«Vox populi vox dei»
Dewa-dewa disanjung-sanjung bukan karena kebaikannya pada manusia. Bencana alam tetap terjadi sekalipun sembahyang dilakukan setiap hari. Tetapi tidak pernah terjadi sembahyang dihentikan. Terlebih lagi ketika panen raya melimpah, sembahyang semakin meriah. Manusia-manusia sebenarnya tidak menyembah dewanya karena doanya selalu dikabulkan, tetapi karena dewa dipercaya dan dianggap berbaik hati pada mereka. Kisah dewa-dewa tidak pertama-tama memenangkan pikiran manusia, tetapi memenangkan hatinya.
Keyakinan akan kebaikan hati dewa memabukkan mereka. Mantra-mantra dan kidung-kidung untuk dewa membuat manusia mengalami ekstasis dan mabuk kepayang. Menari-menari agar sebagian beban hidup bisa dilepaskan. Di mana ada kumpulan manusia yang mabuk kepayang dan meracau karena keyakinan, di situ dewa sedang bersuara. Di mana ada kumpulan manusia yang membutuhkan, di situ suara rakyat memanggil-manggil dewa. Akumulasi suara rakyat karena efek suara ilahi bukanlah suara bernalar belaka. Tidak. Itu terutama adalah persepsi emosional dan perasaan.
Dan kalau rakyat sudah mengumpulkan suaranya, tidak banyak suara orang-orang cerdas yang akan didengarkan. Orang-orang ini tidak akan bisa mengalahkan dewa yang telah memabukkan rakyat. Suara mereka terlalu kecil di hadapan riuhnya suara rakyat yang memuji-muji kebaikan dewa. Keinginan untuk mencapai suara kolektif yang rasional dari kebebasan setiap orang dalam memberikan suaranya adalah ilusi. Kumpulan suara adalah kumpulan persepsi dan bukan totalitas nalar.
Setiap kali orang-orang cerdas memuji demokrasi layaknya «sistem pemerintahan dewata» sering itu berakhir dengan kekecewaan. Mereka ingin rakyat memilih dengan bobot nalar semakin besar daripada perasaan sementara suara mereka hanya bergema di kampus dan mimbar-mimbar akademis. Kegeraman nalar terhadap pelanggaran konstitusi tidak menarik bagi rakyat yang kekurangan pangan. Ini seperti suara yang tidak berdaya ilahi, tidak memenangkan hati, apalagi memenangkan nalar rakyat.
Diskusi-diskusi mereka soal deliberasi kandas oleh kebiasaan «musyawarah mencapai mufakat» dari orang-orang kampung: Mereka memaklumi dan menyepakati anak kepala desa meneruskan bapaknya asalkan apa yang sudah baik di desanya bisa diteruskan dan dikembangkan. Isi nalarmu tidak akan bisa merubah kebiasaan kampung yang tetap tercermin dalam kebiasaan Pemilu. Tak perlu omong «kamu percaya suara saya segitu» kalau caramu tidak memenangkan hati sebagian besar rakyat.
Kumpulan rakyat yang setiap hari membanting tulang untuk bertahan hidup dan tidak sempat memikirkan kebutuhan puncak Abraham Maslow tidak akan peduli cara untuk mencapai tujuan. Asalkan mereka bisa makan, mereka rela bekerja apapun. Bagi mereka yang sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya, dengan menggurui akan bisa berdakwah: Tujuan tidak menghalalkan segala cara. Bagi rakyat yang terdesak, tujuan yang akan menghalalkan segala cara. Silahkan diuji coba pada kaum cerdas: Minta mereka tidak makan hampir satu hari, sita dompet mereka, matikan AC di ruang kerja, dan ambil kunci kendaraan mereka, lalu minta untuk membaca teori Keadilan John Rawls. Kita akan lihat, apakah liur mereka tidak mengendap di balik gigi ketika mencium aroma rumah makan Padang.
Demokrasi adalah alun-alun tempat rakyat mabuk kepayang. Mereka mabuk oleh pemenuhan kebutuhan dasar kalau memang taraf hidup mereka masih di tingkat kebutuhan dasar. Mereka akan berkontemplasi akan hal-hal teoritis dan etika dasar kalau mereka sudah aman dengan kebutuhan dasar dan, seperti orang-orang cerdas, merasa saatnya untuk memberi makan pikiran.
Orang-orang cerdas tidak akan mabuk oleh bendungan, oleh bantuan sosial, oleh jalan tani, oleh bantuan jaminan kesehatan, karena mereka sudah melewati itu semua. Jangan anggap hanya rakyat melarat yang sekedar dimabukkan oleh dewa. Mereka sedang mabuk dewa kesuburan dan kemakmuran. Dan orang-orang cerdas sedang mabuk dewa pengetahuan. Kritik dulu posisi elit-intelektual yang berjarak dari perasaan rakyat yang tidak tersentuh oleh nalar kritis. Barangsiapa tahu cara memenangkan hati rakyat, suaranya akan menjadi ilahi. ***