarya). Sebelum era industrialisasi, kita masih menemukan para pengrajin yang tahu betul cara memproduksi benda-benda teknis; petani yang tahu mengolah tanah; dan dokter yang tahu melakukan diagnosis terintegrasi. Pengetahuan melekat pada praktik teknis.
Namun, sejak industrialisasi, kita menemukan lonjakan kelas pekerja. Mereka ini tidak terlibat dalam keseluruhan proses penciptaan suatu produk. Para pekerja tidak benar-benar memproduksi, tetapi melakukan satu gerakan mekanis di pabrik. Dengan mengikuti sistem operasi mesin, pengetahuan produksi berpindah dari mental pekerja ke sistem operasional mesin dan struktur organisasi industri. Mereka paling-paling hanya bertindak sebagai operator mesin. Inilah yang dimaksud dengan kehilangan ‘pengetahuan berkarya’.
Kapitalisme industri klasik berganti menjadi ‘kapitalisme hiper-industri.’ Di sini, modus utamanya bukan lagi sekadar produksi, tetapi juga pada modus konsumsi. Proletarianisasi menyasar pekerja dan konsumen sekaligus. Kita boleh menyebutnya kapitalisme konsumeris. Pekerja dan konsumen tidak lagi berbeda karena keduanya digiring untuk menjadi konsumeris. Menurut Stiegler (2010: 171-175), bukan hanya tenaga kerja yang dieksploitasi, tetapi juga keinginan, perhatian, dan psikis. Krisis yang dialami juga lebih kompleks, bukan hanya krisis atas tubuh, tetapi juga krisis spiritual dan psikis.
Para pekerja dan konsumen bukan hanya kehilangan savoir-faire, melainkan juga savoir-vivre (pengetahuan untuk hidup) dan savoir-penser (pengetahuan untuk berpikir) (Stiegler, 2010: 176-180). Pengetahuan untuk hidup merupakan kemampuan manusia untuk membentuk cara hidup yang bermakna secara sosial, kultural, dan etis. Kemampuan ini penting bagi manusia dalam membentuk gaya hidup, memberi makna pada kehidupan, berpartisipasi dalam tradisi-kebudayaan, dan membangun relasi sosial yang stabil. Singkatnya, savoir-vivre adalah pengetahuan tentang bagaimana hidup sebagai manusia dalam suatu komunitas.
Kapitalisme hiper-industri menggerus kemampuan tersebut. Pengetahuan yang semula diarahkan untuk mengelola energi hasrat demi pembentukan kehidupan yang kreatif dan berjangka panjang, kini kehilangan arah. Kita menjalani hidup untuk mengikuti gaya hidup konsumeris yang instan, berubah-ubah, dan berjangka pendek. Identitas budaya mendangkal, keinginan manusia menjadi seragam menurut tren, dan semakin sukar bagi suatu komunitas untuk membentuk cara hidupnya sendiri.
Sedangkan ‘pengetahuan untuk berpikir’ adalah kemampuan intelek untuk berefleksi secara kritis, menilai sebelum memutuskan, memahami makna pengalaman hidup, dan akhirnya membentuk pengetahuan. Keempat unsur ini hanya dapat terbentuk secara kultural dalam suatu komunitas yang sehat. Sebenarnya teknologi berperan penting dalam mengembangkan kemampuan berpikir. Ilmu pengetahuan mustahil berkembang dan tersebar tanpa adanya tulisan, buku, arsip, dan media digital. Misalnya teknik alfabet mengembangkan filsafat Yunani, percetakan membantu kelahiran modernitas, dan media digital melahirkan masyarakat kontemporer.
Namun secara farmakologis, teknologi juga berbahaya bagi berpikir. Teknologi digital dengan sistem algoritmanya juga mengondisikan manusia menjadi pasif secara intelektual. Manusia tidak lagi memutuskan setelah melalui proses berpikir yang reflektif-kritis, tetapi sekadar mengikuti opini dan iklan yang ditawarkan media. Proses berpikir sudah diserahkan kepada sistem teknis-algoritmis. Propaganda, populisme, dan manipulasi media menjadi makanan intelek sehari-hari.
c) Ekonomi yang Kehilangan Akar
Masyarakat modern memang menyediakan teknologi komunikasi dan transportasi yang memudahkan hubungan antar manusia; teknologi kesehatan yang memperbesar peluang hidup; dan fasilitas pendidikan yang semakin tersebar. Tetapi di dalam teknologi-teknologi tersebut, disediakan juga berbagai tawaran instan berkaitan dengan gaya hidup dan tren. Seluruh produk kapitalisme ini dapat menjerumuskan umat manusia ke dalam kerangkeng rutinitas harian untuk bekerja dan mengonsumsi. Ini semua bisa terjadi karena industri pemasaran dan media memprogram keinginan manusia melalui teknologi komunikasi.
Ketiga pengetahuan tersebut berkaitan erat dengan ekonomi. Kita tentu akrab dengan kata ekonomi, suatu tindakan khas manusia dalam tata kelola rumah tangga atau habitat tempat tinggal (oikos dan nomos). Bagi Stiegler (2010: 181-185), ekonomi yang sejati berarti pengelolaan kehidupan bersama dengan prinsip perawatan (prendre soan; care). Namun ekonomi semakin kehilangan akar asalinya. Kapitalisme finansial modern berfokus pada mengejar keuntungan jangka pendek, dengan mengabaikan keberlanjutan kehidupan psikis dan sosial. Perawatan tidak menjadi dimensi penting dari kapitalisme.
Mungkinkah kita masih bisa menemukan suatu masyarakat yang mendudukkan perawatan sebagai dimensi penting dalam tata ekonominya? Hanya masyarakat yang tidak hidup dalam kerangka kapitalisme hiper-industri, yang tidak terjebak dalam kerangka tunggal konsumeris. Mereka tidak harus bekerja untuk membeli atau membeli agar kuat bekerja lagi. Ini hanya mungkin apabila setiap anggota komunitas terlibat aktif dalam pembentukan pengetahuan untuk memproduksi, untuk merawat kehidupan, dan untuk berpikir. Barangkali bisa dikatakan, kita masih menemukan hanya dalam komunitas-komunitas lokal-tradisional.
d) Tiga Batasan Kapitalisme Hiper-Industri
Bagi Stiegler, ekonomi yang tidak lagi merawat hidup menemui tiga batasan struktural. Dengan mengeksploitasi alam tanpa batas, kapitalisme memiliki batas ekologis (Stiegler, 2010: 186-190) yang menghasilkan krisis lingkungan, menghancurkan ekosistem, dan mengancam keberlanjutan kehidupan. Ini adalah batasan material dari sistem ekonomi. Artinya tanpa daya dukung ekologis, ekonomi pada akhirnya akan runtuh.
Batasan kedua dari kapitalisme adalah batas psikis (Stiegler, 2010: 190-197). Melalui televisi, iklan, media digital, dan industri hiburan, masyarakat modern menikmati ketersebaran informasi yang masih dan tidak pernah ada dalam periode sejarah sebelumnya. Kita juga disuguhkan sarana-sarana rekreatif yang membuat kita lupa dari tekanan pekerjaan saban hari. Tetapi produk-produk tersebut sekaligus mengkolonisasi perhatian manusia. Keinginan setiap orang dimanipulasi dalam industri digital. Perhatiannya dijadikan komoditas demi ad sense. Akibatnya, kapasitas individu untuk berefleksi dan berimajinasi mengalami kehancuran. Dalam negara-negara kapitalistik yang dianggap maju, tidak sulit kita temukan peningkatan depresi, hilangnya makna hidup, perilaku konsumsi yang kekanak-kanakan (infantilization of consumers).
Untuk menggerakkan konsumsi, kapitalisme mengeksploitasi energi libidinal manusia (hasrat). Hasrat ini sebenarnya merupakan energi bagi kreativitas dan antusiasme. Namun karena eksploitasi terus-menerus terhadap hasrat, kapitalisme menemui batas sosial-libidinal (Stiegler, 2010: 197-202). Industri yang memanipulasi hasrat justru menghancurkan kemampuan manusia untuk menghasrati sesuatu. Sebab ketika individu digiring untuk mengonsumsi apa pun tanpa kesadaran penuh, ia akan mengkonsumsi demi konsumsi itu sendiri. Ia tidak lagi bertanya tujuan dari membeli sesuatu. Hasrat untuk mengonsumsi menjadi tujuan pada dirinya sendiri dan dalam konsumsi seseorang mendefinisikan dirinya. Akibatnya, ia mengalami krisis eksistensial.
Bagi Stiegler, masyarakat kapitalis hiper-industri memasuki krisis perhatian. Ekonomi tidak lagi menjadi pengelolaan kehidupan secara integral, tetapi sekadar pengelolaan perhatian. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi media yang beroperasi dengan menangkap perhatian setiap orang, memprogram perilakunya, dan dengan itu menciptakan konsumen yang pasif. Karena operasi ini bersifat massif, maka ekonomi perhatian ini melahirkan proletariat libidinal (Stiegler, 202-205), yaitu kondisi masyarakat konsumen yang kehilangan kontrol atas keinginannya sendiri. Di mana perhatian bebas dan sadar lenyap, di situ keinginan tidak lagi organis dan menjadi mekanistik.
e) Bukan Deaktivasi, melainkan Reorganisasi
Bernard Stiegler tidak bermaksud mendorong sikap anti-teknologi. Karakter farmakologis dari pemikirannya tidak mendorong ke arah itu. Teknik, baginya, tidak pernah terlepas dari proses individuasi manusia (Stiegler, 2010: 171-174). Bukan hanya manusia yang menemukan teknologi. Sebaliknya juga terjadi, manusia menemukan dirinya dalam teknologi.
Manusia mengingat pengalaman yang sedang berlangsung (rétention primaire) dan menyimpan pengalaman yang sudah berlalu dalam memorinya (rétention secondaire). Tetapi otak tidak cukup menampung semuanya. Memori perlu dieksternalisasi ke dalam teknologi penyimpanan yang disebut penyimpanan tersier (rétention tertiaire). Seluruh pengetahuan sejarah manusia dan alam masih dapat kita akses karena tersimpan dalam penyimpanan tersier tersebut.
Kita perlu mengakui karakter ‘obat’ teknologi dalam memperluas pengetahuan dan kreativitas, termasuk dalam mengatasi persoalan iklim. Walaupun kita juga mesti mewaspadai ‘racun’ dalam teknologi ketika ia mengontrol perhatian dan menggerus kemampuan merawat. Demikian juga ekonomi dapat menjadi ungkapan energi hasrat manusia. Tetapi manipulasi hasrat untuk mengonsumsi terus-menerus akan menggerus energi hasrat kolektif suatu masyarakat. Masyarakat yang konsumtif melulu biasanya kehilangan motivasi untuk berkreasi, kohesi sosial melemah, dan ekonomi malah tidak stabil.
Stiegler rupanya menjauhi simplifikasi, yakni mendorong sikap anti-teknologi dan ekonomi modern. Ia lebih mendorong pada upaya reorganisasi ekonomi dan teknologi. Karena teknologi dan ekonomi adalah farmakon, maka dampaknya bergantung pada cara pengorganisasian secara sosial dan politik.
Antitesis terhadap kapitalisme konsumeris bagi Stiegler (2010: 205-210) adalah ekonomi kontribusi (l’économie de la contribution). Jika kapitalisme hiper-industri didasarkan pada produksi massal, konsumsi pasif, dan manipulasi perhatian, maka ekonomi baru harus membuka seluas mungkin partisipasi aktif bagi setiap individu dalam memproduksi pengetahuan, kebudayaan, dan inovasi teknologi. Ini berarti mesti terjadi suatu kesinambungan antara sistem politik (di mana setiap orang bisa berkontribusi aktif) dan sistem ekonomi (yang mengarahkan energi libidinal pada inovasi kreatif dan konsumsi sewajarnya).
Ekonomi kontributif bukan mengenyahkan unsur-unsur positif dari ekonomi modern tetapi lebih bersifat rekuperatif, yakni memulihkan kemampuan manusia untuk berkarya, hidup, dan berpikir. Dalam ekonomi baru ini, produsen bisa menjadi inovator dan konsumen sekaligus. Ini hanya terjadi jika dalam ekonomi baru tersebut, sistem teknik selaras dengan sistem sosial (Stiegler, 2010: 205). Partisipasi terbuka dan aktif setiap warga menjadi tolok ukur bagi setiap pengembangan pengetahuan dan penerapannya melalui produk-produk teknis.
f) Konsekuensi Farmakon bagi Alam
Sebagaimana proses individuasi manusia saling mencerap dengan sejarah teknologi, demikian juga kebudayaan tidak mungkin terpisah dari alam. Konsisten pada pandangan Stigler tersebut, kita bisa mengatakan bahwa persoalan alam adalah cerminan dari persoalan manusia. Kerusakan alam menggerus kemampuan manusia untuk memproduksi pengetahuan untuk berkarya, bermakna, dan berefleksi. Sebaliknya hilangnya ketiga pengetahuan insani tersebut akan berakibat pada semakin hancurnya alam.
Inti farmakon berakar dari kondisi manusia sendiri yang berayun di antara kecenderungan merusak dan merawat; di antara daging dan roh; di antara kejahatan dan kebaikan. Kesadaran akan ketegangan dua sisi kemanusiaan ini penting dalam menyikapi kerusakan ekologis. Solusinya bukan dengan melakukan deaktivasi total teknologi, juga bukan dengan percaya buta pada kecanggihan teknologi. Namun sikap filosofis yang tepat adalah mengorganisir penerapan teknologi melalui mekanisme sosial-politik secara kolektif.
Dorongan untuk beralih kepada kendaraan listrik tidak akan berhasil menurunkan emisi jika tidak berkembang menjadi transformasi dari transportasi privat ke publik. Energi terbarukan tidak akan mengatasi perubahan iklim jika proses inisiasi dan tata kelolanya tidak melibatkan pengetahuan dan kerelaan masyarakat di sekitarnya. Di sini komitmen individu tidak cukup. Kita membutuhkan lebih dari inisiatif-inisiatif pribadi, yakni partisipasi, kontribusi, dan perawatan yang sifatnya kolektif. Politik menjadi penting untuk membentuk kesepakatan dan keputusan kolektif macam ini.
Namun jika masih konsisten dengan karakter farmakon yang tak terelakkan dari setiap produk insani, maka sebenarnya suatu ekonomi baru tidak bakal menjadi kemanfaatan murni dan final. Obat baru akan mengatasi penyakit lama, tetapi juga disertai racun baru. Dengan kata lain, argumen-argumen filosofis Stiegler tidak bermaksud mengajukan solusi final. Justru kita harus mencurigai setiap tendensi untuk menyelesaikan kerusakan ekologis dengan strategi satu kali untuk selamanya.
Farmakologi ekonomi mengingatkan kita, bahwa upaya menciptakan tata ekosistem yang bertumpu pada perawatan akan menjadi perjuangan tanpa akhir. Sejarah ekonomi yang satu dipulihkan oleh perbaikan selanjutnya, lalu perbaikan akan merosot menjadi kerusakan, lantas dipulihkan kembali, dan demikian seterusnya. Merawat alam yang melibatkan pendekatan teknis, etis, dan reflektif ini mesti berlangsung terus sampai diujung zaman. Sebaliknya eksploitasi hasrat konsumsi dalam ekonomi akan menarik akhir zaman datang lebih cepat.***